Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4878 tentang Azab bagi penggunjing dan pencela kehormatan orang lain

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya ghibah (menggunjing). Dalam perjalanan Isra' Mi'raj, beliau diperlihatkan azab bagi para penggunjing: mereka digaruk wajah dan dadanya dengan kuku tembaga. Ini menunjukkan bahwa ghibah adalah dosa besar yang sangat dibenci Allah, karena ia merobek kehormatan seseorang sebagaimana kuku tembaga merobek kulit. Kita harus sangat berhati-hati menjaga lisan dari perbuatan yang tampak ringan namun berat timbangannya di akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan, dengan sanad lengkap):

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُصَفَّى، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، وَأَبُو الْمُغِيرَةِ، قَالاَ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ، قَالَ حَدَّثَنِي رَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جُبَيْرٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ فَقُلْتُ مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيلُ قَالَ هَؤُلاَءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ "

Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat [49]: 12)

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Abu Dawud (pengarang kitab Sunan) menempatkan hadits ini dalam Kitab Akhlak, Bab Tentang Ghibah, menunjukkan bahwa ini adalah pembahasan penting dalam adab dan akhlak seorang muslim.
  • Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ghibah termasuk dosa besar yang berkaitan dengan hak sesama manusia (haqq adami), yang tidak diampuni kecuali setelah orang yang digunjing memaafkannya.
  • Imam an-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin dan Al-Adzkar menegaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudaranya yang ia benci, baik itu berkaitan dengan fisik, agama, dunia, atau akhlaknya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan dengan sangat jelas betapa buruknya dosa ghibah di sisi Allah. Beberapa pelajaran penting:

1. Ghibah adalah "memakan daging manusia"

Allah sendiri yang menyerupakan ghibah dengan memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Ini adalah gambaran yang sangat menjijikkan. Ketika seseorang menggunjing, ia seperti sedang merobek-robek kehormatan saudaranya yang tidak hadir, sebagaimana memakan bangkai yang busuk.

2. Azab yang digambarkan dalam hadits

Nabi ﷺ melihat orang-orang yang menggaruk wajah dan dada mereka dengan kuku tembaga. Ini adalah balasan yang setimpal: karena di dunia mereka "merobek" kehormatan orang lain dengan lisan mereka, maka di akhirat mereka akan merobek wajah dan dada mereka sendiri dengan kuku yang menyakitkan. Ini menunjukkan keadilan Allah yang Maha Bijaksana.

3. Ghibah termasuk dosa besar

Para ulama dari kalangan salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sa'id bin al-Musayyib menegaskan bahwa ghibah termasuk dosa besar. Bahkan Imam adz-Dzahabi dalam Al-Kaba'ir (Dosa-dosa Besar) memasukkan ghibah sebagai salah satu dosa besar yang harus dijauhi.

4. Perbedaan antara ghibah dan kritik yang dibolehkan

Para ulama menjelaskan bahwa ghibah yang diharamkan adalah menyebutkan aib seseorang yang ia benci, meskipun itu benar. Adapun jika bertujuan untuk kemaslahatan seperti memperingatkan dari keburukan seseorang (jarh wa ta'dil dalam ilmu hadits), meminta fatwa, atau menolong orang yang terzalimi, maka itu dibolehkan. Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa ghibah dibolehkan dalam enam keadaan: mengadu kepada penguasa, meminta fatwa, memperingatkan kaum muslimin dari kejahatan, menampakkan kefasikan, meminta bantuan mengubah kemungkaran, dan untuk tujuan pernikahan atau muamalah.

5. Taubat dari ghibah

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa taubat dari ghibah mensyaratkan tiga hal: (1) menyesali perbuatan, (2) berhenti melakukannya, dan (3) bertekad tidak mengulanginya. Adapun apakah harus meminta maaf kepada orang yang digunjing, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib meminta maaf, sebagian lain mengatakan cukup dengan mendoakan kebaikan untuknya dan menyebut kebaikannya di hadapan orang-orang yang mendengar ghibah tersebut. Pendapat yang lebih hati-hati adalah meminta maaf jika memungkinkan tanpa menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri — seorang ulama tabi'in yang sangat zuhud — pernah ditanya tentang ghibah. Beliau berkata: "Wahai anak Adam, sesungguhnya ghibah itu lebih cepat merusak agama seseorang daripada penyakit yang merusak tubuhnya. Ghibah itu seperti api yang memakan kayu bakar; ia menghanguskan amal kebaikan sebagaimana api menghanguskan kayu."

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Mujahid bin Jabr — murid Ibnu Abbas — berkata: "Orang yang menggunjing itu seperti orang yang memanah; jika ia tidak mengenai sasaran, maka panahnya akan kembali kepadanya." Ini adalah perumpamaan yang sangat dalam: perkataan buruk yang dilontarkan akan kembali menjadi keburukan bagi dirinya sendiri.

Kisah lain yang sangat terkenal: Seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, apa itu ghibah?" Beliau menjawab: "Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia benci." Orang itu bertanya lagi: "Bagaimana jika apa yang aku katakan itu benar adanya?" Beliau bersabda: "Jika benar, maka engkau telah menggunjingnya. Jika tidak benar, maka engkau telah berdusta atas namanya." (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa ghibah tetap haram meskipun apa yang kita katakan itu benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan kita — sebelum berbicara tentang orang lain, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini perlu? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan menyakiti orang lain?
  2. Jika mendengar ghibah, jangan ikut serta — coba alihkan pembicaraan atau tinggalkan majelis tersebut. Allah berfirman: "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya." (QS. Al-Qashash [28]: 55)
  3. Jika kita pernah berghibah, segera bertaubat — perbanyak istighfar, doakan kebaikan untuk orang yang pernah kita gunjing, dan jika memungkinkan, perbaiki hubungan dengan meminta maaf.
  4. Isi majelis dengan dzikir dan kebaikan — karena lisan yang sibuk dengan kebaikan akan terhindar dari keburukan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?