Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa iman bukan hanya keyakinan di hati, tetapi memiliki banyak cabang amal yang mencakup ucapan lisan dan perbuatan anggota badan. Cabang tertinggi adalah tauhid (kalimat Lā ilāha illallāh), cabang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu termasuk bagian dari iman. Iman bisa bertambah dan berkurang sesuai amal seseorang.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Dalil Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Menolak Iman, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang sedikit berbeda, dan Ibnu Hibban memasukkan hadits ini dalam Shahih-nya.
Kaitan dengan Ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil pokok bahwa iman terdiri dari cabang-cabang (syua'b), bertambah dan berkurang.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam membahas hadits ini sebagai landasan bahwa amal termasuk bagian dari iman.
- Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan, dan amal, serta bertambah dan berkurang.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat-ayat yang menyebut iman bertambah sebagai dalil bahwa iman tidak statis.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Para ulama menyebutkan bahwa jumlahnya dalam riwayat lain disebut "enam puluh sekian" atau "tujuh puluh sekian" — dan ini menunjukkan banyaknya, bukan pembatasan angka secara pasti. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penyebutan angka ini adalah untuk menunjukkan banyaknya cabang, bukan untuk menghitung satu per satu secara kaku.
Cabang tertinggi: Kalimat Lā ilāha illallāh — karena ini adalah pokok tauhid, pondasi seluruh agama. Ibn Rajab menjelaskan bahwa kalimat ini adalah kunci masuk Islam dan inti dari seluruh cabang iman lainnya.
Cabang terendah: Menyingkirkan tulang (atau gangguan) dari jalan — menunjukkan bahwa iman mencakup perkara kecil sekalipun, seperti menjaga kebersihan jalan dan tidak mengganggu orang lain. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini menunjukkan luasnya cakupan iman, sampai perkara yang tampak remeh pun termasuk bagian darinya.
Rasa malu (al-hayā') sebagai cabang iman: Ibnu Hajar menjelaskan bahwa rasa malu mencegah seseorang dari perbuatan buruk, sehingga ia menjadi bagian penting dari iman. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madārij as-Sālikīn menjelaskan bahwa rasa malu adalah sifat yang mendorong seseorang meninggalkan keburukan dan menjaga kehormatan diri di hadapan Allah.
Iman bertambah dan berkurang:
Hadits ini menjadi dalil utama Ahlus Sunnah bahwa iman bukan satu kesatuan yang tidak bisa berubah. Ibn Taymiyyah menegaskan dalam Majmu' al-Fatawa bahwa iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Al-Bukhari dalam Shahih-nya membuat bab khusus "Iman itu bertambah dan berkurang" berdasarkan hadits-hadits seperti ini.
Perbedaan pendapat:
Sebagian ulama awal seperti Abu Hanifah menyatakan bahwa amal bukan bagian dari hakikat iman, tetapi merupakan konsekuensi dan penyempurna iman. Sementara Imam Ahmad, asy-Syafi'i, dan mayoritas Ahlus Sunnah berpendapat bahwa amal termasuk bagian dari iman itu sendiri. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Ibn Taymiyyah, Ibn Rajab, dan Ibnu Hajar — adalah bahwa iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amal anggota badan, serta bertambah dan berkurang.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah ditanya tentang iman. Beliau menjawab bahwa iman bukanlah sekadar ucapan, bukan pula sekadar angan-angan, tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati, dibuktikan dengan ucapan, dan diamalkan dengan perbuatan. Beliau juga mengatakan bahwa siapa yang mengucapkan dengan lisan tetapi tidak membenarkan dengan hati dan tidak mengamalkan dengan anggota badan, maka itu bukan iman.
Fudail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata bahwa iman itu bertambah dan berkurang — bertambah dengan amal saleh dan berkurang dengan kemaksiatan. Ini menunjukkan bahwa para salaf memahami hadits ini sebagai landasan penting dalam bab iman.
Kesimpulan Praktis
- Jaga tauhid — kalimat Lā ilāha illallāh adalah cabang iman tertinggi, maka pelajari maknanya, amalkan konsekuensinya, dan jauhi segala yang membatalkannya.
- Jangan remehkan amal kecil — menyingkirkan batu atau tulang dari jalan pun termasuk iman. Mulailah dari hal-hal sederhana di sekitar kita.
- Pelajari dan pelihara rasa malu — rasa malu adalah cabang iman yang menjaga kita dari maksiat, terutama di zaman ketika rasa malu semakin terkikis.
- Iman perlu dirawat — karena iman bertambah dan berkurang, maka perbanyak amal saleh, dzikir, dan majelis ilmu untuk menambahnya.
- Jauhi sikap ghuluw dan meremehkan — hadits ini mengajarkan keseimbangan: tidak mengkafirkan karena amal kecil, dan tidak meremehkan amal kecil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.