Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa inti keimanan adalah keyakinan mutlak terhadap takdir Allah. Segala yang menimpa dirimu sudah ditulis sejak awal penciptaan pena (Qalam) di Lauh Mahfuzh, tidak mungkin meleset. Barangsiapa mati tanpa keyakinan ini, ia tidak mengikuti jalan Rasulullah ﷺ. Iman tidak akan sempurna tanpa mengimani qadha dan qadar.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ
(QS. Al-Hadid [57]: 22)
Terjemahan: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Hadits Riwayat Abu Dawud
Teks Arab hadits yang dimaksud (sudah disertakan dalam pertanyaan) – namun untuk kelengkapan, disebut kembali dengan harakat:
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ الْهُذَلِيُّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ رَبَاحٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي عَبْلَةَ، عَنْ أَبِي حَفْصَةَ، قَالَ قَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ لاِبْنِهِ يَا بُنَىَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ . قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ " . يَا بُنَىَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي " .
Terjemahan singkat:
“Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan hakikat iman hingga engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu tidak akan menimpamu. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena. Allah berkata kepadanya: Tulislah! Pena bertanya: Wahai Tuhanku, apa yang harus aku tulis? Allah berfirman: Tulis takdir segala sesuatu hingga hari Kiamat.’ Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barangsiapa mati di luar keyakinan ini, maka ia bukan dari golonganku.’”
Rujukan Ulama
- Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (w. 275 H) dalam Kitab as-Sunnah, Bab at-Taqdir.
- Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) menilainya shahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 4700).
- Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menjelaskan hadits ini dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (syarah hadits ke-4).
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) membahasnya dalam Fath al-Bari ketika menjelaskan hadits tentang takdir.
Penjelasan Rinci
Pertama: Makna “awwala ma khalaqa Allahu al-qalam”
Mayoritas ulama—seperti Ibnu Rajab dan al-Albani—memahami bahwa yang dimaksud dengan “pertama” di sini adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan dari jenis ini (yaitu qalam untuk menulis takdir), bukan berarti tidak ada makhluk lain sebelumnya (seperti ‘Arsy, air, atau roh). Namun maksud hadits adalah mengagungkan kedudukan qalam sebagai alat pencatat takdir.
Kedua: Hubungan dengan hakikat iman
Ubadah bin ash-Shamit—seorang sahabat mulia—menasihati anaknya bahwa iman yang sejati tidak akan tercapai tanpa keyakinan bahwa:
- Apa yang Allah tetapkan pasti terjadi;
- Tidak ada satu pun yang bisa mengubah takdir;
- Segala musibah dan kenikmatan sudah tertulis di Lauh Mahfuzh.
Ketiga: Ancaman bagi yang menolak
Sabda Nabi ﷺ: “Man mata ‘ala ghairi hadza falaysa minni” artinya: barangsiapa mati dengan keyakinan yang bert