Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memberikan dua kabar gembira sekaligus perintah penting. Pertama, Allah menjanjikan orang-orang beriman akan melihat-Nya di surga dengan jelas, sebagaimana melihat bulan purnama tanpa keraguan. Kedua, Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk menjaga shalat fajar (Subuh) dan shalat sebelum matahari terbenam (Ashar), karena kedua shalat inilah yang disaksikan para malaikat dan menjadi kunci untuk meraih kenikmatan melihat Allah kelak.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Ayat yang dibaca Rasulullah ﷺ adalah firman Allah dalam QS. Thaha [20]: 130:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ
"Maka sabarlah engkau atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. Dan bertasbihlah pada waktu-waktu di malam hari dan pada tepi-tepi siang, agar engkau merasa tenang."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab as-Sunnah, Bab fi Ru’yah (Bab tentang Melihat Allah). Juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 7434), Imam Muslim (no. 633), dan lainnya dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (5/155) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama tentang ru’yah (melihat Allah) di akhirat bagi orang-orang beriman.
Penjelasan Ulama:
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari (13/422) menjelaskan bahwa perumpamaan melihat Allah seperti melihat bulan purnama menunjukkan bahwa penglihatan itu nyata dan jelas, tanpa ada penghalang. Beliau mengutip pernyataan Imam al-Bukhari bahwa seluruh ahlus sunnah sepakat tentang ru’yah Allah kelak.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (16/455) menegaskan bahwa hadits ini sekaligus menunjukkan bahwa shalat Subuh dan Ashar sangat istimewa karena menjadi waktu di mana malaikat silih berganti dan amalan diangkat.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (4/127) menjelaskan bahwa “tidak ada keraguan dalam melihat-Nya” maksudnya adalah tidak ada kesulitan, kebingungan, atau bayangan, sebagaimana melihat bulan purnama yang sangat terang dan jelas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki dua pokok bahasan utama:
Pertama: Penetapan Ru’yah (Melihat Allah) di Akhirat.
Rasulullah ﷺ membuat perumpamaan yang sangat mudah dipahami. Beliau berkata, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini.” Perumpamaan ini bukanlah menyerupakan Allah dengan bulan, tetapi menyerupakan cara melihat-Nya: yaitu tanpa terhalang, tanpa berdesak-desakan, dan tanpa keraguan. Sebagaimana kita melihat bulan dengan mata telanjang dan penuh keyakinan, demikian pula orang mukmin akan melihat Allah di surga kelak dengan penglihatan yang sempurna, sebagaimana dijelaskan oleh Imam ath-Thahawi dalam al-‘Aqidah ath-Thahawiyah yang disyarah oleh Syaikh al-Albani.
Perumpamaan “tidak berdesakan” (lā tudhāmmūn) ditafsirkan oleh Imam al-Khaththabi dalam Ma’alim as-Sunan sebagai “tidak ada kesulitan atau pengaburan dalam penglihatan”. Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah menegaskan bahwa keyakinan akan ru’yah adalah bagian dari akidah ahlus sunnah, berbeda dengan kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah yang mengingkarinya.
Kedua: Perintah Menjaga Shalat Subuh dan Ashar.
Setelah menjelaskan kenikmatan melihat Allah, Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika kalian mampu untuk tidak terhalang dari shalat sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam, maka lakukanlah.” Ibnul Qayyim dalam al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa shalat Subuh dan Ashar adalah waktu penyaksian malaikat, dan pahala keduanya sangat besar. Imam Ibnu Katsir dalam tafsir QS. Thaha: 130 menyebutkan bahwa ayat ini memerintahkan shalat-shalat fardhu pada waktunya, dan khususnya menekankan shalat Subuh (sebelum terbit) dan Ashar (sebelum terbenam). Beliau meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain shalat Subuh dan Isya, dan seandainya mereka tahu keutamaan keduanya, mereka pasti akan mendatanginya walau merangkak.”
Shalat Subuh dan Ashar adalah tolok ukur keimanan, karena keduanya sering dilalaikan. Menjaga kedua shalat ini berarti menjaga hubungan dengan Allah dan merindukan pertemuan dengan-Nya yang akan diwujudkan dengan melihat-Nya kelak.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali, perawi hadits ini, bahwa suatu hari beliau melihat keindahan bulan purnama dan teringat dengan sabda Nabi ﷺ. Lalu beliau menangis, karena sangat rindu untuk dapat melihat Allah. Kisah ini disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Isabah (1/458) bahwa Jarir dikenal sebagai sahabat yang sangat mencintai ibadah dan banyak menangis ketika mengingat kematian dan akhirat.
Dikisahkan pula bahwa Fudhail bin ‘Iyadh – seorang ulama besar dari kalangan tabi’ut tabi’in – pada suatu malam keluar dan melihat bulan purnama. Beliau pun menangis dan berkata, “Wahai seandainya aku dapat melihat-Nya… sungguh kenikmatan melihat-Nya jauh melebihi bulan yang indah ini.” Kemudian beliau mengingat hadits ini dan bersegera menunaikan shalat Subuh dengan penuh kekhusyukan, karena ingin meraih janji ru’yah.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa orang beriman akan melihat Allah di surga dengan penglihatan yang jelas dan nyata, sebagai kenikmatan terbesar. Jadikan keyakinan ini sebagai motivasi untuk terus beramal.
- Jagalah shalat Subuh dan Ashar dengan sungguh-sungguh, tepat waktu, dan berjamaah di masjid bagi laki-laki. Kedua shalat ini menjadi kunci untuk meraih kenikmatan melihat Allah dan bukti keimanan kita.
- Bersemangatlah dalam ibadah terutama di kedua waktu tersebut, agar kita tidak termasuk golongan yang dilalaikan.
- Perbanyaklah doa agar Allah menganugerahkan kita kenikmatan melihat wajah-Nya yang mulia di surga kelak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.