Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4863 tentang Cara berjalan Nabi yang membungkuk ke depan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan cara berjalan Nabi ﷺ yang menunjukkan keteguhan, kesungguhan, dan tidak berlebih-lebihan. Beliau berjalan dengan langkah yang mantap dan badan sedikit condong ke depan, seakan-akan sedang menuruni jalan yang agak menurun. Ini adalah bagian dari akhlak dan penampilan beliau yang agung, yang menunjukkan kekuatan fisik dan kesungguhan dalam setiap langkah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Dalam Cara Berjalan Seorang Pria", no. 4863, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Lafaz haditsnya:

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ، أَخْبَرَنَا خَالِدٌ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا مَشَى كَأَنَّهُ يَتَوَكَّأُ

Maknanya: "Anas berkata: 'Ketika Nabi ﷺ berjalan, tampak seolah-olah beliau membungkuk ke depan.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud "يَتَوَكَّأُ" di sini adalah condong ke depan dengan ringan, bukan berjalan dengan sombong atau lamban.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menggambarkan cara berjalan Nabi ﷺ yang penuh makna:

  1. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah menyebutkan bahwa hadits ini shahih dan menjelaskan bahwa cara berjalan Nabi ﷺ adalah langkah yang tegap, cepat, dan penuh semangat, tidak seperti orang yang berjalan dengan malas atau berlagak.
  2. Imam Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad meriwayatkan hadits serupa dari Anas bin Malik yang menggambarkan bahwa Nabi ﷺ berjalan dengan langkah yang mantap dan tidak berlebih-lebihan.
  3. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa sifat berjalan Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang kuat dan bersemangat, tidak lemah dan tidak pula sombong dalam berjalan.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam menjelaskan adab berjalan menyebutkan bahwa seorang mukmin hendaknya berjalan dengan sikap yang menunjukkan ketenangan, tidak tergesa-gesa tanpa tujuan, dan tidak pula berjalan dengan sombong.

Para ulama juga mengaitkan hadits ini dengan firman Allah dalam QS. Luqman [31]: 18-19:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."

Cara berjalan Nabi ﷺ adalah perwujudan dari perintah Allah untuk bersikap sederhana dalam berjalan - tidak sombong, tidak lamban, dan tidak pula berlebihan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika para sahabat melihat Nabi ﷺ berjalan, mereka merasakan kekuatan dan keteguhan. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menggambarkan bahwa beliau ﷺ seakan-akan berjalan di tempat yang menurun, karena condongnya badan beliau ke depan dengan semangat.

Suatu ketika, seorang Badui datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang Islam. Nabi ﷺ menjawab dengan tenang dan penuh hikmah. Setelah berbincang, orang Badui itu memperhatikan cara Nabi ﷺ berjalan ketika beliau bangkit untuk suatu keperluan. Ia melihat keteguhan dan kekuatan yang terpancar dari langkah-langkah beliau, sehingga ia pun kagum dan kemudian memeluk Islam dengan kesungguhan.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa penampilan dan cara berjalan seorang mukmin mencerminkan keimanannya. Keteguhan langkah menunjukkan keteguhan hati, dan kesederhanaan dalam berjalan menunjukkan kerendahan hati.

Kesimpulan Praktis

Beberapa pelajaran yang bisa kita amalkan:

  1. Berjalan dengan tegak dan mantap - tidak berjalan dengan malas atau lunglai, karena itu mencerminkan semangat dan kejujuran hati.
  2. Tidak sombong dalam berjalan - jangan berjalan dengan angkuh, membusungkan dada, atau memandang rendah orang lain.
  3. Tidak berlebihan dalam berjalan - jangan tergesa-gesa tanpa tujuan, dan jangan pula terlalu lamban sehingga membuang waktu.
  4. Meneladani Nabi ﷺ dalam seluruh gerak-gerik - karena setiap perilaku beliau adalah contoh terbaik bagi umatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?