Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4707 tentang Kisah Nabi Musa dan Khidir tentang takdir

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah Nabi Musa ‘alaihissalam bersama Nabi Khidir ‘alaihissalam, tepatnya ketika Khidir membunuh seorang anak kecil. Peristiwa ini adalah bagian dari ujian kesabaran Nabi Musa, dan di dalamnya terdapat pelajaran besar tentang ilmu Allah yang Maha Luas, penetapan takdir, serta hikmah di balik peristiwa yang tampak buruk di mata manusia. Kisah ini juga menegaskan bahwa seorang hamba tidak boleh tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum ia ketahui hikmahnya, karena Allah Maha Mengetahui segala perkara.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman dalam kisah Nabi Musa dan Khidir:

فَانْطَلَقَا حَتّٰى اِذَا لَقِيَا غُلٰمًا فَقَتَلَهٗ قَالَ اَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍۗ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُكْرًا

"Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya bertemu dengan seorang anak laki-laki, maka Khidir membunuhnya. Dia (Musa) berkata, 'Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, padahal dia tidak membunuh seseorang? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar.'" (QS. Al-Kahf [18]: 74)

Hadits:

Hadits yang Anda tanyakan diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Kitab Sunnah, Bab Tentang Takdir (no. 4707), dari sahabat Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Al-Khidr melihat seorang anak kecil yang sedang bermain dengan anak-anak lain, lalu dia memegang kepalanya dan mencabutnya. Maka Musa berkata: 'Apakah engkau membunuh jiwa yang bersih tanpa (ia membunuh) seseorang?'" (HR. Abu Dawud no. 4707)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 122) dan Imam Muslim (no. 2380) dari jalur lain dengan lafaz yang lebih panjang.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir (wafat 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa kisah ini adalah bagian dari ujian Allah kepada Nabi Musa, dan bahwa Khidir bertindak atas perintah dan ilmu dari Allah, bukan atas hawa nafsunya.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (wafat 1376 H) dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) menjelaskan bahwa pembunuhan anak itu adalah untuk menjaga keimanan kedua orang tuanya, karena anak tersebut akan menjadi sebab kesesatan mereka jika ia hidup.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Khidir adalah seorang nabi yang diberi ilmu khusus dari Allah, dan bahwa perbuatannya itu bukanlah dosa karena ia diperintah oleh Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa kisah Nabi Musa dan Khidir dalam Al-Qur'an (QS. Al-Kahfi: 60-82) adalah kisah nyata yang mengandung pelajaran besar. Dalam hadits yang diriwayatkan Ubay bin Ka'b ini, Rasulullah ﷺ menceritakan secara ringkas peristiwa pembunuhan anak kecil oleh Khidir.

1. Siapakah Al-Khidir?

Ulama berbeda pendapat tentang kenabian Khidir. Mayoritas ulama, termasuk Imam Al-Bukhari dan Imam Ibnu Katsir, berpendapat bahwa Khidir adalah seorang nabi yang diberi ilmu khusus dari Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا

"Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu dari sisi Kami." (QS. Al-Kahfi [18]: 65)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa "rahmat" di sini adalah kenabian, dan "ilmu dari sisi Kami" adalah ilmu laduni (ilmu khusus yang Allah berikan langsung tanpa perantara). Ini menunjukkan bahwa Khidir adalah seorang nabi.

2. Mengapa Khidir Membunuh Anak Itu?

Dalam Al-Qur'an, Allah menjelaskan hikmahnya melalui lisan Khidir:

وَاَمَّا الْغُلٰمُ فَكَانَ اَبَوٰهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِيْنَآ اَنْ يُّرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَّكُفْرًا ۚ فَاَرَدْنَآ اَنْ يُّبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَّاَقْرَبَ رُحْمًا

"Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia (anak itu) akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Maka kami menghendaki agar Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak) yang lebih baik kesuciannya dan lebih dekat kasih sayangnya." (QS. Al-Kahfi [18]: 80-81)

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah mengetahui anak itu akan tumbuh menjadi anak yang durhaka dan menyebabkan kedua orang tuanya yang beriman menjadi sesat. Maka Allah memerintahkan Khidir untuk membunuhnya, sebagai rahmat bagi kedua orang tua tersebut, dan Allah menggantinya dengan anak yang shalih.

3. Pelajaran tentang Takdir

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Bab Tentang Takdir, karena di dalamnya terdapat pelajaran bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah. Pembunuhan anak oleh Khidir bukanlah perbuatan zalim, melainkan perintah Allah yang penuh hikmah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa seorang mukmin wajib menerima takdir Allah, baik yang tampak baik maupun yang tampak buruk, karena Allah tidaklah memutuskan sesuatu kecuali dengan hikmah.

4. Pelajaran tentang Adab Menuntut Ilmu

Kisah ini juga mengajarkan adab Nabi Musa dalam menuntut ilmu. Ketika ia melihat sesuatu yang tidak ia pahami, ia bertanya dengan sopan, dan ketika ia tidak sabar, Khidir mengingatkannya. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bolehnya seorang murid bertanya kepada gurunya tentang hal yang belum ia pahami, namun harus dengan adab dan kesabaran.

Story Telling

Dari kisah ini, kita bisa mengambil hikmah dari kesabaran Nabi Musa. Ketika Nabi Musa berjalan bersama Khidir, ia melihat Khidir membunuh anak kecil. Nabi Musa sangat terkejut dan berkata, "Apakah engkau membunuh jiwa yang bersih tanpa ia membunuh seseorang? Sungguh engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar."

Khidir menjawab, "Bukankah aku telah berkata, bahwa engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 75)

Nabi Musa pun meminta maaf dan berjanji tidak akan bertanya lagi. Namun setelah peristiwa ketiga, Nabi Musa tidak mampu bersabar, dan akhirnya Khidir menjelaskan semua hikmah di balik perbuatannya.

Hikmah: Terkadang Allah menakdirkan sesuatu yang tampak buruk di mata kita, namun sebenarnya di balik itu ada kebaikan yang besar. Sebagaimana pembunuhan anak itu tampak kejam, namun ternyata itu adalah rahmat bagi kedua orang tuanya. Maka seorang mukmin hendaknya bersabar dan tidak tergesa-gesa menghakimi takdir Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa semua takdir Allah pasti memiliki hikmah, meskipun kita belum memahaminya.
  2. Jangan tergesa-gesa mengingkari sesuatu yang belum kita ketahui ilmunya, karena ilmu Allah Maha Luas.
  3. Teladani adab Nabi Musa dalam menuntut ilmu: bertanya dengan sopan, bersabar, dan mengakui keterbatasan diri.
  4. Percayalah bahwa Allah tidak menzalimi hamba-Nya sedikit pun, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Kahfi: 81 bahwa Allah mengganti anak itu dengan yang lebih baik.
  5. Perbanyak doa agar Allah memberi kita ilmu yang bermanfaat dan pemahaman yang benar terhadap agama-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.