Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4787 tentang Perintah memaafkan akhlak buruk manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ diperintahkan Allah untuk mengambil sisi "maaf" (al-'afw) dari akhlak manusia — yaitu memaafkan kesalahan orang lain, memilih yang mudah, dan tidak menuntut kesempurnaan. Intinya: seorang muslim hendaknya berakhlak longgar, pemaaf, dan mudah dalam bergaul. Ini adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan Al-Qur'an.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang menjadi pokok bahasan hadits ini:

QS. Al-A'raf [7]: 199

وَخُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Terjemahan ringkas: "Jadikanlah maaf sebagai kebiasaanmu, perintahkanlah kepada yang baik (ma'ruf), dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh."

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin az-Zubair (radhiyallahu 'anhuma), dari jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin az-Zubair), dalam Sunan Abu Dawud no. 4787, Kitab Adab, Bab tentang Maaf dan Memudahkan dalam Urusan.
  • Hadits pendukung makna yang sama: dari Abu Hurairah (radhiyallahu 'anhu), Nabi ﷺ bersabda (makna): "Sesungguhnya Allah mencintai akhlak yang lembut dan memaafkan, serta membenci akhlak yang buruk." (diriwayatkan dalam kitab-kitab sunan; makna umum disepakati para ulama).

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan QS. Al-A'raf [7]: 199 dengan menyebut bahwa maknanya adalah memaafkan akhlak manusia, menerima yang mudah, dan tidak memberatkan. Beliau menukil penafsiran ini dari para tabi'in seperti Mujahid dan Qatadah.
  • Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin dan Syarh Shahih Muslim menempatkan bab tentang memaafkan dan lemah lembut sebagai bagian akhlak mulia.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas makna "al-'afw" dalam akhlak sebagai memilih kemudahan dan meninggalkan tuntutan yang memberatkan.

Penjelasan Rinci

Makna "al-'afw" dalam ayat dan hadits ini:

Para ulama dari daftar menjelaskan bahwa kata "الْعَفْو" di sini tidak hanya berarti "memaafkan kesalahan", tetapi lebih luas: mengambil sisi yang mudah dan longgar dari akhlak manusia, tidak menuntut orang lain sempurna, dan tidak memaksakan standar yang memberatkan.

Mujahid bin Jabr (tabi'in, ahli tafsir) menafsirkan "خُذِ الْعَفْو" dengan makna: ambillah apa yang mudah dari akhlak manusia dan jangan menuntut mereka di luar kemampuan. Penafsiran ini dinukil oleh Ibnu Katsir dan Qatadah bin Di'amah juga menyampaikan makna serupa: memaafkan orang yang berbuat salah dan tidak membalas kebodohan mereka.

Qatadah menambahkan bahwa ayat ini adalah perintah untuk berakhlak lembut kepada manusia, sebagaimana disebutkan dalam tafsir yang dinukil para ulama.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini mengandung tiga perintah:

  1. Memaafkan dan memilih yang mudah dari akhlak manusia.
  2. Memerintahkan kepada yang ma'ruf (kebaikan yang dikenal).
  3. Berpaling dari orang bodoh — yaitu tidak membalas kebodohan dengan kebodohan.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ adalah gabungan antara memaafkan, berbuat baik, dan berpaling dari keburukan. Beliau menyebut bahwa orang yang paling sempurna akhlaknya adalah yang paling mudah memaafkan dan paling ringan dalam bergaul.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (dalam bab tentang kelembutan) menjelaskan bahwa memaafkan dan memudahkan adalah bagian dari kesempurnaan iman, bukan kelemahan. Beliau menukil hadits-hadits tentang anjuran memudahkan urusan orang lain.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "al-'afw" dalam akhlak berarti meninggalkan tuntutan yang berlebihan terhadap orang lain dan menerima kekurangan mereka dengan lapang.

Perbedaan penekanan di antara ulama:

  • Sebagian menekankan sisi memaafkan kesalahan (seperti Qatadah).
  • Sebagian menekankan sisi memilih kemudahan dalam bergaul (seperti Mujahid dan Ibnu Katsir).
  • Keduanya tidak bertentangan; keduanya termasuk makna "al-'afw" dalam ayat ini. Yang paling kuat adalah menggabungkan keduanya: memaafkan kesalahan dan memilih kemudahan dalam berinteraksi, sebagaimana dipahami Ibnu Katsir dan Ibnu Qayyim.

Catatan penting: Hadits ini adalah perkataan Abdullah bin az-Zubair (sahabat) dalam menjelaskan ayat, bukan sabda Nabi ﷺ secara langsung. Namun karena beliau adalah sahabat yang mulia dan menjelaskan makna ayat, para ulama menerimanya sebagai penjelasan tafsir yang sahih.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin az-Zubair (radhiyallahu 'anhuma) — seorang sahabat yang dikenal tegas dalam kebenaran — ketika ditanya tentang makna ayat "خُذِ الْعَفْو", beliau menjawab: "Nabi ﷺ diperintahkan untuk mengambil maaf dari akhlak manusia." Artinya, beliau memahami bahwa ayat ini bukan sekadar anjuran, tetapi perintah kepada Nabi ﷺ — dan tentu juga kepada umatnya — untuk berakhlak longgar dan pemaaf.

Al-Hasan al-Bashri (tabi'in) pernah berkata (makna): "Akhlak yang baik adalah engkau memaafkan orang yang menyakitimu, memberi kepada yang tidak memberimu, dan menyambung hubungan dengan yang memutusmu." (dinukil dalam kitab-kitab adab). Ini menunjukkan bahwa para salaf memahami "al-'afw" sebagai praktik nyata, bukan hanya teori.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan memaafkan kesalahan orang lain, terutama dalam urusan sehari-hari, tanpa menuntut mereka sempurna.
  2. Pilih kemudahan dalam bergaul: jangan mempersulit orang lain dengan tuntutan yang berlebihan.
  3. Berpaling dari kebodohan — jika ada yang berlaku kasar, jangan balas dengan kasar; cukup tinggalkan dan maafkan.
  4. Ingat bahwa ini perintah Allah, bukan sekadar anjuran budaya — sebagaimana dipahami Abdullah bin az-Zubair dan para tabi'in.
  5. Latih diri secara bertahap: mulai dari memaafkan hal-hal kecil, lalu naik ke hal yang lebih besar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?