Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Adam عليه السلام diciptakan Allah dari tanah yang diambil dari seluruh penjuru bumi. Karena itu, keturunannya (manusia) memiliki keragaman: warna kulit, watak, dan tabiat yang berbeda-beda — ada yang lembut, ada yang kasar, ada yang baik, ada yang buruk. Hadits ini mengajarkan kita mengenal takdir Allah dan menerima keragaman sebagai bagian dari hikmah penciptaan, tanpa merendahkan siapa pun.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hijr [15]: 26
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّن حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.'"
QS. Ar-Rum [30]: 20
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ
Terjemahan: "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه, dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 4693) dalam Kitab Sunnah, Bab Takdir. Hadits semakna juga diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 2955) dari Abu Musa, dan Ahmad dalam Musnadnya. At-Tirmidzi menyebutnya hasan shahih. Al-Albani menilai hadits ini shahih dalam Shahih Abi Dawud.
Kaitan dengan ulama:
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat penciptaan Adam dari tanah, dan menyebut bahwa keragaman manusia mengikuti asal penciptaannya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Tafsir al-Qayyim dan Miftah Dar as-Sa'adah membahas hikmah keragaman tabiat manusia sebagai bagian dari takdir dan ujian.
- As-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menegaskan bahwa penciptaan manusia dari tanah menunjukkan kekuasaan Allah dan asal yang sama, sehingga tidak ada alasan untuk sombong.
Penjelasan Rinci
Makna hadits:
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa Allah menciptakan Adam dari "قَبْضَةٍ" (segenggam tanah) yang diambil dari "جَمِيعِ الأَرْضِ" — seluruh bumi. Maka keturunan Adam mewarisi sifat sesuai asal tanahnya:
- الأَحْمَرُ وَالأَبْيَضُ وَالأَسْوَدُ — warna kulit merah, putih, hitam, dan campuran.
- السَّهْلُ وَالْحَزْنُ — tanah yang datar/lembut dan yang kasar/berbukit, yang menjadi kiasan tabiat lembut dan keras.
- الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ — yang buruk dan yang baik, kiasan akhlak dan watak.
Pemahaman ulama:
Ibn Katsir رحمه الله dalam tafsirnya atas ayat-ayat penciptaan Adam menyebutkan bahwa manusia berbeda-beda warna kulit dan tabiatnya karena asal penciptaannya berbeda-beda dari tanah. Ini bukan dalil pembenaran berbuat buruk, melainkan penjelasan bahwa keragaman adalah takdir Allah.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah رحمه الله dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa tabiat bawaan (thabi'ah) memengaruhi kecenderungan manusia, namun syariat dan taufik Allah tetap menjadi penentu keselamatan. Beliau menegaskan manusia tidak boleh berdalih dengan tabiatnya untuk meninggalkan ketaatan.
As-Sa'di رحمه الله menegaskan bahwa kesamaan asal (tanah) menuntut kerendahan hati; tidak ada manusia yang lebih mulia karena warna atau bentuk, melainkan karena takwa.
Catatan penting tentang takdir:
Hadits ini termasuk bab takdir dalam Sunan Abu Dawud. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam dan Ibn Taymiyyah dalam al-Qadha' wa al-Qadar menegaskan bahwa takdir Allah tidak menghapus tanggung jawab manusia. Manusia tetap diperintah berbuat baik dan menjauhi keburukan, meski tabiatnya berbeda.
Perbedaan pendapat:
Para ulama daftar tidak berselisih dalam memahami hadits ini secara umum. Yang perlu dijaga adalah tidak menjadikan hadits ini dalil untuk merendahkan orang lain berdasarkan warna kulit atau asal, karena Allah telah menegaskan kemuliaan berdasarkan takwa (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab رضي الله عنه pernah berkata dalam khutbahnya: "Sesungguhnya aku tidak melihat kelebihan seseorang atas yang lain kecuali dalam takwa." (makna umum dari atsar yang masyhur). Seorang Arab badui pernah berkata kepada Abu Bakr رضي الله عنه tentang keutamaan, lalu Abu Bakr menjawab bahwa kemuliaan hanyalah dengan takwa. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami keragaman warna dan asal sebagai takdir, bukan ukuran kemuliaan.
Hikmah: Keragaman adalah sunnatullah. Yang membedakan manusia di sisi Allah adalah iman dan takwa, bukan warna kulit atau tabiat bawaan.
Kesimpulan Praktis
- Yakini takdir Allah: Penciptaan Adam dari tanah seluruh bumi dan keragaman keturunannya adalah takdir dan hikmah Allah.
- Jangan sombong: Semua manusia berasal dari tanah; kemuliaan hanya dengan takwa (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
- Jangan merendahkan: Warna kulit, tabiat, dan watak bukan alasan menghina; Islam melarang perendahan berdasarkan hal itu.
- Perbaiki diri: Tabiat bawaan tidak menjadi alasan meninggalkan ketaatan; gunakan taufik Allah untuk berakhlak baik.
- Terima keragaman: Hormati perbedaan sebagai bagian dari sunnatullah, dan fokus pada perbaikan amal.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.