Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa kaum mukmin akan melihat Allah ﷻ pada Hari Kiamat, sebagaimana mereka melihat bulan purnama tanpa kesulitan dan tanpa berdesakan. Nabi ﷺ menjadikan penglihatan terhadap bulan sebagai perumpamaan (bukan penyerupaan) untuk memudahkan pemahaman, lalu menegaskan bahwa Allah jauh lebih agung daripada makhluk-Nya. Penetapan ru'yah (melihat Allah) ini adalah aqidah Ahlus Sunnah yang disepakati para ulama dalam daftar rujukan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi dasar:
QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
Terjemahan: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri."
QS. Al-Qiyamah [75]: 23
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Terjemahan: "Kepada Tuhannya mereka melihat."
Hadits terkait (shahih):
Dari Jarir bin Abdullah al-Bajali رضي الله عنه, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا
"Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Ru'yah.
- Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menukil ayat-ayat ru'yah dan menegaskan penetapannya.
- Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim menegaskan ru'yah sebagai aqidah Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab aqidah mereka.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan kesepakatan Ahlus Sunnah atas penetapan ru'yah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil hadits-hadits ru'yah dan bantahan terhadap yang menolaknya.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Abu Razin al-Uqayli رضي الله عنه bertanya kepada Nabi ﷺ: apakah setiap kita akan melihat Rabb-nya pada Hari Kiamat? Nabi ﷺ menjawab dengan pertanyaan: "Bukankah kalian semua melihat bulan pada malam purnama tanpa kesulitan?" Abu Razin menjawab: "Ya." Nabi ﷺ bersabda: "Maka Allah lebih agung (dan lebih mulia)."
Pemahaman ulama:
- Penetapan ru'yah (melihat Allah) di akhirat. Ini adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Ibn Katsir dalam tafsir QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23 menyatakan bahwa ayat ini adalah dalil paling jelas bahwa kaum mukmin akan melihat Allah di akhirat. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits-hadits ru'yah mutawatir dan menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah.
- Perumpamaan bulan bukan penyerupaan. Nabi ﷺ menggunakan bulan purnama sebagai perumpamaan kemudahan penglihatan, bukan menyerupakan Allah dengan bulan. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa tasybih (penyerupaan) dilarang, dan Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura [42]: 11)
- Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar: Sebagian ulama mu'tazilah dan sebagian ahli bid'ah menolak ru'yah, namun para ulama dalam daftar rujukan (Ibn Katsir, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, an-Nawawi, Ibnu Hajar, as-Sa'di) sepakat menetapkannya. As-Sa'di dalam Tafsir-nya menegaskan bahwa melihat Allah adalah kenikmatan tertinggi penghuni surga.
- "Sendirian dengan-Nya" (mukhlian bihi). Ini menunjukkan bahwa setiap mukmin akan melihat Allah secara langsung tanpa terhalang, tanpa berdesakan, dan tanpa saling menghalangi — berbeda dengan penglihatan manusia terhadap objek yang jauh atau ramai.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat:
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
"Kepada Tuhannya mereka melihat" (QS. Al-Qiyamah [75]: 23)
diturunkan, sebagian orang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang maknanya. Beliau menjawab dengan perumpamaan melihat bulan purnama, sebagaimana dalam hadits Abu Razin ini. Para sahabat menerima penjelasan itu dengan iman dan tunduk, tanpa menolak dan tanpa menyerupakan. Inilah jalan salaf: menetapkan sifat Allah sebagaimana datangnya, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan). Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab-kitabnya menegaskan prinsip ini sebagai jalan Ahlus Sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Tetapkan aqidah ru'yah: Yakinlah bahwa kaum mukmin akan melihat Allah ﷻ di akhirat sebagai kenikmatan tertinggi, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.
- Jauhi penyerupaan: Jangan memahami hadits ini sebagai penyerupaan Allah dengan bulan. Bulan hanya perumpamaan kemudahan penglihatan.
- Jauhi penolakan: Jangan menolak hadits-hadits ru'yah yang shahih, karena itu aqidah Ahlus Sunnah.
- Rindu bertemu Allah: Perbanyak amal shalih dan doa agar termasuk yang melihat Allah di surga.
- Belajar kepada ulama: Rujuklah penjelasan aqidah ini kepada kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah dalam daftar, seperti Syarh Shahih Muslim (an-Nawawi), Fathul Bari (Ibnu Hajar), Majmu' al-Fatawa (Ibn Taymiyyah), dan Tafsir Ibn Katsir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.