Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah pujian Nabi ﷺ kepada seorang sahabat bernama As-Sa'ib bin Abi As-Sa'ib Al-Makhzumi radhiyallahu 'anhu. Pujian tersebut karena akhlak mulia beliau dalam bermuamalah, yaitu tidak suka bertengkar (mira') dan tidak suka berdebat dengan cara yang buruk (midarah). Hadits ini mengajarkan kita bahwa akhlak yang tenang, menghindari pertengkaran, dan tidak memaksakan pendapat adalah sifat yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya, bahkan menjadi sebab seseorang disebut sebagai sebaik-baik teman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari As-Sa'ib bin Abi As-Sa'ib radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata: "Aku datang kepada Nabi ﷺ, lalu orang-orang mulai memujiku dan menyebut-nyebut kebaikanku. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku lebih tahu tentang dia (daripada kalian).' Aku (As-Sa'ib) berkata: 'Engkau benar, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Engkau adalah teman dagangku, dan sebaik-baik teman adalah engkau. Engkau tidak pernah berbantah (tumari) dan tidak pernah bertengkar (tudari).'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dengan lafaz yang serupa. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Al-Ishabah menyebutkan bahwa sanad hadits ini hasan.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang sifat orang-orang yang beriman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan [25]: 63)
Kaitan dengan Ulama:
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 463) dari jalan lain dengan makna yang serupa tentang larangan bertengkar. Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin (Bab Larangan Bertengkar dan Berdebat) membawakan hadits ini sebagai dalil utama.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran besar tentang adab bermuamalah dan akhlak mulia.
1. Makna "Tudari" dan "Tumari":
- Tudari (تُدَارِي) berasal dari kata mudarah (مُدَارَاة), artinya bersikap lembut dan tidak memancing permusuhan. Maknanya adalah tidak membalas keburukan dengan keburukan, atau tidak bersikap keras dalam pergaulan.
- Tumari (تُمَارِي) berasal dari kata mira' (مِرَاء), artinya berdebat, membantah, atau bertengkar untuk menjatuhkan pendapat orang lain.
Imam Al-Khathabi (salah satu pensyarah Sunan Abu Dawud) menjelaskan bahwa mira' adalah berdebat dengan cara yang buruk, sedangkan mudarah adalah sikap lembut dalam menghadapi orang lain. Keduanya adalah akhlak tercela jika dilakukan secara berlebihan.
2. Pujian Nabi ﷺ kepada As-Sa'ib:
Nabi ﷺ memuji As-Sa'ib karena beliau adalah teman dagang Nabi ﷺ sebelum kenabian. Dalam pergaulan dagang yang lama itu, As-Sa'ib tidak pernah berselisih atau bertengkar dengan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik dalam muamalah sehari-hari adalah bagian dari keimanan.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa sifat mudarah (tidak memancing pertengkaran) adalah bagian dari akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Beliau menukil perkataan sebagian ulama: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya dan paling sedikit pertengkarannya."
3. Larangan Bertengkar dalam Islam:
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar dan Riyadhush Shalihin membawakan hadits ini dalam bab larangan bertengkar. Beliau menjelaskan bahwa bertengkar (mira') adalah perbuatan yang dapat menghapus amal kebaikan, karena di dalamnya terdapat kesombongan dan keinginan untuk menjatuhkan orang lain.
Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa pertengkaran yang tercela adalah yang bertujuan untuk membatalkan kebenaran atau memenangkan hawa nafsu. Adapun berdebat untuk menegakkan kebenaran dengan cara yang baik, itu diperbolehkan bahkan dianjurkan jika dilakukan dengan ikhlas.
4. Penerapan dalam Kehidupan:
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk:
- Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat
- Bersikap lembut dalam menyampaikan kebenaran
- Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain
- Menjaga hubungan baik meskipun berbeda pendapat
Imam Asy-Syafi'i pernah berkata (sebagaimana dinukil oleh Al-Baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi'i): "Tidaklah seseorang berdebat dengan orang lain kecuali dia ingin menjatuhkannya. Dan barangsiapa ingin menjatuhkan orang lain, maka dia telah berbuat zhalim."
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal suatu hari didatangi oleh seseorang yang suka berdebat. Orang itu berkata: "Wahai Imam, aku ingin berdebat denganmu tentang suatu masalah." Maka Imam Ahmad menjawab dengan lembut: "Aku tidak suka berdebat. Jika engkau memiliki pertanyaan, aku akan menjawabnya dengan ilmu yang aku miliki. Adapun berdebat, maka itu bukanlah kebiasaanku."
Kemudian Imam Ahmad membacakan firman Allah:
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara yang paling baik." (QS. Al-'Ankabut [29]: 46)
Imam Ahmad berkata: "Jika Allah saja memerintahkan berdebat dengan cara yang baik kepada orang kafir, maka bagaimana lagi dengan sesama muslim? Hendaknya kita lebih utama dalam menjaga adab."
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa para ulama salaf sangat menjaga diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat. Mereka lebih memilih diam dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah daripada terlibat dalam pertengkaran yang merusak ukhuwah.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat — karena dapat memicu permusuhan dan menghilangkan keberkahan ilmu.
- Bersikap lembut dalam bermuamalah — seperti sifat As-Sa'ib yang dipuji Nabi ﷺ, yaitu tidak pernah bertengkar dan tidak memancing perselisihan.
- Jika berbeda pendapat, sampaikan dengan adab — gunakan dalil dan hujjah yang baik, bukan emosi dan keinginan untuk menang.
- Jadikan akhlak mulia sebagai prioritas — karena Nabi ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.
- Teladani sikap Nabi ﷺ dan para sahabat — yang lebih mengutamakan persatuan daripada kemenangan dalam perdebatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.