Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4781 tentang Doa berlindung dari syaitan saat marah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita obat yang sangat ampuh saat marah, yaitu membaca ta'awudz: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk). Ini adalah petunjuk langsung dari Nabi ﷺ untuk meredakan kemarahan, karena marah yang memuncak itu berasal dari bisikan syaitan. Hadits ini juga menunjukkan betapa lembutnya akhlak Nabi ﷺ dalam menasihati, serta pentingnya kita menerima nasihat dengan hati terbuka, tidak seperti orang yang ada di hadapan Nabi ﷺ saat itu yang menolak nasihat tersebut.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab "Ma Yuqalu 'Indal Ghadhab" (Apa yang Diucapkan Saat Marah), no. 4781, dari sahabat Sulaiman bin Shurad radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Birr wash-Shilah wal-Adab, Bab "Fadhl Man Malaka Ghadhabahu" (Keutamaan Orang yang Menahan Marahnya), no. 2610, dari jalur periwayatan yang sama.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

"Dan katakanlah (Muhammad), 'Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak datang kepadaku.'"

(QS. Al-Mu'minun [23]: 97-98)

Ayat ini menunjukkan perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk berlindung kepada-Nya dari gangguan syaitan, dan ini menjadi dasar bagi umatnya untuk melakukan hal yang sama, terutama saat marah.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya membaca ta'awudz saat marah, dan bahwa marah itu berasal dari syaitan.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa ta'awudz adalah obat yang paling bermanfaat untuk meredakan kemarahan, karena ia memutus pengaruh syaitan yang sedang membakar emosi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan sebuah peristiwa nyata di hadapan Nabi ﷺ. Dua orang sahabat saling mencela dan bertengkar. Salah seorang di antara mereka terlihat sangat marah: matanya memerah dan urat lehernya membengkak. Ini adalah tanda-tanda fisik kemarahan yang memuncak.

Nabi ﷺ yang melihat hal itu langsung memberikan solusi. Beliau bersabda, "Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat, seandainya orang ini mengucapkannya, niscaya hilang darinya apa yang ia rasakan (marah), yaitu: A'udzu billahi minasy syaithanir rajim."

Pelajaran Penting dari Hadits Ini:

  1. Marah adalah Bisikan Syaitan: Para ulama menjelaskan bahwa kemarahan yang meluap-luap itu berasal dari syaitan. Syaitan memanfaatkan emosi manusia untuk menguasainya. Oleh karena itu, obatnya adalah berlindung kepada Allah dari syaitan. Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' Al-'Ulum wal-Hikam bahwa marah adalah salah satu pintu masuk syaitan untuk merusak hati manusia.
  2. Ta'awudz adalah Obat yang Diajarkan Nabi ﷺ: Nabi ﷺ tidak menyuruh orang itu untuk minum air, duduk, atau berbaring (walaupun itu juga ada riwayat lain), tetapi beliau mengajarkan kalimat ta'awudz. Ini menunjukkan bahwa solusi utama untuk masalah spiritual adalah dengan sarana spiritual juga, yaitu berdoa dan berlindung kepada Allah.
  3. Akhlak Nabi ﷺ dalam Menasihati: Nabi ﷺ tidak menunjuk atau mempermalukan orang yang marah itu secara langsung. Beliau berbicara secara umum, "seandainya orang ini mengucapkannya..." Ini adalah metode pendidikan yang sangat halus. Beliau tidak berkata, "Wahai Fulan, ucapkan ini!" agar tidak menambah kemarahannya. Ini pelajaran bagi kita dalam berdakwah dan menasihati.
  4. Sikap yang Keliru: Menolak Nasihat: Sayangnya, orang yang marah itu justru menjawab dengan nada sinis, "Apakah engkau melihatku gila?" Ia menganggap bahwa membaca ta'awudz itu hanya untuk orang gila yang kerasukan. Ini adalah kesalahan besar. Ia menolak nasihat Nabi ﷺ karena kesombongan dan emosi yang membara. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Syarah Kitab At-Tauhid menjelaskan bahwa menolak nasihat kebaikan adalah bentuk kesombongan yang tercela, dan ini bisa menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan hidayah.
  5. Pentingnya Mengendalikan Marah: Hadits ini juga mengajarkan bahwa marah itu berbahaya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 6114) bahwa seorang sahabat meminta wasiat kepada Nabi ﷺ, dan beliau bersabda, "Janganlah engkau marah." Beliau mengulanginya beberapa kali. Ini menunjukkan bahwa marah adalah sumber banyak keburukan.

Story Telling

Ada kisah indah tentang Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal dengan kelembutan dan kesabarannya. Suatu ketika, ada seorang pria yang datang kepadanya dan berkata dengan kasar, "Wahai Ahmad, aku ingin bertanya tentang satu masalah!" Imam Ahmad menjawab dengan tenang, "Silakan, tanyakanlah."

Pria itu terus berbicara dengan nada tinggi dan tidak sopan. Namun, Imam Ahmad tetap tersenyum dan menjawab setiap pertanyaannya dengan lembut. Para muridnya heran dan bertanya setelah pria itu pergi, "Wahai Imam, mengapa engkau begitu sabar menghadapi orang yang kasar itu?"

Imam Ahmad tersenyum dan berkata, "Ketika aku melihat kemarahannya, aku teringat sabda Nabi ﷺ: 'Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat, seandainya dia mengucapkannya, niscaya hilang kemarahannya: A'udzu billahi minasy syaithanir rajim.' Maka aku berdoa dalam hatiku, 'Ya Allah, hilangkanlah kemarahannya, dan jangan jadikan aku sebab bertambahnya kemarahan itu.'"

Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf mengamalkan hadits ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk menenangkan orang lain yang sedang marah. Mereka tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, tetapi dengan kelembutan dan doa.

Kesimpulan Praktis

Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:

  1. Saat marah, segera baca ta'awudz: "A'udzu billahi minasy syaithanir rajim" (Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk). Ucapkan dengan lisan dan hati.
  2. Jika marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Jika belum reda, berbaringlah. Ini adalah petunjuk lain dari Nabi ﷺ dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.
  3. Jangan menolak nasihat kebaikan. Terkadang saat emosi, kita menolak nasihat karena gengsi. Ingatlah bahwa nasihat itu adalah obat, meskipun pahit.
  4. Jangan membalas kemarahan dengan kemarahan. Jika melihat orang lain marah, jangan kita tambah dengan kata-kata yang menyulut. Berdoalah untuk kebaikannya dan ucapkan kata-kata yang menenangkan.
  5. Latih diri untuk tidak mudah marah. Ini adalah wasiat Nabi ﷺ yang sangat agung. Semakin sering kita berlatih menahan marah, semakin mudah kita mengendalikannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.