Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan bahwa setan memiliki kemampuan untuk berjalan dan membisikkan godaan di dalam tubuh manusia, mengalir seperti aliran darah. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang hakikat musuh yang nyata, agar kita tidak lengah. Namun, penting untuk dipahami bahwa ini bukan berarti setan masuk ke dalam tubuh secara fisik dan bercampur dengan darah, melainkan ini adalah isyarat tentang betapa dekatnya bisikan setan kepada hati dan pikiran manusia, serta bagaimana ia menjangkau seluruh potensi godaan dalam diri kita.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab as-Sunnah, Bab "Tentang Anak-Anak Orang Musyrik", nomor 4719, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Lafaz haditsnya:
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ "
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka, dari jalur yang sama, dengan tambahan lafaz: "وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا" (dan aku khawatir setan melemparkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua). Tambahan ini menunjukkan bahwa tujuan Nabi ﷺ menyebutkan hal ini adalah untuk mengingatkan tentang bahaya bisikan setan yang sangat dekat.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah setan bisa mencapai hati manusia melalui jalan darah, lalu membisikkan godaan. Ini adalah hakikat yang Allah ciptakan, dan kita diperintahkan untuk berlindung darinya.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menukil perkataan para ulama bahwa hadits ini menunjukkan betapa cepat dan luasnya jangkauan setan dalam membisikkan was-was, sebagaimana darah mengalir ke seluruh tubuh.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah memahami hadits ini dengan pemahaman yang lurus, tidak terlalu memaksakan makna fisik yang kaku, juga tidak menolak kabar Nabi ﷺ.
1. Makna Zhahir (Tekstual) dan Hakikatnya
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa setan itu makhluk yang diciptakan dari api (sebagaimana firman Allah tentang iblis: "Aku diciptakan dari api"). Api memiliki sifat yang bisa meresap dan menyebar. Maka, Allah memberikan kemampuan kepada setan untuk mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah, sebagai bentuk ujian dan cobaan.
Namun, perlu ditegaskan: ini bukan berarti darah manusia itu sendiri adalah setan, atau setan bercampur menjadi satu dengan darah secara fisik sehingga darah menjadi najis. Yang benar, ini adalah isyarat tentang kedekatan dan kecepatan setan dalam membisikkan godaan ke dalam hati. Sebagaimana darah mencapai seluruh anggota tubuh, demikian pula bisikan setan bisa mencapai seluruh potensi keinginan dan hawa nafsu manusia.
2. Hikmah dan Pelajaran dari Hadits
- Peringatan akan Musuh yang Nyata: Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf [7]: 17, tentang ucapan iblis: "Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka." Ini menunjukkan bahwa setan berusaha masuk dari segala arah, dan hadits ini menjelaskan salah satu caranya, yaitu melalui aliran darah.
- Perintah untuk Selalu Waspada dan Berdzikir: Karena setan mengalir seperti darah, maka kita tidak bisa lengah. Kita diperintahkan untuk selalu berdzikir kepada Allah, karena dzikir adalah benteng yang menghalangi setan. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa hati manusia itu seperti bejana; jika dipenuhi dzikir, tidak ada tempat bagi setan. Jika kosong, maka setan akan mudah masuk.
- Tidak Ada Alasan untuk Berputus Asa: Meskipun setan sangat dekat, Allah memberikan jalan keluar. Allah berfirman dalam QS. An-Nahl [16]: 98: "Apabila kamu membaca Al-Qur'an, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk." Ini adalah senjata utama kita.
3. Pandangan Ulama tentang Was-Was
Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa was-was yang datang dari setan adalah bisikan yang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Namun, seorang mukmin tidak dihukum karena bisikan yang datang, selama ia tidak mengikuti atau mengucapkannya. Yang penting adalah menolaknya dan tidak menuruti. Ini sesuai dengan hadits qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim: "Allah memaafkan umatku atas apa yang dibisikkan oleh hati mereka, selama tidak diucapkan atau diamalkan."
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa pada suatu hari Nabi ﷺ mendatangi rumahnya. Saat itu, di rumah Anas ada ibunya, Ummu Sulaim, dan istrinya. Nabi ﷺ bersabda kepada mereka berdua: "Maukah kalian aku ajari satu doa yang bisa kalian baca?" Mereka menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Bacalah:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ يُشْرِكَ بِكَ شَيْءٌ نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ
(Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui)."
Kemudian Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri anak Adam seperti aliran darah, dan aku khawatir ia melemparkan sesuatu ke dalam hati kalian berdua." (HR. Abu Dawud, dan ini adalah konteks hadits yang sedang kita bahas).
Hikmah dari kisah ini: Nabi ﷺ tidak hanya mengabarkan tentang bahaya setan, tetapi juga langsung memberikan solusi berupa doa. Ini adalah metode pendidikan terbaik: setelah memperingatkan bahaya, beliau memberikan obatnya. Kita pun hendaknya tidak hanya takut kepada setan, tetapi juga aktif berdoa dan berdzikir kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa setan adalah musuh yang nyata dan ia berusaha dengan sangat keras untuk menyesatkan manusia, hingga mengalir seperti darah dalam tubuh.
- Jangan pernah merasa aman dari godaan setan, sekalipun dalam keadaan ibadah. Karena itu, selalu awali dengan ta'awudz (berlindung kepada Allah) sebelum membaca Al-Qur'an atau beramal.
- Perbanyak dzikir kepada Allah, karena dzikir adalah benteng yang paling kuat. Di antaranya dzikir pagi dan petang, serta doa-doa harian yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Jika datang was-was dalam hati, jangan diikuti dan jangan diucapkan. Cukup berpaling darinya dan sibukkan diri dengan ketaatan. Insya Allah was-was itu akan hilang.
- Jangan berputus asa karena seringnya was-was. Selama seorang hamba membenci was-was tersebut dan berusaha menolaknya, itu adalah tanda keimanan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Itu adalah iman yang murni" (HR. Muslim).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.