Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4767 tentang Ciri khawarij dan perintah memerangi mereka

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, berisi dua pelajaran besar: (1) kejujuran Ali dalam menyampaikan hadits Nabi ﷺ — ia lebih memilih jatuh dari langit daripada berdusta atas nama Nabi; dan (2) sifat kaum Khawarij yang muncul di akhir zaman: muda usia, dangkal pemahaman, banyak bicara dengan dalil Al-Qur'an tetapi iman tidak masuk ke hati, sehingga mereka keluar dari Islam seperti anak panah menembus hewan buruan. Nabi ﷺ memerintahkan untuk memerangi mereka, dan itu menjadi pahala di hari kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Hujurat [49]: 6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini menjadi dasar kehati-hatian dalam menerima berita, terutama dari orang yang menyimpang — sebagaimana halnya kaum Khawarij yang gemar menyebarkan tuduhan dan takfir tanpa ilmu.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Memerangi Khawarij, no. 4767, dari jalur Sufyan (ats-Tsauri) → al-A'masy → Khaytsamah → Suwaid bin Ghafalah, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Hadits semakna juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang serupa tentang sifat Khawarij: "يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ" — mereka keluar dari agama seperti anak panah menembus hewan buruan.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil pokok tentang sifat Khawarij dan kewajiban memerangi mereka.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan tanda kenabian, karena apa yang dikabarkan Nabi ﷺ tentang Khawarij benar-benar terjadi.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin banyak membahas hadits ini sebagai landasan bantahan terhadap Khawarij.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan hikmah-hikmah hadits ini secara rinci.

Penjelasan Rinci

Pertama: Kejujuran Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Ali berkata: "Jika aku menyampaikan hadits kepada kalian dari Rasulullah ﷺ, maka sungguh jatuh dari langit lebih aku sukai daripada aku berdusta atas nama beliau."

Ini menunjukkan betapa besar rasa takut para sahabat terhadap dosa berdusta atas nama Nabi ﷺ. Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' menyebutkan bahwa para sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadits, bahkan sebagian mereka lebih memilih diam daripada salah menyampaikan. Abdullah bin al-Mubarak berkata: "Sanad (rantai periwayatan) adalah bagian dari agama; kalau bukan karena sanad, siapa pun bisa berkata apa saja."

Adapun ucapan Ali: "Jika aku berbicara tentang sesuatu antara aku dan kalian, maka sesungguhnya perang adalah tipu daya" — ini adalah ungkapan yang dipinjam dari sabda Nabi ﷺ yang masyhur: "الْحَرْبُ خُدْعَةٌ" (perang adalah tipu daya), diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Maksudnya: dalam urusan strategi perang, boleh menyembunyikan rencana; tetapi dalam menyampaikan agama, tidak boleh berdusta.

Kedua: Sifat-sifat Khawarij

Nabi ﷺ menyebutkan ciri-ciri mereka:

  1. حُدَثَاءُ الأَسْنَانِ — muda usianya. Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa ini menunjukkan semangat mereka yang menggebu tetapi tidak diimbangi ilmu dan pengalaman.
  2. سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ — dangkal akalnya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa mereka memiliki pemahaman yang rusak, bukan karena bodoh secara mutlak, tetapi karena mereka memahami nash tanpa merujuk kepada pemahaman para ulama.
  3. يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ — mereka mengucapkan perkataan makhluk terbaik (yakni Al-Qur'an dan hadits). Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mereka berdalil dengan nash, tetapi nash itu tidak masuk ke hati mereka — hanya di lisan.
  4. يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ — mereka keluar dari Islam seperti anak panah menembus hewan buruan. Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin menjelaskan bahwa anak panah yang menembus hewan buruan tidak membawa apa pun dari hewan itu — demikian pula Khawarij, mereka keluar dari Islam tanpa membawa kebaikan sedikit pun.
  5. لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ — iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa iman mereka hanya di lisan, tidak sampai ke hati. Ini adalah tanda kemunafikan dalam amal, meskipun mereka bukan munafik dalam akidah.
  6. فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ — di mana saja kalian menemui mereka, bunuhlah mereka. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa perintah ini berlaku ketika mereka sudah angkat senjata dan menyerang kaum muslimin. Ini adalah hukuman bagi pemberontak yang menumpahkan darah muslim tanpa hak.
  7. فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ — membunuh mereka adalah pahala di hari kiamat. Syeikh as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa ini menunjukkan besarnya bahaya Khawarij bagi umat, sehingga memerangi mereka termasuk jihad yang berpahala besar.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah Khawarij itu kafir atau hanya fasik. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa jumhur ulama Ahlus Sunnah berpendapat mereka adalah fasik dan pemberontak, bukan kafir — kecuali jika mereka menghalalkan darah muslim dan mengkafirkan kaum muslimin secara umum. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa Khawarij adalah ahlul bid'ah dan ahlul fasad, dan mereka diperangi karena kezaliman mereka, bukan semata karena akidah.

Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim — adalah bahwa Khawarij adalah pemberontak yang wajib diperangi jika mereka menyerang, dan mereka tidak dikafirkan secara mutlak selama masih mengucapkan syahadat, meskipun mereka memiliki penyimpangan besar dalam pemahaman dan amal.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ suatu hari membagikan harta kepada beberapa orang. Lalu datanglah seorang pria bernama Dzul Khuwaishirah — yang dikenal sebagai pemimpin Khawarij — dan berkata dengan kasar: "Berlaku adillah, wahai Rasulullah!"

Nabi ﷺ menjawab: "Celakalah kamu! Siapa yang akan berlaku adil jika aku tidak adil?"

Lalu Nabi ﷺ bersabda tentang orang ini dan pengikutnya:

"يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ"

"Akan keluar dari keturunan orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur'an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka; mereka keluar dari agama seperti anak panah menembus hewan buruan."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah tanda kenabian yang jelas — karena setelah itu benar-benar muncul kelompok Khawarij yang mengikuti jejak Dzul Khuwaishirah, seperti kelompok Azariqah, Najdat, dan lainnya yang menumpahkan darah kaum muslimin.

Ibn Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berperang melawan Khawarij di Nahrawan, dan beliau mengutip hadits ini sebagai dalil. Beliau berkata: "Demi Allah, aku tidak berdusta atas nama Rasulullah ﷺ, dan aku tidak akan menyampaikan sesuatu yang tidak aku dengar."

Kesimpulan Praktis

  1. Jujur dalam menyampaikan agama — jangan menisbahkan sesuatu kepada Nabi ﷺ tanpa ilmu. Abdullah bin al-Mubarak berkata: "Ilmu itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu."
  2. Berhati-hati dalam memahami nash — jangan hanya berpegang pada zahir dalil tanpa merujuk kepada pemahaman para ulama. Ibn Taymiyyah menegaskan bahwa Khawarij adalah contoh orang yang berdalil dengan nash tetapi salah dalam memahaminya.
  3. Menjauhi sifat takfir dan ghuluw — jangan mudah mengkafirkan atau menuduh sesama muslim. Imam an-Nawawi mengingatkan bahwa Khawarij adalah orang yang mengkafirkan muslim lain karena dosa, padahal itu adalah kekeliruan besar.
  4. Mengutamakan ilmu sebelum amal — semangat tanpa ilmu bisa menjerumuskan. Syeikh as-Sa'di menasihatkan: "Belajarlah agama ini dengan bimbingan ulama, agar engkau tidak tersesat seperti Khawarij."
  5. Mencintai ulama dan menuntut ilmu dari mereka — karena Khawarij adalah orang yang meninggalkan majelis ulama dan mengandalkan pemahaman sendiri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?