Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4736 tentang Larangan menertawakan ayat-ayat Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab yang sangat penting: kita tidak boleh meremehkan atau menertawakan firman Allah, baik itu dari Al-Qur'an maupun kitab suci sebelumnya yang masih asli. Sikap seorang mukmin terhadap kalamullah adalah penuh penghormatan, pengagungan, dan keseriusan. Tertawa saat mendengar ayat suci adalah bentuk kurang adab yang ditegur langsung oleh Raja Najasyi yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 4736:

Teks Arab lengkap dengan harakat:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى، أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنْ عَامِرٍ يَعْنِي الشَّعْبِيَّ، عَنْ عَامِرِ بْنِ شَهْرٍ، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّجَاشِيِّ فَقَرَأَ ابْنٌ لَهُ آيَةً مِنَ الْإِنْجِيلِ فَضَحِكْتُ، فَقَالَ: أَتَضْحَكُ مِنْ كَلَامِ اللَّهِ؟

Terjemahan: "Amir bin Shahr berkata: Aku sedang bersama Najasyi (Raja Habasyah) ketika putranya membacakan sebuah ayat dari Injil. Maka aku tertawa. Lalu dia (Najasyi) berkata: Apakah kamu tertawa terhadap firman Allah?"

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

QS. At-Taubah [9]: 65-66

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ

Terjemahan: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab: 'Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah: 'Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok?' (65) Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman." (66)

Ayat ini dengan tegas melarang sikap meremehkan dan menertawakan ayat-ayat Allah. Imam Ibn Katsir rahimahullah (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang-orang munafik yang menertawakan dan menghina Al-Qur'an dan Rasulullah ﷺ. Beliau menukil perkataan Mujahid bin Jabr rahimahullah (w. 104 H) bahwa mereka berkata: "Kami tidak bermaksud serius, kami hanya bercanda." Maka Allah membantah mereka dan menyatakan bahwa sikap seperti itu adalah kekufuran.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Kitab as-Sunnah, Bab fi al-Qur'an. Sanad hadits ini memiliki catatan, namun makna dan pelajarannya tetap shahih secara makna karena dikuatkan oleh banyak dalil lain.

Pertama: Kemuliaan Kalamullah

Para ulama Ahlus Sunnah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) dan diikuti oleh ulama seperti Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 751 H), menegaskan bahwa Kalamullah (firman Allah) adalah sifat Allah yang qadim (tidak bermula) dan mulia. Al-Qur'an adalah Kalamullah yang diturunkan, bukan makhluk. Demikian pula kitab-kitab suci sebelumnya seperti Taurat, Injil, dan Zabur adalah firman Allah yang diturunkan kepada para nabi.

Oleh karena itu, menertawakan atau meremehkan kalamullah adalah perbuatan yang sangat tercela. Imam al-Barbahari (w. 329 H) dalam kitabnya Syarh as-Sunnah menegaskan bahwa mengagungkan Al-Qur'an adalah bagian dari iman, dan merendahkannya adalah tanda kekufuran.

Kedua: Adab Terhadap Kalamullah

Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Adzkar dan At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur'an menjelaskan adab-adab terhadap Al-Qur'an, di antaranya:

  1. Mendengarkan dengan penuh perhatian dan khusyuk saat dibacakan.
  2. Tidak berbicara, tertawa, atau bermain-main saat mendengar ayat Allah.
  3. Merasakan keagungan Allah saat mendengar firman-Nya.
  4. Menangis atau setidaknya merasa takut dan haru, bukan tertawa.

Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah (w. 728 H) dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa para salaf sangat menjaga adab ini. Beliau menukil dari Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) bahwa beliau berkata: "Al-Qur'an itu adalah kalam Allah, maka muliakanlah ia dan janganlah kalian menjadikannya sebagai bahan gurauan."

Ketiga: Pelajaran dari Raja Najasyi

Yang menarik dalam hadits ini adalah sosok Najasyi (Raja Habasyah). Beliau adalah seorang raja Nasrani yang kemudian masuk Islam. Dalam riwayat lain, ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Ja'far bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau menangis hingga janggutnya basah. Ini menunjukkan betapa besarnya pengagungan beliau terhadap kalamullah.

Teguran Najasyi kepada Amir bin Shahr ini menjadi pelajaran berharga: bahwa seorang yang bukan muslim pun bisa memiliki adab yang tinggi terhadap firman Allah, maka seorang muslim seharusnya lebih lagi menjaga adab ini.

Story Telling

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4582) dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: 'Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku.' Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah aku akan membacakannya kepadamu, padahal kepadamulah Al-Qur'an diturunkan?' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.' Maka aku membacakan surat An-Nisa' hingga sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

'Maka bagaimanakah (halnya) jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka?' (QS. An-Nisa' [4]: 41)

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Cukup.' Lalu aku melihat kedua mata beliau berlinang air mata."

Lihatlah bagaimana Nabi ﷺ, yang merupakan penerima wahyu, justru menangis saat mendengar ayat Al-Qur'an dibacakan. Ini adalah teladan terbaik bagi kita tentang bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin terhadap kalamullah.

Kesimpulan Praktis

  1. Agungkan Al-Qur'an dan semua firman Allah - Jangan pernah meremehkan atau menertawakan ayat-ayat Allah, baik dari Al-Qur'an maupun kitab suci sebelumnya yang masih asli.
  2. Jaga adab saat mendengar Al-Qur'an - Diam, dengarkan dengan penuh perhatian, dan resapi maknanya. Jangan berbicara, tertawa, atau bermain-main.
  3. Latih hati untuk merasakan keagungan kalamullah - Bacalah Al-Qur'an dengan tadabbur (perenungan) agar hati kita tergetar mendengar firman Allah.
  4. Jadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup - Bukan sekadar bacaan ritual, tetapi pedoman yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Teladani para salaf - Mereka sangat menjaga adab terhadap Al-Qur'an, menangis saat mendengarnya, dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.