Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah bukti agung tentang akhlak Nabi Muhammad ﷺ yang sangat lembut dan pemaaf, terutama kepada pembantunya. Selama sepuluh tahun Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu melayani beliau, Nabi ﷺ tidak pernah mengucapkan kata "ah" (ungkapan bosan atau kesal) dan tidak pernah menegurnya dengan pertanyaan "mengapa kamu lakukan ini?" atau "mengapa tidak kamu lakukan ini?" Ini menunjukkan kesabaran, kasih sayang, dan akhlak mulia beliau dalam berinteraksi dengan orang lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Adab, Bab tentang Akhlak dan Sifat Nabi ﷺ, nomor 4774. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)
Hadits terkait:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun, maka beliau tidak pernah berkata kepadaku: 'Uf' dan tidak pernah berkata: 'Mengapa kamu lakukan ini?' atau 'Mengapa tidak kamu lakukan ini?'" (HR. Al-Bukhari no. 6038, dan Muslim no. 2309)
Kaitan dengan ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ dan kesabaran beliau yang luar biasa. Beliau tidak pernah mencela pelayannya meskipun ada kekurangan dalam pekerjaan, karena hal itu bukanlah perangai para nabi dan orang-orang mulia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang merupakan pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun di Madinah. Beliau mulai melayani Nabi ﷺ sejak usia sekitar sepuluh tahun, ketika ibunya Ummu Sulaim menyerahkannya kepada Rasulullah ﷺ untuk membantu keperluan beliau.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perkataan Anas "bukan setiap urusanku sebagaimana yang diinginkan oleh tuanku" menunjukkan bahwa Anas adalah anak yang jujur dan tidak menutup-nutupi kekurangannya. Ia mengakui bahwa sebagai anak kecil, terkadang ia lalai atau tidak sempurna dalam melaksanakan tugasnya. Namun meskipun demikian, Nabi ﷺ tidak pernah menegurnya dengan kata-kata kasar.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang adab seorang pemimpin atau majikan terhadap bawahannya. Nabi ﷺ tidak pernah mengucapkan kata "uff" (ungkapan bosan/kesal) kepada pelayannya, padahal kata ini adalah ungkapan yang paling ringan dalam mencela. Ini menunjukkan bahwa beliau sama sekali tidak pernah mencela pelayannya.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Anas, ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, maka aku berkata: 'Demi Allah, aku tidak akan pergi.' Namun dalam hatiku, aku akan pergi melaksanakan perintah Nabi ﷺ. Maka aku keluar hingga bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain di pasar. Tiba-tiba Rasulullah ﷺ memegang tengkukku dari belakang, maka aku menoleh kepada beliau dan beliau tersenyum sambil berkata: 'Wahai Unais (panggilan sayang untuk Anas), apakah engkau sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?' Aku menjawab: 'Ya, aku sudah pergi, wahai Rasulullah.'" (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa meskipun Anas sempat menolak perintah, Nabi ﷺ tidak memarahinya, bahkan bercanda dan tersenyum kepadanya. Ini adalah bentuk kasih sayang dan kelembutan yang luar biasa.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa akhlak Nabi ﷺ ini adalah buah dari kesempurnaan iman beliau. Semakin sempurna iman seseorang, semakin baik akhlaknya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. At-Tirmidzi, dan ia menshahihkannya)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Ali 'Imran [3]: 159 menunjukkan bahwa kelembutan Nabi ﷺ adalah rahmat dari Allah. Jika beliau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya orang-orang akan menjauh darinya. Maka dari itu, setiap muslim hendaknya meneladani akhlak ini dalam pergaulan sehari-hari.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Suatu ketika, seorang wanita dari kalangan Anshar (atau seorang pria) datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'Wahai Rasulullah, aku memiliki suatu keperluan denganmu.' Maka Nabi ﷺ berkata: 'Wahai ibuku (panggilan sayang), duduklah di mana saja engkau suka di jalan-jalan Madinah, maka aku akan menemuimu dan memenuhi keperluanmu.' Maka wanita itu duduk di salah satu jalan, lalu Nabi ﷺ menemuinya dan memenuhi keperluannya." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya baik kepada pelayannya, tetapi kepada semua orang, bahkan orang yang meminta pertolongan dengan cara yang mungkin dianggap merepotkan. Beliau tetap melayaninya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Anas berkata: "Aku tidak pernah menyentuh sutra atau kain yang lebih lembut dari telapak tangan Rasulullah ﷺ, dan aku tidak pernah mencium wewangian yang lebih harum dari aroma tubuh Rasulullah ﷺ. Sungguh, aku telah melayani beliau selama sepuluh tahun, dan beliau tidak pernah berkata kepadaku: 'Uf' dan tidak pernah berkata: 'Mengapa kamu lakukan ini?' atau 'Mengapa tidak kamu lakukan ini?'" (HR. Al-Bukhari no. 6038)
Kesimpulan Praktis
- Meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam kesabaran — Seorang muslim hendaknya bersabar terhadap kekurangan orang lain, terutama pembantu, karyawan, atau anak-anak yang masih belajar.
- Menghindari kata-kata kasar dan celaan — Nabi ﷺ bahkan tidak mengucapkan kata "uff" yang merupakan ungkapan kesal yang paling ringan. Maka kita harus menjauhi celaan yang lebih berat.
- Tidak mempermalukan orang lain — Pertanyaan "mengapa kamu lakukan ini?" atau "mengapa tidak kamu lakukan ini?" bisa membuat orang merasa bersalah dan malu. Nabi ﷺ menghindari hal ini.
- Memberikan kasih sayang kepada pembantu dan bawahan — Seorang majikan hendaknya memperlakukan pembantunya dengan baik, karena mereka adalah saudara kita yang membutuhkan kasih sayang.
- Menjadi pemaaf — Jika ada kesalahan orang lain, maafkanlah dan jangan dijadikan bahan celaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.