Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bahwa Qailah binti Makhramah radhiyallahu 'anha pernah melihat Nabi ﷺ duduk dalam posisi al-qurfushâ' — yaitu duduk merendah dengan menekuk kedua kaki dan memeluk lutut — dan beliau tampak sangat tawadhu' dalam duduknya, sehingga Qailah bergetar karena rasa hormat dan kagum. Hadits ini menunjukkan keutamaan sifat rendah hati (tawadhu') dan adab duduk yang bisa dilakukan seorang pemimpin di hadapan orang banyak.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Furqan [25]: 63
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."
(QS. Al-Furqan [25]: 63)
Ayat ini dipahami oleh para ulama — di antaranya Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya — sebagai gambaran sifat hamba-hamba Allah yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati (tawadhu'), tidak sombong, dan tidak angkuh. Sikap rendah hati inilah yang tampak pada cara duduk Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud rahimahullah dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Duduknya Seorang Pria, nomor 4847. Perawi sahabatnya adalah Qailah binti Makhramah radhiyallahu 'anha.
Hadits pendukung tentang tawadhu' Nabi ﷺ juga disebutkan dalam riwayat yang menunjukkan beliau melarang seseorang berdiri untuk menghormatinya secara berlebihan, dan beliau sendiri duduk seperti seorang hamba biasa. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tawadhu' adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara bahasa dan istilah:
Kata al-qurfushâ' (القُرْفُصَاء) dalam bahasa Arab berarti duduk dengan cara menekuk kedua kaki ke belakang lalu memeluknya dengan kedua tangan atau mendekatkan lutut ke perut — semacam duduk memeluk lutut. Ini adalah posisi duduk yang rendah dan sederhana, bukan posisi duduk orang yang sombong atau merasa tinggi.
Pemahaman ulama:
Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits ini dalam bab tentang adab duduk, menunjukkan bahwa cara duduk termasuk bagian dari adab yang diperhatikan dalam Islam. Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari ketika membahas adab duduk menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terkadang duduk dengan berbagai cara sesuai keadaan, dan beliau menjauhi duduk yang menunjukkan kesombongan.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa di antara kebiasaan duduk Nabi ﷺ adalah duduk tawadhu', dan beliau melarang duduk di tengah lingkaran tanpa alasan, serta membenci duduk seperti raja-raja yang berkuasa. Ini menunjukkan bahwa cara duduk mencerminkan keadaan hati.
Kisah Qailah binti Makhramah:
Qailah radhiyallahu 'anha adalah seorang sahabiyah dari kalangan wanita. Dalam hadits ini, kedua cucunya — Safiyyah dan Duhaybah — meriwayatkan dari beliau. Qailah menceritakan bahwa ketika ia melihat Nabi ﷺ duduk dalam keadaan al-qurfushâ' dan tampak sangat tawadhu' (المُتَخَشِّع — orang yang merendahkan diri), ia sampai bergetar karena al-faraq (rasa takut yang bercampur hormat dan kagum).
Ini menunjukkan betapa besar wibawa Nabi ﷺ di hati para sahabat, namun wibawa itu bukan karena beliau sombong atau menakutkan, melainkan justru karena beliau sangat rendah hati dan penyayang. Rasa getar Qailah adalah getar kekaguman dan penghormatan, bukan getar ketakutan terhadap orang yang angkuh.
Perbedaan riwayat:
Dalam sanad hadits ini terdapat dua versi lafazh: Hafsh bin Umar meriwayatkan al-mukhtasyi' (الْمُخْتَشِع) dan Musa bin Ismail meriwayatkan al-mutakhassyï' (الْمُتَخَشِّع). Keduanya memiliki makna yang berdekatan, yaitu orang yang merendahkan diri dan khusyu'. Ini adalah hal yang biasa dalam riwayat hadits, dan tidak mengurangi keabsahan hadits.
Kedudukan hadits:
Hadits ini hasan menurut sebagian ulama karena perawinya dari kalangan keluarga Qailah sendiri. Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkannya sebagai bagian dari adab-adab Nabi ﷺ. Syeikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan Shahih Sunan Abi Dawud menilai hadits ini hasan.
Story Telling
Diceritakan bahwa Qailah binti Makhramah radhiyallahu 'anha adalah seorang wanita yang datang kepada Nabi ﷺ untuk suatu keperluan. Ketika ia masuk dan melihat Rasulullah ﷺ sedang duduk dengan posisi yang sangat rendah — memeluk lutut sendiri seperti seorang hamba yang hina di hadapan Tuhannya — hatinya langsung bergetar hebat.
Ia bukan bergetar karena takut kepada manusia, tetapi karena melihat keagungan akhlak Nabi ﷺ yang begitu mulia namun begitu rendah hati. Bayangkan, seorang pemimpin umat, panglima perang, hakim agung, dan utusan Allah — namun duduknya seperti seorang fakir yang tidak punya apa-apa. Tidak ada singgasana, tidak ada kursi tinggi, tidak ada pamer kekuasaan.
Qailah pun menyimpan momen itu dalam hatinya dan menceritakannya kepada cucu-cucunya, hingga sampai kepada kita melalui Imam Abu Dawud rahimahullah. Inilah hikmahnya: akhlak yang mulia akan selalu dikenang dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Kesimpulan Praktis
- Tawadhu' adalah akhlak Nabi ﷺ — hendaknya kita meneladani beliau dengan tidak sombong dalam duduk, berbicara, maupun bersikap.
- Cara duduk mencerminkan isi hati — duduk yang rendah dan sederhana menunjukkan hati yang tidak takabbur.
- Hendaknya kita menghormati orang shalih dengan penuh adab — sebagaimana Qailah bergetar karena kagum kepada Nabi ﷺ, bukan karena takut yang berlebihan.
- Tidak duduk seperti raja-raja yang sombong — Ibn Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa Nabi ﷺ membenci duduk yang menyerupai penguasa zalim.
- Menyebarkan akhlak baik kepada keluarga — Qailah menceritakan pengalamannya kepada cucu-cucunya, ini adalah pendidikan akhlak dalam keluarga.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.