Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa salah satu bentuk syukur atas kebaikan yang kita terima adalah dengan menyebut dan mengakuinya, sedangkan menyembunyikan dan tidak mengakui kebaikan tersebut termasuk bentuk pengingkaran (kufur nikmat). Menyebut kebaikan di sini bukan untuk pamer, melainkan untuk mengakui nikmat Allah dan berterima kasih kepada orang yang menjadi perantara kebaikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma:
<p>مَنْ أَبْلَى بَلَاءً فَذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ</p>
Terjemahan: "Barangsiapa yang diberi suatu kebaikan lalu ia menyebutkannya, maka sungguh ia telah bersyukur atasnya. Dan jika ia menyembunyikannya, maka sungguh ia telah mengingkarinya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Imam Ahmad bin Hanbal dengan makna yang sama. Imam al-Albani menilai hadits ini hasan dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah.
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan:
<p>وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ</p>
QS. Adh-Dhuha [93]: 11 — "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (bersyukur)."
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan untuk menyebut nikmat Allah sebagai bentuk syukur dan pengakuan, bukan untuk kesombongan.
Penjelasan Rinci
Makna kata "أَبْلَى بَلَاءً" — secara bahasa berarti seseorang yang diberi ujian/kebaikan atau diberi nikmat oleh Allah melalui perantara seseorang. Imam al-Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kebaikan yang datang kepada seseorang, baik dari Allah langsung maupun melalui orang lain.
Makna "فَذَكَرَهُ فَقَدْ شَكَرَهُ" — jika ia menyebutkan kebaikan itu, maka ia telah bersyukur. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa menyebut nikmat di sini adalah mengakui dan menampakkannya sebagai bentuk syukur, bukan riya'. Beliau membedakan antara menyebut nikmat untuk syukur (terpuji) dan menyebutnya untuk berbangga diri (tercela).
Makna "وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ" — jika ia menyembunyikannya, maka ia telah mengingkarinya. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "kufur" di sini bukan kufur yang mengeluarkan dari Islam, melainkan kufur nikmat, yaitu tidak mengakui dan tidak mensyukuri kebaikan yang telah diterima.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga rukun: (1) mengakui nikmat dalam hati, (2) menyebutnya dengan lisan, dan (3) menggunakan nikmat tersebut dalam ketaatan. Hadits ini menekankan rukun kedua, yaitu menyebut nikmat dengan lisan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa menyebut kebaikan orang lain dan berterima kasih kepadanya adalah bagian dari syukur kepada Allah, karena Allah mencintai hamba yang mengakui nikmat-Nya. Sebaliknya, menyembunyikan kebaikan orang lain dan tidak mengakuinya adalah tanda hati yang keras dan tidak tahu terima kasih.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama memahami "menyebut" di sini adalah menyebut di hadapan orang yang memberi kebaikan sebagai ucapan terima kasih. Sebagian lain memahaminya lebih luas, yaitu mengakui nikmat Allah secara umum. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dirajihkan Ibnu Hajar — adalah mencakup keduanya: mengakui nikmat Allah dan berterima kasih kepada orang yang menjadi perantara kebaikan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Abdullah bin al-Mubarak pernah ditanya tentang makna syukur. Beliau menjawab bahwa syukur adalah engkau mengakui nikmat Allah dalam hatimu, menyebutnya dengan lisanmu, dan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Beliau juga dikenal sangat menghargai orang yang berbuat baik kepadanya, bahkan beliau pernah berkata: "Aku tidak pernah melupakan kebaikan seseorang kepadaku, sekecil apapun itu."
Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan bahwa orang yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia, maka ia juga tidak akan tahu berterima kasih kepada Allah. Karena itu, Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk mengakui dan menyebut kebaikan orang lain sebagai bentuk syukur.
Kesimpulan Praktis
- Akui dan sebutkan nikmat Allah — baik nikmat langsung dari Allah maupun melalui perantara orang lain — sebagai bentuk syukur.
- Berterima kasih kepada orang yang berbuat baik — ucapkan terima kasih dan sebutkan kebaikannya, karena itu bagian dari syukur.
- Jangan menyembunyikan kebaikan orang lain — menyembunyikan dan tidak mengakui kebaikan adalah tanda kufur nikmat.
- Bedakan antara syukur dan riya' — menyebut nikmat untuk syukur adalah terpuji, sedangkan menyebutnya untuk pamer adalah tercela.
- Latih hati untuk selalu mengakui nikmat — karena syukur dimulai dari hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.