Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa iman itu bertingkat-tingkat: ada yang kuat dan ada yang lemah, dan amal merupakan bagian dari iman. Nabi ﷺ menegur Sa'd bin Abi Waqqash dengan lembut ketika ia menyebut seseorang "mukmin", padahal Nabi ﷺ mengetahui kelemahan imannya, lalu beliau memberi harta kepadanya untuk menguatkan hatinya. Ini menunjukkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, dan bahwa memberi harta kadang dilakukan untuk menjaga seseorang dari kemurtadan atau kelemahan iman.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Dalil tentang Penambahan dan Pengurangan Iman, dari Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Ahmad bin Hanbal dan Ibrahim bin Basysyar, dari Abdurrazzaq dan Sufyan, dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Amir bin Sa'd, dari ayahnya (Sa'd bin Abi Waqqash).
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang semakna, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar bahwa iman bertambah dan berkurang:
QS. Al-Anfal [8]: 2
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka, dan kepada Tuhan mereka mereka bertawakal."
QS. Al-Fath [48]: 4
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."
QS. Al-Muddatstsir [74]: 31 (potongan)
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
"...dan agar orang-orang yang beriman bertambah imannya..."
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan hadits dalam bab iman
Hadits ini disebutkan oleh Imam Abu Dawud dalam bab "Dalil tentang Penambahan dan Pengurangan Iman". Ini menunjukkan bahwa beliau ingin menetapkan bahwa iman itu tidaklah satu tingkatan yang sama pada semua orang, melainkan bertingkat-tingkat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa iman bisa bertambah dan berkurang, karena Nabi ﷺ membedakan antara "mukmin" dan "muslim" dalam konteks ini, dan beliau mengetahui bahwa ada orang yang imannya lemah sehingga perlu diberi harta untuk menguatkannya.
2. Makna teguran Nabi ﷺ kepada Sa'd
Ketika Sa'd berkata tentang seseorang, "Berikan kepadanya karena dia mukmin," Nabi ﷺ menjawab dengan lembut: "أَوْ مُسْلِمٌ" — "Atau dia seorang Muslim." Ini bukan penolakan bahwa orang itu mukmin, tetapi isyarat bahwa imannya belum mencapai tingkat yang sempurna, atau bahwa yang tampak darinya adalah keislaman yang perlu dikuatkan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengoreksi Sa'd dengan kalimat "atau muslim" untuk menunjukkan bahwa tidak semua muslim itu mukmin dengan iman yang sempurna, dan bahwa iman itu bertingkat.
3. Hikmah memberi harta untuk menguatkan iman
Nabi ﷺ bersabda: "إِنِّي لأُعْطِي الرَّجُلَ الْعَطَاءَ وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْهُ مَخَافَةَ أَنْ يُكَبَّ عَلَى وَجْهِهِ" — "Sesungguhnya aku memberi seseorang suatu pemberian, padahal orang lain lebih aku cintai darinya, karena khawatir dia akan terjatuh ke dalam neraka dengan wajahnya."
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memberikan harta kepada orang-orang yang baru masuk Islam atau yang imannya lemah untuk menguatkan hati mereka, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]: 60 tentang salah satu golongan penerima zakat, yaitu "muallaf qulubuhum" (orang yang dilunakkan hatinya). Ini menunjukkan bahwa iman bisa diperkuat dengan cara-cara yang dibolehkan syariat, termasuk dengan memberi harta.
4. Iman bertambah dan berkurang menurut ulama
Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa iman itu ucapan, perbuatan, dan keyakinan hati; ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat bab khusus "Bab Iman Bertambah dan Berkurang" dan membawakan hadits-hadits yang menunjukkan hal ini. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa iman bertambah dan berkurang menurut kesepakatan Ahlus Sunnah, dan bahwa hadits ini termasuk dalilnya.
5. Perbedaan pendapat tentang makna "mukmin" dan "muslim"
Sebagian ulama menjelaskan bahwa dalam hadits ini, "mukmin" dan "muslim" disebutkan secara bergantian, dan Nabi ﷺ mengoreksi Sa'd karena ia memastikan keimanan seseorang yang belum tentu demikian. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak ingin seseorang memastikan keimanan orang lain tanpa ilmu, karena iman adalah perkara batin yang hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Yang paling kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa iman dan Islam bisa berbeda makna ketika disebutkan secara terpisah, tetapi ketika disebutkan bersamaan, keduanya memiliki makna yang berbeda: Islam adalah amal lahir, sedangkan iman adalah keyakinan batin.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, suatu ketika melihat Nabi ﷺ membagikan harta kepada beberapa orang. Sa'd, yang memiliki kecintaan besar kepada Islam dan kepada orang-orang beriman, mengusulkan agar harta itu diberikan kepada seseorang yang ia nilai beriman. Namun Nabi ﷺ, dengan hikmah kenabiannya, menegur dengan lembut: "Atau dia seorang Muslim." Lalu beliau menjelaskan bahwa beliau memberi kepada orang yang imannya masih lemah, sementara ada orang lain yang lebih beliau cintai, karena beliau khawatir orang yang lemah imannya itu akan tergelincir dan masuk neraka.
Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan dalam Fathul Bari bahwa dalam riwayat lain, orang yang dimaksud adalah dari kalangan muallaf yang hatinya perlu dikuatkan. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, bahkan kepada mereka yang imannya masih lemah. Beliau tidak hanya mendoakan, tetapi juga memberikan bantuan materi untuk menjaga iman mereka.
Kesimpulan Praktis
- Iman itu bertambah dan berkurang. Hendaknya kita terus berusaha meningkatkan iman dengan ketaatan, tilawah Al-Qur'an, dan amal saleh, serta menjauhi kemaksiatan yang dapat melemahkan iman.
- Jangan memastikan keimanan seseorang. Kita tidak boleh memastikan bahwa seseorang itu mukmin atau tidak, karena iman adalah perkara batin. Cukup kita menilai yang lahir, dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah.
- Bersikap lembut dalam menasihati. Nabi ﷺ menegur Sa'd dengan kalimat singkat dan lembut, bukan dengan hardikan. Ini mengajarkan kita adab dalam menasihati sesama.
- Membantu orang yang lemah imannya. Sebagaimana Nabi ﷺ memberi harta untuk menguatkan iman, kita pun hendaknya membantu saudara-saudara kita yang lemah imannya dengan cara yang bijak, baik dengan nasihat, doa, maupun bantuan yang dibolehkan syariat.
- Mengikuti pemahaman Ahlus Sunnah. Bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan; bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Taymiyyah, dan Ibnu Rajab al-Hanbali.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.