Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4783 tentang Nasihat agar tidak mencela orang yang telah meninggal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits yang Anda tanyakan (Sunan Abu Dawud no. 4783) adalah riwayat yang sangat singkat dan berstatus mu'dhal (terputus sanadnya), karena perawinya, Bakr bin Abdullah Al-Muzani, adalah seorang tabi'in yang tidak bertemu langsung dengan Nabi ﷺ. Hadits ini hanya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengutus Abu Dzar radhiyallahu 'anhu dengan membawa pesan tertentu, namun isi pesan tersebut tidak disebutkan dalam riwayat ini. Abu Dawud sendiri menyatakan bahwa riwayat ini lebih sahih daripada riwayat lain yang semakna, namun para ulama menjelaskan bahwa hadits tentang apa yang diucapkan saat marah yang sahih dan lengkap adalah riwayat lain yang berbunyi: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk" (ta'awwudz).

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Ma Yaqulu 'Inda al-Ghadhab" (Apa yang Diucapkan Saat Marah), no. 4783.

Adapun hadits yang lebih lengkap dan sahih tentang apa yang diucapkan saat marah adalah hadits Sulaiman bin Shard radhiyallahu 'anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim:

Teks Arab (HR. Al-Bukhari no. 3282 dan Muslim no. 2610):

أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Terjemahan: "Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya rasa marahnya akan hilang, yaitu jika ia mengucapkan: A'udzu billahi minasy-syaithanir-rajim (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)."

Kaitan dengan ulama: Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca ta'awwudz saat marah, karena marah berasal dari bisikan setan. Syaikh Al-Albani juga menilai hadits Abu Dawud no. 4783 ini sebagai hadits yang sanadnya terputus (mu'dhal) dalam Dha'if Abi Dawud.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa marah adalah salah satu pintu masuk setan untuk merusak amal seseorang. Oleh karena itu, Islam memberikan tuntunan yang jelas untuk mengendalikannya.

Pertama: Sanad hadits Abu Dawud no. 4783

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan sanad: Wahb bin Baqiyyah, dari Khalid (bin Abdillah Ath-Thahhan), dari Daud (bin Abi Hind), dari Bakr (bin Abdullah Al-Muzani). Sanad ini terputus karena Bakr bin Abdullah Al-Muzani (wafat ± 106 H) adalah tabi'in yang tidak bertemu Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan dari sahabat, bukan langsung dari Nabi ﷺ. Oleh karena itu, hadits ini berstatus mu'dhal (sanadnya terputus dua orang atau lebih sebelum tabi'in).

Imam Abu Dawud sendiri menyatakan bahwa riwayat ini lebih sahih daripada riwayat lain yang semakna, namun para ulama hadits seperti Syaikh Al-Albani menegaskan bahwa hadits ini tetap memiliki kelemahan karena keterputusan sanadnya.

Kedua: Hadits yang sahih tentang apa yang diucapkan saat marah

Hadits yang sahih dan lengkap adalah hadits Sulaiman bin Shard radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, ada dua orang yang saling mencaci di sisi Nabi ﷺ, lalu salah satunya memerah wajahnya karena marah. Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa jika ia mengucapkan ta'awwudz, maka marahnya akan hilang.

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya membaca ta'awwudz saat marah, karena marah itu berasal dari setan, dan setan akan terusik dengan dzikir kepada Allah.

Syaikh Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush-Shalihin juga menjelaskan bahwa selain membaca ta'awwudz, ada tuntunan lain saat marah, yaitu:

  1. Diam (tidak banyak bicara) — sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Jika salah seorang di antara kalian marah, maka diamlah." (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)
  2. Mengubah posisi — jika berdiri, hendaknya duduk; jika duduk, hendaknya berbaring. (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)
  3. Berwudhu — karena marah itu dari setan, dan setan itu terbuat dari api, sedangkan api padam dengan air. (HR. Abu Dawud, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Ketiga: Hikmah dari tuntunan ini

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus-Salikin menjelaskan bahwa marah adalah salah satu akhlak tercela yang harus dilawan. Cara melawannya adalah dengan menundukkan hawa nafsu, berdzikir kepada Allah, dan mengingat keutamaan menahan marah. Beliau juga menukil perkataan sebagian salaf bahwa orang yang kuat bukanlah yang menang dalam pergulatan, tetapi yang mampu menahan dirinya saat marah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Jangan marah." Orang itu mengulangi pertanyaannya beberapa kali, dan Nabi ﷺ tetap menjawab: "Jangan marah." (HR. Al-Bukhari no. 6116)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Para ulama menjelaskan bahwa wasiat "jangan marah" ini bukan berarti menghilangkan tabiat marah yang ada pada diri manusia, tetapi maksudnya adalah jangan melampiaskan kemarahan dan jangan membiarkan marah menguasai diri. Ini adalah wasiat yang sangat agung, karena marah adalah kunci segala keburukan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Sesungguhnya marah itu adalah awal dari segala keburukan, dan menahannya adalah tanda kesabaran yang paling utama." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Dzammul-Ghadhab)

Kesimpulan Praktis

  1. Hadits Abu Dawud no. 4783 memiliki sanad yang terputus (mu'dhal), namun maknanya didukung oleh hadits-hadits sahih lainnya.
  2. Saat marah, ucapkanlah: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).
  3. Diamlah saat marah, jangan banyak bicara agar tidak terucap kata-kata buruk.
  4. Ubah posisi tubuh — jika berdiri, duduklah; jika duduk, berbaringlah.
  5. Berwudhu karena marah berasal dari setan yang terbuat dari api, dan api padam dengan air.
  6. Ingatlah keutamaan menahan marah — Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menahan marahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu menyuruhnya memilih bidadari yang ia sukai." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?