Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4733 tentang Hadits tentang turunnya Allah ke langit dunia

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits shahih yang menjelaskan tentang salah satu sifat Allah, yaitu sifat Nuzul (turun). Maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa kita menanyakan "bagaimana" caranya. Ini adalah berita gembira bagi hamba-Nya bahwa Allah membuka pintu doa, permintaan, dan taubat di waktu yang mulia ini. Kita wajib mengimani berita ini sebagaimana adanya, tanpa menakwilkan (mengubah makna), tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk, dan tanpa menolaknya.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Asy-Syura [42]: 11

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini menjadi dasar bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Maka ketika Allah "turun", kita tidak boleh membayangkan seperti turunnya manusia.

2. Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4733), juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 1145) dan Imam Muslim (no. 758) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

3. Kaitan dengan ulama:

Imam Malik bin Anas ketika ditanya tentang makna "istawa" (bersemayam) di atas 'Arsy, beliau menjawab: "Istiwa itu diketahui maknanya, cara (kaifiyah)-nya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah." Perkataan ini juga berlaku untuk seluruh sifat Allah, termasuk sifat turun. Perkataan ini dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Majmu' al-Fatawa.

Penjelasan Rinci

Para ulama Ahlus Sunnah dari kalangan salaf menjelaskan hadits ini dengan penjelasan yang sangat jelas dan lurus:

1. Makna "Tuhan kita turun"

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa Allah benar-benar turun, bukan sekadar perintah-Nya yang turun atau rahmat-Nya yang turun. Beliau berkata: "Allah turun dengan Dzat-Nya, namun turunnya tidak seperti turunnya makhluk. Kita tidak mengetahui hakikat caranya, karena akal kita tidak mampu menjangkaunya."

2. Sikap Ahlus Sunnah terhadap hadits ini:

Imam Ahmad bin Hanbal berkata: "Kita mengimani hadits ini dan membenarkannya, tanpa menanyakan bagaimana dan tanpa menyerupakan." Ini adalah madzhab seluruh ulama salaf.

3. Perbedaan dengan Jahmiyah dan Mu'tazilah:

Hadits ini diriwayatkan dalam bab "Menanggapi Jahmiyah" karena kelompok Jahmiyah mengingkari sifat-sifat Allah. Mereka berkata: "Mustahil Allah turun, karena itu berarti Allah berpindah tempat." Maka Ahlus Sunnah menjawab: "Kami mengimani berita Rasulullah ﷺ, dan kami tidak menetapkan cara (kaifiyah) tertentu. Kami tidak mengatakan Allah berpindah seperti makhluk berpindah."

4. Hikmah di balik turunnya Allah:

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat mulia. Allah membuka pintu ampunan dan mengabulkan doa sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bangun di waktu tersebut. Ini adalah dorongan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu yang penuh berkah ini.

5. Pelajaran dari hadits ini:

  • Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya
  • Allah Maha Kuasa mengabulkan permintaan
  • Allah Maha Pengampun bagi yang memohon ampun
  • Waktu sepertiga malam terakhir adalah waktu mustajab

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah ditanya oleh seorang lelaki yang mengingkari sifat-sifat Allah. Lelaki itu berkata: "Wahai Abu Hanifah, bagaimana pendapatmu tentang Allah yang turun ke langit dunia?"

Maka Imam Abu Hanifah menjawab: "Allah turun dengan perintah-Nya, bukan dengan Dzat-Nya."

Namun kemudian beliau menarik perkataannya dan berkata: "Aku salah. Yang benar adalah Allah turun dengan Dzat-Nya, namun dengan cara yang tidak kita ketahui. Karena jika aku katakan 'turun dengan perintah-Nya', maka itu berarti aku telah menakwilkan (mengubah) makna ayat dan hadits."

Kisah ini menunjukkan betapa hati-hatinya para ulama dalam berbicara tentang sifat Allah. Mereka tidak berani menetapkan cara, dan tidak berani mengubah makna. Mereka hanya berkata: "Kami mengimani, dan kami tidak bertanya bagaimana."

Kesimpulan Praktis

  1. Imani hadits ini dengan keyakinan yang mantap bahwa Allah benar-benar turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, dengan cara yang layak bagi keagungan-Nya.
  2. Jangan tanyakan "bagaimana" caranya, karena itu di luar jangkauan akal manusia.
  3. Jangan ubah maknanya dengan mengatakan "yang turun adalah rahmat-Nya" atau "perintah-Nya", karena ini adalah penakwilan yang keliru.
  4. Amalkan sunnahnya dengan bangun di sepertiga malam terakhir untuk berdoa, meminta, dan beristighfar kepada Allah.
  5. Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat tentang sifat Allah, karena para salaf tidak pernah memperdebatkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.