Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4872 tentang Larangan berwajah dua atau bermuka dua

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menerangkan bahwa termasuk manusia paling buruk adalah orang yang bermuka dua: ia datang kepada satu kelompok dengan wajah/sikap tertentu, lalu datang kepada kelompok lain dengan wajah/sikap berbeda, demi mencari keuntungan dan menyenangkan semua pihak dengan cara yang batil. Perlu dicatat, terjemahan yang Anda sertakan tampaknya keliru: teks hadits berbunyi "مِنْ شَرِّ النَّاسِ" (seburuk-buruk manusia), bukan "sebaik-baik manusia". Sikap ini dilarang karena mengandung kedustaan, kemunafikan, dan merusak kepercayaan antar manusia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab tentang orang yang berwajah dua, dari jalur Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui Sufyan (yaitu Sufyan bin 'Uyainah, salah satu ulama dalam daftar), dari Abu az-Zinad, dari Al-A'raj.

Teks hadits:

مِنْ شَرِّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

Terjemahan: "Termasuk seburuk-buruk manusia adalah orang yang berwajah dua; ia mendatangi orang-orang ini dengan satu wajah dan orang-orang itu dengan wajah yang lain."

Hadits senada juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafaz yang semakna, dan Imam an-Nawawi menyebutkannya dalam Riyadh ash-Shalihin serta menjelaskannya dalam Syarh Shahih Muslim. Ibnu Hajar al-Asqalani membahasnya dalam Fath al-Bari, dan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam ketika membahas bahaya lisan dan kemunafikan.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan larangan bermuka dua dan berkata berbeda antara satu dengan yang lain:

QS. Al-Baqarah [2]: 14

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Terjemahan: "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: 'Kami telah beriman.' Tetapi apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka berkata: 'Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.'"

Ayat ini menggambarkan sifat orang munafik yang menampakkan satu wajah kepada kaum mukminin dan wajah lain kepada kawan-kawan mereka. Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa ini adalah sifat kemunafikan yang paling jelas, dan As-Sa'di menegaskan bahwa ini termasuk bentuk kebohongan dan pengkhianatan terhadap kaum mukminin.

Penjelasan Rinci

Makna hadits ini menurut para ulama dalam daftar:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dzul wajhain (orang berwajah dua) adalah orang yang datang kepada suatu kaum dengan menampakkan kesetiaan dan persahabatan, lalu datang kepada musuh-musuh mereka dengan menampakkan hal yang sama, sehingga ia menyenangkan kedua pihak dengan cara yang penuh kedustaan. Beliau menyebutkan bahwa ini termasuk sifat munafik yang diharamkan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menerangkan bahwa hadits ini menunjukkan keharaman bermuka dua, karena di dalamnya terdapat unsur ghisy (penipuan), kidzb (dusta), dan nifaq (kemunafikan). Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama membedakan antara bermuka dua dalam hal yang batil (yang diharamkan) dengan mudarah (menyenangkan hati orang) dalam hal yang mubah untuk menghindari fitnah — yang terakhir ini dibolehkan selama tidak mengandung kedustaan dan tidak menzhalimi pihak lain.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa hadits ini termasuk ancaman keras terhadap orang yang memainkan dua wajah demi kepentingan duniawi, karena ia merusak tatanan sosial dan menanam benih permusuhan di antara manusia.

Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa kemunafikan amali (perbuatan) seperti bermuka dua adalah pintu menuju kemunafikan i'tiqadi (keyakinan), dan bahwa hati yang sehat tidak akan sanggup memelihara dua wajah yang saling bertentangan.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menegaskan bahwa sikap ini bertentangan dengan kejujuran dan amanah yang menjadi pokok akhlak Islam.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar: sebagian membolehkan mudarah (bersikap lembut) kepada dua pihak yang berselisih selama tidak mengandung kedustaan dan tidak menjatuhkan pihak lain — ini disebutkan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi. Namun yang diharamkan secara tegas adalah menampakkan dua sikap yang saling bertentangan dengan kedustaan demi keuntungan pribadi. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur: bermuka dua dengan kedustaan hukumnya haram, sedangkan mudarah yang jujur dan tidak menzhalimi dibolehkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri رحمه الله, salah satu tabi'in dalam daftar, pernah ditanya tentang orang yang bermuka dua. Beliau menjawab dengan makna: "Ia adalah orang yang bertemu engkau dengan wajah yang berbeda dari wajahnya ketika bertemu orang lain; ia memuji engkau di hadapanmu dan mencela engkau di belakangmu." (Makna ini disebutkan dalam riwayat-riwayat akhlak salaf, dan Al-Bukhari menyebutkan atsar semakna dalam Al-Adab al-Mufrad).

Hikmahnya: seorang mukmin sejati adalah orang yang satu wajah, satu lisan, dan satu hati — jujur kepada semua orang, tidak menipu, dan tidak memainkan dua peran demi keuntungan duniawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi bermuka dua: jangan menampakkan sikap berbeda kepada dua pihak yang berselisih dengan cara berdusta.
  2. Jujurlah dalam bertutur: satu ucapan untuk semua orang, tidak memuji di depan dan mencela di belakang.
  3. Bedakan antara mudarah dan nifaq: menyenangkan hati orang dengan kejujuran dibolehkan; menipu dengan dua wajah diharamkan.
  4. Jaga amanah dan kepercayaan: rusaknya kepercayaan antar manusia adalah akibat buruk dari sikap ini.
  5. Perbaiki niat: luruskan tujuan hanya untuk ridha Allah, bukan untuk menyenangkan semua pihak dengan cara batil.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?