Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa syukur kepada Allah dan syukur kepada manusia adalah dua hal yang saling berkaitan. Orang yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan manusia, berarti ia juga tidak bersyukur kepada Allah. Sebab, Allah memerintahkan kita untuk membalas kebaikan sesama, dan syukur kepada Allah diwujudkan antara lain dengan mengakui serta menghargai kebaikan makhluk-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
"Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia." (HR. Abu Dawud, no. 4811, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, dan lainnya. Imam Al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abi Dawud.
Dalil Al-Qur'an yang terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim [14]: 7)
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan beberapa penjelasan yang saling melengkapi:
1. Penjelasan Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim As-Sunan, syarah Sunan Abu Dawud):
Beliau menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: Allah tidak menerima syukur seorang hamba atas nikmat-nikmat-Nya jika hamba tersebut tidak bersyukur kepada manusia yang menjadi perantara kebaikan tersebut. Sebab, syukur kepada Allah harus diwujudkan dengan membalas kebaikan makhluk-Nya. Barangsiapa yang mengabaikan kebaikan manusia, maka ia telah mengabaikan hak Allah untuk disyukuri.
2. Penjelasan Imam Al-Munawi (dalam Faidhul Qadir):
Beliau menukil perkataan para ulama bahwa maksudnya adalah: "Orang yang tidak bersyukur kepada manusia karena tabiatnya yang kufur nikmat dan tidak mengakui kebaikan, maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah. Karena orang yang terbiasa mengingkari kebaikan makhluk, ia akan mengingkari kebaikan Allah juga."
3. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
Beliau menjelaskan bahwa syukur kepada Allah mencakup tiga hal: mengakui nikmat dengan hati, memuji Allah dengan lisan, dan menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada Allah. Dan di antara bentuk syukur dengan lisan adalah mengucapkan terima kasih kepada manusia yang menjadi perantara kebaikan. Maka orang yang tidak mau mengucapkan terima kasih kepada manusia, berarti ia belum sempurna syukurnya kepada Allah.
4. Penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:
Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya berterima kasih kepada manusia. Jika seseorang berbuat baik kepadamu, maka engkau harus membalasnya dengan kebaikan atau minimal mendoakannya. Jika engkau tidak mampu membalas, maka ucapkanlah "Jazakallahu khairan" (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Ini adalah bentuk syukur kepada manusia, dan ini juga bagian dari syukur kepada Allah.
5. Penjelasan Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin:
Beliau menjelaskan bahwa syukur itu dibangun di atas lima pondasi: kerendahan hati makhluk kepada Allah, kecintaan kepada-Nya, mengakui nikmat-Nya, memuji-Nya atas nikmat tersebut, dan tidak menggunakan nikmat itu untuk hal yang tidak Dia ridhai. Dan di antara bentuk mengakui nikmat adalah mengakui perantara kebaikan dari sesama manusia.
Kesimpulan dari penjelasan para ulama:
Hadits ini tidak berarti bahwa syukur kepada manusia adalah syarat sahnya syukur kepada Allah secara mutlak. Tetapi maksudnya adalah: kesempurnaan syukur kepada Allah mengharuskan seseorang untuk bersyukur kepada manusia. Orang yang tidak pernah berterima kasih kepada manusia menunjukkan bahwa hatinya tidak memiliki sifat syukur, dan ini akan menghalanginya dari syukur yang sempurna kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang orang yang berbuat baik kepadanya. Beliau menjawab dengan sangat indah:
"Jika engkau tidak mampu membalas kebaikannya dengan harta, maka balaslah dengan doa. Karena doa adalah balasan yang paling cepat sampai."
Beliau juga sering mengucapkan kepada orang yang berbuat baik kepadanya:
جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا
"Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan."
Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menjaga adab bersyukur kepada manusia. Mereka tidak pernah meremehkan kebaikan orang lain, sekecil apa pun kebaikan itu.
Kesimpulan Praktis
- Ucapkan terima kasih kepada siapa pun yang berbuat baik kepada kita, baik dengan ucapan "terima kasih" atau "Jazakallahu khairan".
- Balaslah kebaikan dengan kebaikan yang setimpal jika mampu, atau minimal dengan doa.
- Jangan meremehkan kebaikan kecil dari orang lain, karena itu termasuk bagian dari syukur.
- Sadari bahwa syukur kepada Allah dan syukur kepada manusia adalah dua hal yang saling melengkapi.
- Latih diri untuk selalu mengakui kebaikan orang lain, karena ini akan menumbuhkan sifat tawadhu' dan menghilangkan kesombongan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.