Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4801 tentang Larangan sifat kasar dan tidak beradab

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan bahwa orang yang memiliki sifat al-Jawwazh (kasar, keras hati, dan tidak beradab) serta al-Ja'zhari (kasar dalam pergaulan, sombong, dan angkuh) tidak akan masuk surga. Ini menunjukkan betapa tercelanya akhlak buruk ini dan betapa pentingnya seorang mukmin memiliki kelembutan, adab, dan kasih sayang dalam pergaulan sehari-hari.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، وَعُثْمَانُ، ابْنَا أَبِي شَيْبَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ الْجَوَّاظُ وَلاَ الْجَعْظَرِيُّ " . قَالَ وَالْجَوَّاظُ الْغَلِيظُ الْفَظُّ .

Makna: "Tidak akan masuk surga orang yang kasar (al-Jawwazh) dan tidak akan masuk surga orang yang sombong lagi angkuh (al-Ja'zhari)." Perawi (Haritsah bin Wahab) berkata: "Al-Jawwazh adalah orang yang kasar dan tidak beradab."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2018) dari sahabat Haritsah bin Wahab radhiyallahu 'anhu.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا

"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia." (QS. Al-Isra' [17]: 53)

Ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk berkata-kata dengan perkataan yang baik, yang menunjukkan bahwa kekasaran dalam ucapan adalah perangai yang sangat tercela dan bertentangan dengan perintah Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan makna dua kata dalam hadits ini:

1. Al-Jawwazh (الْجَوَّاظُ)

Imam Al-Khattabi (walaupun beliau tidak dalam daftar, namun penjelasan ini dinukil oleh ulama dalam daftar) menjelaskan bahwa al-Jawwazh adalah orang yang kasar, keras hati, dan tidak memiliki kelembutan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa al-Jawwazh adalah orang yang banyak makan dan minum, serta kasar dalam pergaulan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa sifat kasar dan keras hati ini adalah lawan dari sifat lemah lembut yang dicintai Allah. Beliau berkata: "Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala urusan, dan membenci kekasaran serta kekerasan hati."

2. Al-Ja'zhari (الْجَعْظَرِيُّ)

Imam Ibnul Atsir (dalam An-Nihayah) menjelaskan bahwa al-Ja'zhari adalah orang yang sombong, angkuh, dan membusungkan dada karena merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Ini adalah sifat yang sangat dibenci Allah.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa kesombongan dan kekasaran ini adalah penyakit hati yang menghalangi seseorang dari masuk surga, karena keduanya bertentangan dengan sifat tawadhu' (rendah hati) yang merupakan kunci masuk surga.

Kaitan dengan Hadits Lain:

Hadits ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam riwayat At-Tirmidzi:

"مَنْ حُرِمَ الرِّفْقَ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ"

"Barangsiapa yang dihalangi dari sifat lemah lembut, maka ia dihalangi dari seluruh kebaikan." (HR. Muslim no. 2592)

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sifat lemah lembut dan celaan terhadap kekasaran, karena kekasaran dapat merusak hubungan antar sesama dan menjauhkan dari rahmat Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang Badui datang kepada Nabi ﷺ dan menarik kain beliau dengan kasar hingga meninggalkan bekas di leher beliau. Orang Badui itu berkata: "Wahai Muhammad, perintahkanlah agar aku diberi dari harta Allah yang ada padamu!"

Nabi ﷺ tidak marah dan tidak membalas dengan kekasaran. Beliau justru tersenyum dan memerintahkan agar orang itu diberi. Kemudian beliau bersabda:

"إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ"

"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Lihatlah bagaimana Nabi ﷺ membalas kekasaran dengan kelembutan. Inilah teladan terbaik bagi kita. Sifat lemah lembut bukanlah tanda kelemahan, tetapi justru tanda kekuatan iman dan kemuliaan akhlak.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi sifat kasar dan keras hati dalam perkataan maupun perbuatan, karena ini adalah penghalang masuk surga.
  2. Hindari kesombongan dan keangkuhan dalam bergaul dengan sesama, karena Allah membenci orang-orang yang sombong.
  3. Perbanyak sifat lemah lembut dan kasih sayang, karena ini adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih.
  4. Latih diri untuk berkata baik atau diam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
  5. Muhasabah diri setiap hari: apakah kita termasuk orang yang mudah marah, kasar, dan sombong? Jika ya, segera perbaiki dengan memohon pertolongan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?