Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan besarnya penciptaan malaikat Allah, khususnya malaikat pemikul ‘Arsy, sebagai bukti keagungan Allah dan kebenaran berita Nabi ﷺ tentang alam gaib. Hadits ini juga menjadi bantahan terhadap Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah dan berita-berita gaib yang shahih. Kita wajib mengimaninya tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk dan tanpa menolak maknanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Sunnah, Bab Tentang Jahmiyah, dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu.
Teks hadits:
<p>عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ»</p>
Terjemahan: Dari Jabir bin ‘Abdullah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Aku telah diizinkan untuk menceritakan tentang salah satu malaikat Allah dari pemikul ‘Arsy, bahwa sesungguhnya jarak antara daun telinganya sampai bahunya adalah perjalanan tujuh ratus tahun.”
Dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan keagungan malaikat dan ‘Arsy:
<p>الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ</p>
QS. Fathir [35]: 1 — “Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang memiliki sayap, masing-masing ada yang dua, tiga, dan empat. Dia menambah pada penciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang agung, dan Allah Mahakuasa menciptakan mereka dengan bentuk dan ukuran yang luar biasa.
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits tentang sifat-sifat dan berita gaib yang wajib diimani. Imam Abu Dawud menempatkannya dalam Kitab Sunnah, Bab Tentang Jahmiyah, karena Jahmiyah adalah kelompok yang menolak sifat-sifat Allah dan banyak berita gaib, bahkan menakwilkan atau menolak hadits-hadits seperti ini.
Ibn Katsir rahimahullah dalam tafsirnya ketika membahas ayat-ayat tentang malaikat menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk yang sangat besar dan kuat, dan bahwa para pemikul ‘Arsy adalah malaikat yang paling besar penciptaannya. Beliau menyebutkan atsar-atsar tentang besarnya malaikat dan menerimanya sebagai bagian dari berita gaib yang shahih.
Ibn Taymiyyah rahimahullah dalam kitab-kitabnya seperti Majmu‘ al-Fatawa menegaskan bahwa berita tentang sifat-sifat dan makhluk-makhluk gaib harus diterima sebagaimana datangnya, tanpa tahrif (mengubah makna), ta‘thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk). Beliau juga membantah Jahmiyah yang menolak banyak hadits sifat dan berita gaib.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Hadi al-Arwah dan kitab-kitabnya tentang ruh dan malaikat menjelaskan bahwa malaikat memiliki bentuk yang agung, dan bahwa jarak antara daun telinga dan bahu malaikat pemikul ‘Arsy adalah perjalanan tujuh ratus tahun. Ini menunjukkan betapa besarnya makhluk Allah, dan betapa kecilnya manusia di hadapan keagungan Allah.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim ketika membahas hadits-hadits tentang malaikat menegaskan bahwa hadits-hadits seperti ini wajib diimani dan tidak boleh ditolak atau ditakwilkan dengan takwilan yang menyimpang. Beliau juga menjelaskan bahwa berita tentang besarnya malaikat adalah bagian dari iman kepada yang gaib.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang keagungan malaikat menunjukkan kekuasaan Allah dan kebenaran risalah Nabi ﷺ, karena beliau diberi izin untuk menceritakan hal-hal gaib yang tidak diketahui manusia.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa‘di rahimahullah dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk yang Allah ciptakan dari cahaya, memiliki sayap, dan sangat taat kepada Allah. Beliau juga menegaskan bahwa berita tentang besarnya malaikat adalah bagian dari keimanan kepada yang gaib.
Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menghasankan hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan menjelaskan bahwa hadits ini shahih atau hasan dan wajib diimani.
Adapun makna “tujuh ratus tahun” adalah perjalanan yang sangat jauh, menunjukkan besarnya penciptaan malaikat tersebut. Ini bukan berarti kita membayangkan bentuknya secara detail, karena kita tidak mengetahui hakikatnya secara sempurna. Kita hanya mengimani berita ini sebagaimana datangnya.
Perlu dicatat bahwa sebagian ulama berbeda pendapat tentang derajat hadits ini. Sebagian menilai shahih, sebagian menghasankan, dan sebagian melemahkan. Namun yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa hadits ini hasan atau shahih dan dapat dijadikan hujjah dalam bab sifat dan berita gaib, sebagaimana dinyatakan oleh al-Albani dan lainnya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sebagian salaf, ketika mendengar hadits-hadits tentang besarnya malaikat dan ‘Arsy, mereka bertambah iman dan tawadhu. Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata tentang keagungan Allah dan makhluk-Nya, sehingga membuat hati para pendengarnya bergetar dan menangis karena takut kepada Allah. Fudail bin ‘Iyadh rahimahullah juga dikenal sering menangis ketika membaca atau mendengar ayat-ayat dan hadits-hadits tentang keagungan Allah dan hari akhir.
Hikmahnya: semakin kita mengetahui keagungan makhluk Allah, semakin kita sadar betapa kecilnya diri kita, dan semakin kita tunduk kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Wajib mengimani berita gaib yang shahih, termasuk besarnya malaikat pemikul ‘Arsy, tanpa menolak atau menyerupakan dengan makhluk.
- Hadits ini menunjukkan keagungan Allah dan kebenaran risalah Nabi ﷺ.
- Hendaknya kita menjauhi pemahaman Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah dan berita gaib yang shahih.
- Hendaknya kita merujuk kepada ulama Ahlus Sunnah dalam memahami hadits-hadits seperti ini, dan tidak menakwilkan dengan takwilan yang menyimpang.
- Semakin kita mengenal keagungan Allah dan makhluk-Nya, semakin kita tawadhu dan taat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.