Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa Allah memiliki sifat "tangan" (yad) secara hakiki, yang tidak sama dengan tangan makhluk, dan bahwa pada hari kiamat Allah akan melipat langit serta bumi dengan tangan-Nya, lalu menunjukkan keagungan-Nya sebagai Raja yang sejati. Hadits ini termasuk dalil pokok Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya, tanpa menyerupakan (tasybih), tanpa menolak (ta'thil), dan tanpa memalingkan maknanya (ta'wil). Imam Abu Dawud sengaja meletakkannya dalam "Bab Menjawab Jahmiyah" untuk membantah kelompok yang menolak sifat-sifat khabariyah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
QS. Az-Zumar [39]: 67
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Terjemahan: "Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Menjawab Jahmiyah, no. 4732. Hadits semakna juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar, dengan lafaz yang menegaskan sifat "yadain" (dua tangan) Allah.
Kaitan dengan ulama:
- Imam Abu Dawud menempatkan hadits ini dalam bab khusus untuk membantah Jahmiyah — menunjukkan bahwa beliau memandangnya sebagai dalil pokok dalam masalah sifat.
- Imam Al-Bukhari dalam Kitab Tauhid dari Shahih-nya juga membawakan hadits semakna untuk menetapkan sifat tangan Allah.
- Ibn Khuzaimah dalam Kitab Tauhid dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah menjadikan hadits ini sebagai landasan aqidah Ahlus Sunnah tentang sifat yad.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa dan Ibn Qayyim dalam Ash-Shawa'iq al-Mursalah sering mengutip hadits ini untuk menetapkan sifat-sifat khabariyah secara hakiki tanpa ta'wil.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan ayat Az-Zumar 67 dengan makna yang sejalan: Allah menetapkan bagi diri-Nya tangan dan genggaman yang hakiki, tanpa menyerupakan dengan makhluk.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa pada hari kiamat Allah akan melipat langit-langit, lalu mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, dan berfirman: "Akulah Raja. Di mana orang-orang yang sombong dan angkuh?" Kemudian Allah melipat bumi dan mengambilnya dengan tangan-Nya yang lain, dan mengulangi seruan yang sama. Ini menunjukkan keagungan Allah, kehinaan para thaghut dan orang sombong di hadapan-Nya, serta menetapkan sifat "tangan" bagi Allah.
Pemahaman ulama dalam daftar:
- Imam Abu Dawud — beliau memberi judul bab "Bab Menjawab Jahmiyah", artinya hadits ini dijadikan senjata ilmiah untuk membantah Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah. Ini menunjukkan manhaj beliau: menetapkan sifat sebagaimana datangnya.
- Ibn Khuzaimah dalam Kitab Tauhid berkata bahwa hadits ini adalah dalil bahwa Allah memiliki dua tangan yang hakiki, dan siapa yang menolaknya berarti menolak wahyu. Beliau menegaskan: "Kami menetapkan bagi Allah dua tangan, kanan dan yang lain, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, tanpa menyerupakan dan tanpa menolak."
- Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad membawakan hadits ini dalam bab penetapan sifat yad, dan menyebutkan bahwa ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang diwarisi dari salaf.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini termasuk "hadits-hadits sifat" yang wajib diimani secara hakiki, tanpa ta'wil (memalingkan makna), tanpa ta'thil (menolak), dan tanpa takyif (menanyakan bagaimana). Beliau berkata: "Yang wajib atas kita adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, dan meniadakan apa yang Allah tiadakan dari diri-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk."
- Ibn Qayyim dalam Ash-Shawa'iq al-Mursalah menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan Allah benar-benar memiliki tangan, dan bahwa "melipat" serta "mengambil" adalah perbuatan Allah yang hakiki pada hari kiamat.
- As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Az-Zumar 67 menjelaskan: "Ayat ini dan hadits-hadits semakna menetapkan sifat yad (tangan) bagi Allah secara hakiki, dan bahwa bumi serta langit berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat. Ini menunjukkan keagungan dan kekuasaan-Nya yang sempurna."
Perbedaan pendapat di antara ulama:
- Jahmiyah dan Mu'tazilah menolak sifat tangan dan menakwilkan "yad" sebagai "kekuasaan" atau "nikmat". Ini ditolak oleh seluruh ulama dalam daftar.
- Asya'irah sebagian menakwilkan "yad" sebagai "qudrah" (kekuasaan). Namun Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim membantah ta'wil ini dengan dalil bahwa hadits menyebut "dua tangan" (yadain), dan "kekuasaan" tidak berbilang dua. Juga karena Nabi ﷺ menyebut "tangan kanan" dan "tangan yang lain", yang tidak mungkin ditakwilkan sebagai kekuasaan.
- Ahlus Sunnah (mayoritas ulama dalam daftar) menetapkan sifat yad secara hakiki, tanpa menyerupakan, tanpa menolak, dan tanpa menanyakan bagaimana.
Yang paling kuat menurut dalil:
Pendapat Ahlus Sunnah — menetapkan sifat tangan bagi Allah secara hakiki, sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa tasybih dan tanpa ta'wil. Ini adalah madzhab Imam Ahmad, Al-Bukhari, Abu Dawud, Ibn Khuzaimah, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan As-Sa'di.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits-hadits sifat seperti ini. Beliau menjawab: "Kami mengimani hadits-hadits ini sebagaimana datangnya, dan kami tidak menolak satu pun darinya." Ketika sebagian orang mencoba menakwilkan "yad" sebagai "kekuasaan", Imam Ahmad berkata: "Tidak boleh menakwilkan hadits Nabi ﷺ dengan akal. Yang wajib adalah menerimanya dengan tunduk dan pasrah."
Abdullah bin al-Mubarak juga berkata: "Kami tidak menambahkan dan tidak mengurangi. Kami menerima hadits Nabi ﷺ apa adanya, dan kami tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya."
Hikmahnya: Salafus shalih sangat berhati-hati dalam masalah sifat Allah. Mereka menetapkan apa yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, dan menolak apa yang ditolak, tanpa menambah, mengurangi, atau menakwilkan dengan akal semata.
Kesimpulan Praktis
- Tetapkan sifat tangan bagi Allah sebagaimana datang dalam hadits ini, tanpa menyerupakan dengan makhluk, tanpa menolak, dan tanpa menakwilkan dengan makna lain.
- Imami hadits ini sebagai bagian dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, sebagaimana dipahami oleh Imam Abu Dawud, Al-Bukhari, Ibn Khuzaimah, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan As-Sa'di.
- Jauhi ta'wil yang batil seperti menakwilkan "yad" sebagai "kekuasaan" atau "nikmat", karena hadits menyebut "dua tangan" dan "tangan kanan" yang tidak mungkin ditakwilkan demikian.
- Renungkan keagungan Allah dan kehinaan orang sombong di hari kiamat, sehingga kita tawadhu dan menjauhi kesombongan.
- Pelajari aqidah dari sumber yang benar, yaitu Al-Qur'an, hadits shahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.