Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 472 tentang Keutamaan datang ke masjid sesuai niatnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa masjid adalah tempat yang penuh keutamaan, dan siapa pun yang mendatanginya dengan niat tertentu, maka ia akan mendapatkan sesuai dengan niat dan tujuannya. Jika datang untuk ibadah dan ketaatan, ia mendapat pahala dan keutamaan; jika datang untuk urusan dunia semata, maka itulah yang ia dapatkan. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mendorong kita untuk memurnikan niat ketika mendatangi masjid.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab Ash-Shalah, bab Keutamaan Duduk di Masjid, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

Teks hadits:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ الأَزْدِيُّ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "مَنْ أَتَى الْمَسْجِدَ لِشَىْءٍ فَهُوَ حَظُّهُ"

Terjemahan: "Barangsiapa yang datang ke masjid untuk sesuatu, maka itulah yang menjadi bagiannya."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan masjid dan niat:

QS. At-Taubah [9]: 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Terjemahan: "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

QS. Al-Baqarah [2]: 284 (tentang niat):

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Terjemahan: "Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Hadits terkait tentang niat, dari Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Terjemahan: "Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan."

Penjelasan Rinci

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam kitab Ash-Shalah, pada bab yang membahas keutamaan duduk di masjid. Hadits ini memiliki sanad yang dinilai oleh sebagian ulama memiliki kelemahan, namun maknanya tetap diterima dan didukung oleh hadits-hadits lain tentang niat dan keutamaan masjid.

Makna hadits secara umum:

Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang datang ke masjid untuk sesuatu, maka itulah yang menjadi bagiannya." Para ulama menjelaskan makna ini dengan beberapa pemahaman:

Pertama, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits-hadits tentang niat, bahwa seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan ketika mendatangi masjid. Jika ia datang untuk shalat, dzikir, atau menuntut ilmu, maka ia mendapat pahala sesuai niatnya. Jika ia datang untuk urusan dunia, maka ia hanya mendapat urusan dunia itu, tanpa pahala ibadah.

Kedua, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan prinsip yang sama: bahwa setiap orang mendapatkan sesuai niat dan tujuannya. Beliau menegaskan pentingnya menghadirkan niat yang benar sebelum melakukan amal, termasuk ketika masuk masjid.

Ketiga, Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan untuk memperbaiki niat. Siapa yang datang ke masjid dengan niat ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka ia akan mendapatkan pahala dan keutamaan. Sebaliknya, siapa yang datang hanya untuk urusan dunia, maka ia tidak mendapatkan pahala ibadah, meskipun urusan dunianya mungkin tercapai.

Keempat, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam penjelasan beliau tentang kaidah-kaidah niat menegaskan bahwa amal seseorang dinilai berdasarkan niatnya. Masjid adalah tempat yang mulia, dan mendatanginya seharusnya disertai dengan niat yang mulia pula.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama menilai hadits ini dha'if (lemah) dari sisi sanad, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Dha'if Sunan Abi Dawud. Namun, maknanya tetap shahih dan didukung oleh hadits "innamal a'malu bin niyyat" yang mutawatir. Jadi, meskipun sanadnya diperbincangkan, kandungan maknanya tetap dapat diterima dan diamalkan.

Kaitan dengan keutamaan duduk di masjid:

Hadits ini diletakkan oleh Imam Abu Dawud dalam bab keutamaan duduk di masjid, karena mengandung pelajaran bahwa orang yang datang ke masjid dengan niat beribadah dan duduk di dalamnya untuk ketaatan, maka ia akan mendapatkan bagian pahala yang besar. Sebaliknya, orang yang datang hanya untuk urusan dunia, maka ia tidak mendapatkan keutamaan tersebut.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat tentang memakmurkan masjid (QS. At-Taubah: 18) menjelaskan bahwa memakmurkan masjid mencakup mendatanginya dengan niat ibadah, duduk di dalamnya untuk dzikir dan ilmu, serta menjauhkan diri dari perkara yang sia-sia.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Al-Hasan al-Bashri رحمه الله, seorang tabi'in yang terkenal, pernah berkata tentang pentingnya niat dalam mendatangi masjid. Beliau mengingatkan para muridnya bahwa seseorang bisa masuk masjid dengan dua keadaan: ada yang datang untuk Allah dan ada yang datang untuk kepentingan lain. Beliau mengatakan bahwa orang yang datang ke masjid dengan niat ibadah, maka setiap langkahnya bernilai pahala, dan duduknya di masjid bernilai ibadah.

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله juga dikenal sangat menjaga niat. Beliau pernah berkata bahwa ilmu yang tidak disertai niat yang benar tidak akan membawa berkah. Hal ini sejalan dengan makna hadits Abu Hurairah ini, bahwa apa yang kita dapatkan dari masjid tergantung apa yang kita niatkan.

Dari Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله, beliau menegaskan bahwa betapa banyak amal yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal yang besar menjadi kecil karena niat. Ini menunjukkan betapa pentingnya memperbaiki niat ketika mendatangi masjid.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki niat sebelum masuk masjid. Niatkanlah datang ke masjid untuk ibadah, shalat, dzikir, atau menuntut ilmu, bukan untuk urusan dunia semata.
  2. Manfaatkan waktu di masjid untuk ketaatan. Duduk di masjid adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, membaca Al-Qur'an, atau berdzikir.
  3. Sadari bahwa masjid adalah tempat yang mulia. Jaga adab di dalamnya, jangan jadikan masjid sebagai tempat untuk urusan dunia yang tidak bermanfaat.
  4. Setiap orang mendapatkan sesuai niatnya. Jika kita datang dengan niat ibadah, kita akan pulang membawa pahala. Jika datang dengan niat dunia, kita hanya mendapat dunia.
  5. Jangan remehkan niat. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Rajab al-Hanbali, niat adalah ruh dari amal. Tanpa niat yang benar, amal menjadi sia-sia.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?