Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4663 tentang Menjauhi fitnah dan keutamaannya bagi yang selamat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ kepada sahabat Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu bahwa fitnah (ujian dan kekacauan) yang akan terjadi di tengah umat tidak akan membahayakannya. Ini adalah keutamaan besar bagi beliau, dan juga menjadi pelajaran bagi kita bahwa keselamatan dari fitnah adalah anugerah Allah yang patut kita jaga dengan cara menjauhi sumber-sumber perpecahan dan memegang teguh sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab As-Sunnah, Bab "Ma Yadullu 'ala Mujanabati al-Kalam fi al-Fitnah" (Bab yang Menunjukkan tentang Menjauhi Pembicaraan dalam Fitnah), no. 4663. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.

Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus turun tentang peristiwa ini, namun makna hadits ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala:

QS. Al-An'am [6]: 65

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

"Katakanlah (Muhammad), 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu dari atasmu atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampakkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling bertikai, dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (Kami) agar mereka mengerti.'"

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu bentuk ujian (fitnah) adalah perpecahan dan saling bermusuhan di antara umat. Keselamatan dari hal ini adalah nikmat yang besar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah bagian dari kabar gaib Nabi ﷺ tentang terjadinya fitnah (kekacauan dan peperangan) di kalangan umat Islam setelah masa beliau. Ini adalah salah satu mukjizat beliau.

Pertama: Siapa Muhammad bin Maslamah?

Beliau adalah Muhammad bin Maslamah bin Salamah bin Khalid al-Anshari al-Khazraji, salah seorang sahabat Nabi ﷺ yang utama. Beliau ikut serta dalam Perang Badar dan banyak peperangan lainnya. Beliau dikenal sebagai pribadi yang kuat, pemberani, dan sangat teguh dalam memegang ajaran Islam.

Kedua: Makna "Fitnah Tidak Akan Membahayakanmu"

Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "fitnah" di sini adalah fitnah besar yang terjadi setelah masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, yaitu perpecahan dan peperangan antara sesama kaum muslimin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa keselamatan Muhammad bin Maslamah dari fitnah ini adalah karena beliau memilih untuk mengasingkan diri dan tidak ikut campur dalam peperangan yang terjadi di antara kaum muslimin. Beliau tidak memihak salah satu kelompok yang bertikai, karena beliau tahu bahwa dalam peperangan tersebut, kedua belah pihak memiliki interpretasi masing-masing, namun yang terbaik adalah menjauhi pertumpahan darah sesama muslim.

Ketiga: Pelajaran dari Sikap Muhammad bin Maslamah

Sikap beliau ini menjadi teladan bagi kita ketika terjadi perselisihan dan perpecahan di tengah umat. Beliau memilih untuk:

  1. Menjauh dari perdebatan dan perpecahan - Beliau tidak ikut serta dalam perdebatan yang bisa memicu permusuhan.
  2. Menjaga lisan dan tidak menyebarkan berita fitnah - Beliau tidak membicarakan hal-hal yang bisa memperkeruh suasana.
  3. Fokus pada ibadah dan keselamatan diri - Beliau lebih memilih menyibukkan diri dengan ketaatan daripada terlibat dalam kekacauan.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa di antara tanda keselamatan dari fitnah adalah seseorang tidak ikut serta dalam perdebatan yang tidak bermanfaat dan tidak memihak kepada salah satu kelompok yang bertikai tanpa dasar ilmu yang jelas.

Keempat: Apakah Berarti Kita Tidak Boleh Membela Kebenaran?

Tentu tidak. Sikap menjauhi fitnah bukan berarti diam dari kebenaran. Yang dimaksud adalah menjauhi perpecahan yang tidak jelas pangkalnya, atau peperangan antara sesama muslim yang kedua belah pihak memiliki syubhat (kerancuan). Adapun membela kebenaran yang jelas, maka itu adalah kewajiban. Namun, ketika terjadi perselisihan di antara ulama dan kaum muslimin, maka sikap yang paling selamat adalah menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat dan fokus pada ibadah serta menjaga persatuan.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menekankan bahwa di antara sebab keselamatan dari fitnah adalah berlindung kepada Allah, memperbanyak doa, dan menjauhi majelis-majelis yang penuh dengan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Story Telling

Ada kisah yang masyhur tentang keteguhan Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dalam menjauhi fitnah. Ketika terjadi Perang Shiffin antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma, beliau memilih untuk tidak ikut serta di kedua belah pihak. Beliau mengambil pedangnya, lalu mematahkannya di hadapan orang-orang, seraya berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Fitnah tidak akan membahayakanmu.' Maka aku tidak akan ikut serta dalam fitnah ini."

Beliau kemudian mengasingkan diri dan tidak terlibat dalam peperangan tersebut. Sikap ini menunjukkan kebijaksanaan dan pemahaman beliau yang mendalam tentang ajaran Nabi ﷺ. Beliau lebih memilih keselamatan agama dan nyawanya daripada terlibat dalam pertumpahan darah sesama muslim yang tidak jelas kebenarannya.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa di tengah kekacauan, orang yang beriman harus pandai menjaga diri dan agamanya. Tidak semua perang atau perselisihan harus diikuti, apalagi jika melibatkan sesama muslim.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat, terutama yang berkaitan dengan perselisihan yang bisa memecah belah umat.
  2. Jaga lisan dari menyebarkan berita-berita yang belum jelas kebenarannya, apalagi yang bisa memicu permusuhan.
  3. Fokus pada ibadah dan ketaatan kepada Allah, karena itulah benteng keselamatan dari segala fitnah.
  4. Perbanyak doa memohon keselamatan dari fitnah, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
  5. Jika terjadi perselisihan di antara kaum muslimin, maka sikap yang paling selamat adalah menjauhi perpecahan dan tidak memihak salah satu kelompok yang bertikai tanpa dasar ilmu yang jelas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.