Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, pada Kitab Sunnah, Bab tentang Jahmiyah. Teks yang Anda sebutkan bukanlah matan (isi) hadits secara utuh, melainkan keterangan jalur periwayatan (sanad) bahwa Imam Abu Dawud menerima hadits ini melalui jalur Simak bin Harb, dengan makna yang sama seperti hadits panjang sebelumnya. Hadits ini berkaitan dengan penetapan sifat-sifat Allah dan bantahan terhadap kelompok Jahmiyah yang menolak sifat-sifat Allah. Karena teks yang tersedia hanya berupa keterangan sanad, penjelasan isi lengkapnya perlu merujuk pada matan hadits sebelumnya dalam kitab yang sama.
Rujukan Ulama & Dalil
Karena teks yang Anda berikan hanya memuat sanad (bukan matan lengkap), saya tidak akan mengarang isi matan hadits. Yang dapat dipastikan dari teks tersebut adalah:
- Perawi: Simak bin Harb (seorang tabi'in, termasuk dalam generasi setelah sahabat).
- Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab tentang Jahmiyah.
- Hadits ini memiliki matan panjang yang telah disebutkan sebelumnya, dan jalur ini hanya menguatkan makna yang sama.
Adapun dalil Al-Qur'an yang sangat relevan dengan tema bab ini (penetapan sifat Allah dan bantahan terhadap Jahmiyah) adalah firman Allah:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
QS. Thaha [20]: 5
Terjemahan: "Yang Maha Pengasih, Dia beristiwa' (bersemayam/tinggi) di atas 'Arsy."
Ayat ini menjadi dasar bagi Ahlus Sunnah dalam menetapkan sifat istiwa' bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa menolak maknanya — sebagaimana dipahami oleh para ulama seperti Ibn Katsir, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim.
Hadits terkait dari sahabat: Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ menyebutkan tentang turunnya Allah pada sepertiga malam terakhir. Hadits ini juga menjadi dalil penetapan sifat nuzul (turun) bagi Allah, yang ditolak oleh Jahmiyah.
Penjelasan Rinci
Jahmiyah adalah kelompok yang muncul pada awal Islam, dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan. Mereka menolak seluruh sifat Allah, bahkan mengatakan Allah tidak memiliki sifat sama sekali, dan mereka menakwilkan ayat-ayat sifat dengan takwil yang menyimpang. Imam Abu Dawud, sebagai ulama hadits abad ke-3 H, sengaja membuat bab khusus tentang Jahmiyah dalam kitab Sunan-nya untuk membantah pemahaman mereka.
Para ulama dalam daftar rujukan seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, dan Ibn Katsir menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan hadits, tanpa tahrif (mengubah makna), ta'thil (menolak), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan). Imam Ahmad bin Hanbal, dalam kitab Al-Radd 'ala al-Jahmiyyah, membantah Jahmiyah dengan tegas dan menyatakan bahwa mereka adalah kelompok yang paling berbahaya bagi umat Islam karena menolak sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam nash.
Adapun jalur periwayatan Simak bin Harb, para ulama hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Ali bin al-Madini menilai Simak sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya) namun ada sedikit catatan dalam riwayatnya dari beberapa guru. Namun, karena hadits ini memiliki jalur lain yang menguatkan, maka maknanya tetap dapat diterima — sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu Dawud sendiri dengan menyebutkan jalur ini sebagai penguat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang Jahmiyah, lalu beliau menjawab dengan tegas bahwa mereka adalah kelompok yang menolak sifat Allah dan telah keluar dari pemahaman Ahlus Sunnah. Beliau bahkan menulis kitab khusus untuk membantah mereka. Suatu ketika, seorang Jahmiyah datang kepada Imam Ahmad dan bertanya, "Bagaimana engkau menetapkan Allah bersemayam di atas 'Arsy?" Imam Ahmad menjawab dengan tenang, "Aku menetapkannya sebagaimana Allah menetapkan untuk diri-Nya sendiri, dan aku tidak menanyakan bagaimana." Jawaban ini menunjukkan sikap Ahlus Sunnah: menerima nash tanpa menolak dan tanpa menyerupakan. (Kisah ini disebutkan secara makna dalam kitab-kitab biografi Imam Ahmad dan Al-Radd 'ala al-Jahmiyyah).
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini menguatkan pentingnya menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam Al-Qur'an dan hadits, tanpa menolak atau menyerupakan.
- Jahmiyah adalah kelompok yang menyimpang dalam masalah sifat Allah, dan para ulama Ahlus Sunnah seperti Imam Ahmad, Ibn Taymiyyah, dan Ibn Qayyim telah membantah mereka dengan dalil.
- Bagi orang awam, cukup memahami bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna, kita menerimanya dengan iman, tanpa bertanya "bagaimana" dan tanpa menolak.
- Jika ingin mempelajari lebih dalam, rujuklah kitab-kitab ulama yang terpercaya seperti Al-Radd 'ala al-Jahmiyyah karya Imam Ahmad, Majmu' al-Fatawa karya Ibn Taymiyyah, dan Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyyah karya Ibn Qayyim.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.