Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4659 tentang Larangan menyebarkan perkataan Nabi saat marah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat tinggi dalam menyikapi perkataan Nabi ﷺ, terutama yang keluar saat beliau marah. Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu mengingatkan Hudzaifah radhiyallahu 'anhu agar tidak menyebarkan perkataan Nabi ﷺ yang diucapkan dalam keadaan marah kepada orang-orang tertentu, karena hal itu bisa menimbulkan kesalahpahaman, kebencian, dan perpecahan di antara umat. Hadits ini juga menegaskan bahwa celaan atau doa buruk Nabi ﷺ kepada seseorang dalam keadaan marah, justru Allah jadikan sebagai rahmat, kebaikan, dan kesucian bagi orang tersebut di hari kiamat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Abu Dawud, Kitab as-Sunnah, Bab Larangan Mencela Sahabat Rasulullah ﷺ, no. 4659.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

Teks Arab (HR. Muslim):

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ سَبَّةً أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً فِي غَضَبِي، فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ، وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، فَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ صَلَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Terjemahan: "Barangsiapa dari umatku yang aku cela atau aku kutuk dalam kemarahanku, maka sesungguhnya aku adalah anak Adam yang marah sebagaimana mereka marah. Dan sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka (Ya Allah), jadikanlah celaan dan kutukan itu sebagai rahmat (kesucian) bagi mereka pada hari kiamat." (HR. Muslim, Kitab al-Birr wash-Shilah, Bab: Doa Nabi ﷺ bagi yang mendoakan buruk padahal tidak pantas mendapatkannya).

Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan sifat Nabi ﷺ sebagai rahmat:

QS. Al-Anbiya' [21]: 107

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Terjemahan: "Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi ﷺ yang sangat penyayang. Beliau ﷺ tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, bahkan doa buruknya pun menjadi kebaikan bagi yang didoakan.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul-Bari menyebutkan bahwa para ulama menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa celaan Nabi ﷺ kepada sahabat tertentu bukanlah bentuk penghinaan, melainkan kasih sayang yang tersembunyi, dan menjadi keutamaan bagi yang dicela.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menekankan bahwa hadits ini mengajarkan adab besar: jangan menyebarkan perkataan yang bisa menimbulkan fitnah dan perpecahan, meskipun perkataan itu benar.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran besar dari hadits ini:

1. Adab Menyikapi Perkataan Nabi ﷺ

Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang sangat dalam ilmunya. Beliau memahami bahwa perkataan Nabi ﷺ itu beragam konteksnya. Ada yang diucapkan dalam keadaan marah, ada yang dalam keadaan ridha, ada yang khusus untuk orang tertentu, dan ada yang umum untuk seluruh umat. Maka menyebarkan perkataan yang bersifat khusus tanpa memahami konteksnya bisa menimbulkan kekacauan.

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya I'lamul Muwaqqi'in menjelaskan bahwa memahami konteks dan keadaan Nabi ﷺ saat berbicara adalah bagian penting dari memahami syariat. Beliau mencontohkan bahwa ada perkataan Nabi ﷺ yang bersifat khusus untuk individu tertentu, dan tidak boleh digeneralisasi.

2. Larangan Menimbulkan Perpecahan

Salman berkata kepada Hudzaifah: "Apakah kamu tidak berhenti sampai kamu menciptakan cinta sebagian orang di hati sebagian orang, dan kebencian sebagian orang di hati sebagian orang, dan sampai kamu menimbulkan perselisihan dan perpecahan?"

Ini adalah nasihat yang sangat dalam. Menyebarkan perkataan yang bisa membuat orang membenci sahabat Nabi ﷺ adalah pintu menuju perpecahan umat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa mencela sahabat Nabi ﷺ adalah perkara yang diharamkan, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini dan perantara sampainya agama kepada kita.

3. Nabi ﷺ Adalah Manusia yang Bisa Marah

Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku adalah anak Adam yang marah sebagaimana mereka marah." Ini menunjukkan bahwa beliau ﷺ adalah manusia biasa yang memiliki sifat marah. Namun kemarahan beliau ﷺ tidak pernah keluar dari kebenaran. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kemarahan Nabi ﷺ hanyalah karena Allah, bukan karena hawa nafsu.

4. Doa Buruk Nabi ﷺ Menjadi Kebaikan

Ini adalah keistimewaan khusus Nabi ﷺ. Ketika beliau ﷺ mendoakan buruk seseorang dalam keadaan marah, Allah menjadikannya sebagai rahmat, kesucian, dan pahala bagi orang tersebut. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.

5. Pelajaran dari Sikap Salman

Salman tidak membenarkan dan tidak mendustakan perkataan Hudzaifah. Ini adalah sikap yang sangat bijak. Beliau tidak ingin terlibat dalam pembicaraan yang bisa menimbulkan fitnah. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa sikap seperti ini adalah sikap orang yang berilmu: tidak terburu-buru menghakimi, dan lebih memilih menutup pintu keburukan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang kelembutan Nabi ﷺ terhadap orang yang pernah bersikap kasar kepada beliau. Diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ dan menarik selendang beliau dengan kasar hingga meninggalkan bekas di leher beliau. Orang itu berkata: "Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku dari harta Allah yang ada padamu!"

Nabi ﷺ tersenyum dan memerintahkan agar orang itu diberi pemberian. Kemudian beliau ﷺ bertanya: "Apakah kamu sudah merasa cukup?" Orang itu menjawab: "Belum, dan semoga Allah tidak memberimu kebaikan."

Para sahabat marah dan ingin menghukum orang itu, tetapi Nabi ﷺ menahan mereka. Beliau ﷺ masuk ke rumahnya dan mengirimkan tambahan pemberian, lalu bertanya lagi: "Apakah kamu sudah merasa cukup?" Orang itu menjawab: "Ya, sudah. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan."

Maka Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat: "Perumpamaanku dengan orang ini seperti seorang laki-laki yang untanya lari, lalu orang-orang memanggilnya dengan suara keras, tetapi unta itu semakin lari. Maka pemiliknya berkata: 'Biarkanlah aku dengan untaku, sesungguhnya aku lebih tahu cara menghadapinya.' Maka dia mengambil makanan untuk unta itu, lalu unta itu datang dan duduk. Demi Allah, seandainya kalian membiarkan orang ini, dia akan masuk surga karena kebaikan yang akan dia terima dariku." (HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani).

Hikmah: Nabi ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam. Beliau ﷺ membalas keburukan dengan kebaikan, dan doa beliau ﷺ untuk orang yang kasar sekalipun menjadi sebab hidayah dan kebaikan baginya. Inilah akhlak agung yang harus kita teladani.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menyebarkan perkataan yang bisa menimbulkan perpecahan, meskipun perkataan itu benar. Salman al-Farisi mengajarkan kita untuk menutup pintu fitnah.
  2. Pahami konteks perkataan Nabi ﷺ sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Tidak semua perkataan beliau ﷺ bersifat umum untuk semua orang.
  3. Jangan mencela sahabat Nabi ﷺ atau menyebarkan aib mereka. Mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  4. Teladani akhlak Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang. Jika beliau ﷺ saja bisa memaafkan orang yang kasar, maka kita pun harus belajar memaafkan.
  5. Jika mendengar perkataan yang belum jelas, lebih baik diam dan tidak ikut menyebarkannya, seperti sikap Salman yang tidak membenarkan dan tidak mendustakan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.