Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah nasihat agung dari Nabi ﷺ agar kita selektif dalam memilih teman bergaul dan orang yang kita jamu. Beliau memerintahkan kita untuk berteman hanya dengan orang beriman dan memberi makan hanya kepada orang yang bertakwa. Ini bukan berarti kita dilarang berbuat baik kepada semua orang, tetapi ini adalah bimbingan agar pergaulan dan perjamuan kita menjadi sarana yang mendatangkan kebaikan, keberkahan, dan menambah ketakwaan kita.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ غَيْلاَنَ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ قَيْسٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، أَوْ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: "لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ"
Makna: "Janganlah kamu bergaul kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah orang yang bertakwa makan dari makananmu." (HR. Abu Dawud, no. 4832)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2395) dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
QS. Az-Zukhruf [43]: 67
اَلْاَخِلَّاۤءُ يَوْمَىِٕذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ
"Teman-teman akrab pada hari itu (hari kiamat) sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 322) hadits yang semakna dengan sanad yang lebih kuat.
- Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (no. 4832) menilai hadits ini shahih.
- Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad dalam syarahnya atas Sunan Abi Dawud menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bimbingan agar seorang mukmin menjaga pergaulannya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua bimbingan penting:
1. Larangan Berteman Kecuali dengan Mukmin
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna "لا تُصَاحِبْ إِلا مُؤْمِنًا" adalah larangan untuk menjadikan orang kafir sebagai teman akrab yang kita percaya dan kita curahkan hati. Ini karena teman itu sangat mempengaruhi kita. Jika kita berteman dengan orang yang tidak beriman, maka lambat laun kita bisa terpengaruh dengan keyakinan, gaya hidup, dan akhlaknya.
Namun perlu dipahami, larangan ini bukan berarti kita tidak boleh berinteraksi atau berbuat baik kepada non-muslim. Islam membolehkan bahkan menganjurkan berbuat baik kepada tetangga non-muslim, berdagang dengan mereka, dan berdakwah kepada mereka. Yang dilarang adalah menjadikan mereka sebagai teman akrab yang kita percayai urusan agama dan dunia kita.
2. Larangan Memberi Makan Kecuali kepada Orang yang Bertakwa
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa maknanya adalah hendaknya kita mengutamakan orang-orang yang bertakwa untuk kita jamu dan kita beri makan. Ini karena makanan yang kita berikan kepada orang bertakwa akan menjadi keberkahan, dan orang bertakwa itu akan mendoakan kita. Sedangkan memberi makan kepada orang fasik yang terang-terangan bermaksiat, dikhawatirkan akan menjadi sarana untuk membantu kemaksiatannya.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa teman yang baik adalah yang memiliki lima sifat: berakal, berakhlak baik, tidak fasik, tidak bid'ah, dan tidak rakus terhadap dunia. Beliau menukil perkataan sebagian ulama salaf: "Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang memiliki dua sifat: selamat agamanya dan bagus akalnya."
Perbedaan Pendapat Ulama:
Ada sebagian ulama yang memahami larangan ini sebagai larangan mutlak, sehingga mereka tidak mau makan bersama orang fasik. Namun jumhur ulama (mayoritas) memahami larangan ini sebagai bimbingan untuk memprioritaskan orang bertakwa, bukan larangan mutlak. Dalilnya, Nabi ﷺ sendiri pernah diundang makan oleh orang Yahudi, dan para sahabat juga bergaul dengan orang-orang musyrik dalam urusan dagang dan muamalah.
Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hadits ini adalah bimbingan agar kita selektif, bukan larangan mutlak untuk berinteraksi dengan selain mukmin.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (salah satu perawi hadits ini) sangat memperhatikan masalah pergaulan. Beliau berkata: "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain berteman dengan orang-orang yang bertakwa, dan tidak ada sesuatu yang lebih merusak hati selain berteman dengan orang-orang yang lalai."
Beliau juga pernah ditanya: "Siapakah orang yang paling utama?" Beliau menjawab: "Orang yang apabila engkau duduk bersamanya, engkau merasa bertambah agamanya."
Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat memahami pesan hadits ini dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sangat menjaga pergaulan karena tahu bahwa teman itu ibarat cermin.
Kesimpulan Praktis
- Selektiflah dalam memilih teman — pilihlah teman yang beriman dan bertakwa, karena teman sangat mempengaruhi agama dan akhlak kita.
- Jangan memutus silaturahmi dengan non-muslim — kita tetap boleh berinteraksi, berbuat baik, dan berdakwah kepada mereka, hanya saja jangan menjadikan mereka teman akrab yang kita percayai sepenuhnya.
- Utamakan menjamu orang-orang bertakwa — karena hal itu membawa keberkahan dan kebaikan bagi kita.
- Perbaiki diri kita dulu — agar kita layak menjadi teman yang baik bagi orang lain. Sebagaimana kita ingin berteman dengan orang shalih, maka jadilah pribadi yang shalih.
- Jadikan hadits ini sebagai bahan muhasabah — evaluasi siapa saja teman dekat kita dan bagaimana pengaruhnya terhadap iman kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.