Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah wasiat agung dari Nabi ﷺ kepada para sahabatnya yang diutus untuk berdakwah dan menyampaikan urusan. Intinya, seorang muslim—terutama para dai dan pendidik—harus membawa kabar gembira, tidak menakut-nakuti, mempermudah, dan tidak mempersulit. Ini adalah prinsip besar dalam berdakwah dan bermuamalah yang diajarkan langsung oleh Baginda Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat yang Anda sebutkan):
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ جَدِّهِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ " بَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا "
Makna ringkas: Dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Adalah Rasulullah ﷺ apabila mengutus salah seorang sahabatnya untuk suatu urusan, beliau bersabda: 'Berilah kabar gembira dan jangan membuat lari (menakut-nakuti), permudahlah dan jangan mempersulit.'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan lafaz yang semakna. Dalam Shahih al-Bukhari, dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda kepada Mu'adz dan Abu Musa ketika mengutus keduanya ke Yaman:
يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا
"Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat lari, serta bersepakatlah dan jangan berselisih." (HR. Al-Bukhari, no. 3038)
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini mengandung perintah untuk menggunakan pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang dalam berdakwah, karena hal itu lebih efektif untuk menarik hati manusia kepada kebaikan daripada kekerasan dan sikap kaku.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini adalah kaidah besar dalam berdakwah dan mengajar, serta menjadi prinsip dalam seluruh aspek kehidupan seorang muslim.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mencakup banyak pelajaran. Mari kita bedah maknanya:
1. Makna "بَشِّرُوا" (Berilah kabar gembira)
Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya untuk menyampaikan kabar gembira. Ini berarti dakwah dan ajaran Islam harus disampaikan dengan nuansa optimisme, harapan, dan kegembiraan. Seorang muslim diajarkan untuk melihat rahmat Allah yang luas, pintu taubat yang terbuka, dan pahala yang besar bagi orang-orang yang beramal.
2. Makna "وَلاَ تُنَفِّرُوا" (Jangan membuat lari/menakut-nakuti)
Artinya, jangan sampai cara penyampaian kita membuat orang justru menjauh dari agama. Ini bisa terjadi jika kita terlalu fokus pada hal-hal yang menakutkan, menghakimi, atau menyampaikan dengan cara yang kasar dan keras. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menjelaskan bahwa menakut-nakuti di sini adalah membuat orang lari dari kebenaran karena sikap yang tidak bijaksana.
3. Makna "يَسِّرُوا" (Permudahlah)
Islam adalah agama yang mudah. Allah ﷻ berfirman:
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Dalam berdakwah dan mengajar, kita harus memperhatikan kondisi orang yang kita hadapi. Jangan membebani mereka dengan hal-hal yang di luar kemampuan mereka, baik dalam hal ibadah maupun pemahaman.
4. Makna "وَلاَ تُعَسِّرُوا" (Jangan mempersulit)
Ini adalah larangan untuk mempersulit. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa sikap tasydid (mempersulit) dalam agama adalah perbuatan yang tercela, karena Allah mengutus Nabi ﷺ dengan membawa ajaran yang hanif (lurus) dan mudah.
Penerapan para ulama:
- Imam asy-Syafi'i dikenal dengan sikapnya yang lembut dalam berdiskusi dan mengajar. Beliau selalu berusaha memahami sudut pandang lawan bicaranya sebelum memberikan bantahan.
- Imam Ahmad bin Hanbal terkenal dengan kelembutannya dalam menyampaikan ilmu. Beliau tidak pernah memaksa murid-muridnya untuk langsung menghafal banyak hal, tetapi membimbing mereka secara bertahap.
- Al-Hasan al-Bashri sering kali menasihati orang-orang dengan cara yang menyentuh hati, tidak dengan cara yang keras dan menghakimi, sehingga nasihatnya mudah diterima.
Perbedaan pendapat yang perlu dipahami:
Para ulama sepakat bahwa hadits ini adalah perintah untuk bersikap lembut dan mempermudah. Namun, perlu dipahami bahwa "mempermudah" di sini bukan berarti melonggarkan hukum-hukum syariat yang sudah tetap. Syeikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa yang dimaksud mempermudah adalah dalam hal-hal yang memang ada kelonggaran (rukhsah) atau dalam cara penyampaian dan pendekatan, bukan mengubah hukum Allah. Ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Story Telling
Ada kisah indah yang berkaitan dengan hadits ini. Ketika Nabi ﷺ mengutus Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy'ari ke Yaman, beliau memberikan wasiat yang sama seperti dalam hadits ini. Kemudian beliau bersabda kepada Mu'adz:
"Dan hati-hatilah, jangan sampai engkau mempersulit. Sesungguhnya Allah mengutusku dengan membawa ajaran yang mudah." (HR. Al-Bukhari)
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu adalah seorang ulama besar di kalangan sahabat. Namun, ketika beliau diutus ke Yaman, beliau tetap mengikuti wasiat Nabi ﷺ ini. Beliau berdakwah dengan penuh kelembutan, mengajarkan tauhid terlebih dahulu, kemudian shalat, zakat, dan seterusnya secara bertahap. Hasilnya, banyak penduduk Yaman yang masuk Islam dengan sukarela dan penuh kecintaan.
Hikmah dari kisah ini: Dakwah yang lembut dan bertahap akan lebih membekas di hati daripada dakwah yang keras dan memaksakan. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, terutama para pendidik dan dai.
Kesimpulan Praktis
- Dalam berdakwah dan mengajar, sampaikan dengan cara yang menyenangkan, penuh harapan, dan tidak menakut-nakuti.
- Perhatikan kondisi orang yang kita hadapi. Jangan membebani mereka dengan hal-hal yang belum mampu mereka lakukan.
- Gunakan pendekatan bertahap, sebagaimana para sahabat dan ulama salaf melakukannya.
- Hindari sikap keras dan kaku dalam menyampaikan kebenaran, karena itu justru akan membuat orang menjauh.
- Pahami bahwa mempermudah bukan berarti mengubah hukum syariat, tetapi memilih cara terbaik dalam menyampaikan dan menerapkannya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.