Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa iman kepada Allah bukan sekadar keyakinan di dalam hati, tetapi mencakup ucapan lisan, keyakinan hati, dan amal perbuatan. Nabi ﷺ menyebutkan rukun-rukun nyata: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, dan menunaikan khumus (seperlima ghanimah). Karena itu, hadits ini menjadi dalil kuat bagi Ahlus Sunnah dalam menolak pemahaman Irja' yang mengeluarkan amal dari hakikat iman.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Baqarah [2]: 277
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala dari Tuhan mereka; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati."
Ayat ini menggandengkan iman dengan amal saleh, shalat, dan zakat dalam satu kesatuan pujian — menunjukkan bahwa amal adalah bagian dari hakikat keimanan, bukan sesuatu yang terpisah darinya.
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Menolak Irja', dari jalur Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما, melalui Abu Jamrah dan Syu'bah, dari Yahya bin Sa'id, dari Imam Ahmad bin Hanbal. Imam Ahmad sendiri adalah salah satu ulama yang paling keras menegakkan bahwa amal termasuk iman, sebagaimana dinukil oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah.
Penjelasan Rinci
1. Konteks hadits — delegasi 'Abdul Qais
Kabilah 'Abdul Qais datang dari Bahrain (wilayah timur jazirah Arab) menemui Nabi ﷺ. Nabi ﷺ menyambut mereka dan langsung mengajarkan pokok-pokok iman. Perhatikan: beliau tidak hanya bertanya "apakah kalian beriman?" — tetapi beliau menjelaskan isi iman itu sendiri dengan menyebut amal-amal nyata.
2. Definisi iman menurut Ahlus Sunnah
Imam Ahmad bin Hanbal — yang merupakan perawi pertama dalam sanad hadits ini — menegaskan dalam berbagai riwayat yang dikumpulkan Al-Khallal dan Ibn Baththah (melalui jalur Al-Barbahari) bahwa iman itu adalah:
- Keyakinan hati (i'tiqad bil qalb)
- Ucapan lisan (qaul bil lisan)
- Amal anggota badan (amal bil arkan)
- Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan amal termasuk dalam hakikat iman, karena Nabi ﷺ memasukkan shalat, zakat, puasa, dan khumus ke dalam penjelasan "iman kepada Allah".
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga menegaskan bahwa Ahlus Sunnah berpendapat iman itu tasdiq (pembenaran hati) + amal, berbeda dengan Murji'ah yang mengatakan cukup dengan pembenaran hati saja.
3. Bantahan terhadap Irja'
Kelompok Murji'ah berpendapat bahwa amal tidak mempengaruhi iman sama sekali — seseorang bisa meninggalkan seluruh amal dan imannya tetap sempurna. Hadits ini membantah mereka secara tegas, karena Nabi ﷺ menyebutkan amal-amal sebagai bagian dari penjelasan iman.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Lum'atul I'tiqad menjelaskan bahwa hadits-hadits semacam ini adalah dalil qath'i bahwa amal termasuk iman, dan bahwa pendapat Murji'ah bertentangan dengan nash-nash yang sangat banyak.
Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh Aqidah Thahawiyah menambahkan bahwa Irja' adalah bid'ah pertama yang muncul dalam masalah ushuluddin, dan para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri telah memperingatkan bahayanya.
4. Hikmah penyebutan khumus
Penyebutan khumus (seperlima ghanimah) dalam hadits ini menarik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hal itu karena konteksnya adalah kabilah yang akan berjihad dan mendapatkan ghanimah, sehingga Nabi ﷺ mengingatkan bahwa ketaatan kepada Allah mencakup juga menunaikan hak harta — bukan hanya ibadah ritual.
5. Perbedaan pendapat yang disebutkan
Sebagian ulama mendefinisikan iman sebagai tasdiq hati saja (ini pendapat Murji'ah), sebagian mengatakan ma'rifah saja (ini pendapat Jahmiyah). Namun jumhur Ahlus Sunnah — dipimpin Imam Ahmad, Imam asy-Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Abu Hanifah (dalam riwayat yang masyhur) — menegaskan iman mencakup hati, lisan, dan amal. Yang paling kuat adalah pendapat jumhur, karena didukung oleh hadits ini dan puluhan nash lainnya.
Story Telling
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله — seorang tabi'in besar — pernah ditanya tentang orang yang mengatakan "aku beriman" tetapi tidak beramal. Beliau menjawab dengan tegas bahwa iman itu bukan angan-angan (amaniyy), melainkan apa yang tertanam di hati dan dibuktikan dengan amal. Pernyataan beliau ini dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala'.
Sufyan ats-Tsauri رحمه الله juga berkata: "Iman adalah ucapan dan amal." Beliau menegaskan hal ini di hadapan orang-orang yang mulai condong kepada Irja' pada masanya. Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله — guru para ulama — berkata: "Aku mendapati para ulama sepakat bahwa iman adalah ucapan dan amal." (dinukil oleh Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqad).
Hikmahnya: para salaf tidak pernah memisahkan iman dari amal, karena keduanya adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan.
Kesimpulan Praktis
- Iman itu mencakup hati, lisan, dan amal — bukan hanya keyakinan dalam hati.
- Jangan tertipu dengan pemahaman Irja' yang mengatakan amal tidak berpengaruh pada iman; ini bertentangan dengan hadits dan ijma' salaf.
- Jaga amal-amal pokok: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan — karena semuanya disebut Nabi ﷺ sebagai bagian dari iman.
- Iman bisa bertambah dan berkurang — bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan.
- Tunaikan hak harta (zakat, infak, khumus bila relevan) sebagai bukti keimanan, bukan hanya ibadah ritual semata.
- Rujuklah kepada ulama Ahlus Sunnah dalam memahami masalah iman, jangan kepada pemikiran yang menyimpang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.