Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4655 tentang Perlindungan Nabi saat perundingan Hudaibiyah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan peristiwa Perjanjian Hudaibiyyah, ketika Utusan Quraisy, 'Urwah bin Mas'ud, berbicara kepada Nabi ﷺ dan berulang kali memegang jenggot beliau. Al-Mughirah bin Syu'bah yang berdiri menjaga Nabi ﷺ dengan pedang dan helm langsung menegurnya dengan tegas agar menjauhkan tangan dari jenggot Nabi ﷺ. Hadits ini mengajarkan adab menjaga kehormatan Nabi ﷺ, keberanian membela beliau, dan pentingnya menjaga adab dalam berbicara dengan orang yang lebih mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 2

لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berbicara kepadanya dengan suara keras seperti kerasnya sebagian kamu kepada sebagian yang lain, agar amal-amalmu tidak menjadi sia-sia sedangkan kamu tidak menyadarinya."

Ayat ini menunjukkan kewajiban menjaga adab terhadap Nabi ﷺ, termasuk tidak berbuat kasar atau kurang hormat kepada beliau — sebagaimana yang dilakukan 'Urwah bin Mas'ud dengan memegang jenggot Nabi ﷺ.

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Sunnah, Bab Para Khalifah, dari jalur Al-Miswar bin Makhramah (sahabat Nabi ﷺ). Sanadnya: Muhammad bin 'Ubaid → Muhammad bin Tsaur → Ma'mar → Az-Zuhri → 'Urwah bin Az-Zubair → Al-Miswar bin Makhramah.

Hadits ini juga memiliki asal yang panjang dalam Shahih Al-Bukhari (dalam kisah Hudaibiyyah), sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan peristiwa Hudaibiyyah secara rinci.

Penjelasan Rinci

Konteks Peristiwa Hudaibiyyah

Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 H, ketika Nabi ﷺ bersama para sahabat berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan umrah, namun dihalangi oleh kaum Quraisy di Hudaibiyyah. Kaum Quraisy mengirim utusan-utusan mereka untuk bernegosiasi, dan salah satunya adalah 'Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi.

Makna dan Pelajaran dari Hadits

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat menjaga kehormatan Nabi ﷺ dan tidak membiarkan siapa pun berbuat kurang adab kepada beliau, sekalipun orang itu adalah utusan kaum yang harus dihormati dalam konteks diplomasi.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa tindakan Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu — memukul tangan 'Urwah dengan gagang pedang — adalah bentuk pembelaan yang dibenarkan, karena memegang jenggot seseorang tanpa izin adalah bentuk pelecehan, terlebih lagi jika yang dipegang jenggotnya adalah Nabi ﷺ.

Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa 'Urwah bin Mas'ud sebenarnya kagum dengan akhlak Nabi ﷺ dan para sahabat, dan kemudian menyampaikan kepada kaum Quraisy betapa luar biasanya penghormatan para sahabat kepada Nabi ﷺ. Namun, sikapnya yang memegang jenggot Nabi ﷺ saat berbicara menunjukkan kebiasaan orang Arab jahiliyah yang berbicara tanpa adab khusus, atau mungkin karena ia terbawa suasana negosiasi.

Adab yang Diajarkan:

  1. Menjaga kehormatan Nabi ﷺ — Al-Mughirah tidak tinggal diam melihat Nabi ﷺ diperlakukan kurang hormat.
  2. Keberanian membela kebenaran — meskipun 'Urwah adalah utusan penting, Al-Mughirah tetap menegurnya.
  3. Adab dalam berbicara — tidak memegang anggota tubuh lawan bicara, apalagi jika ia lebih mulia.
  4. Peran penjaga/pengawal — Al-Mughirah berdiri dengan pedang dan helm, siap melindungi Nabi ﷺ.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Sebagian ulama seperti Al-Khallal dalam As-Sunnah dan Al-Lalika'i dalam Syarhus Sunnah menggunakan hadits ini sebagai dalil tentang kewajiban mencintai dan membela Nabi ﷺ serta para khalifah dan ulama. Sedangkan Ibnu Taymiyyah dalam Minhajus Sunnah menekankan bahwa peristiwa ini menunjukkan keutamaan Al-Mughirah bin Syu'bah sebagai sahabat yang membela Nabi ﷺ.

Pendapat yang paling kuat: Hadits ini adalah dalil tentang adab terhadap Nabi ﷺ dan keberanian membela beliau, sebagaimana dipahami oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Sunan Abu Dawud bahwa ketika 'Urwah bin Mas'ud datang menemui Nabi ﷺ di Hudaibiyyah, ia berbicara panjang lebar mewakili Quraisy. Setiap kali ia berbicara, tangannya memegang jenggot Nabi ﷺ — suatu kebiasaan orang Arab saat berbicara dengan penuh perhatian atau saat menegosiasikan sesuatu.

Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, yang saat itu berdiri di dekat kepala Nabi ﷺ dengan pedang terhunus dan helm besi di kepalanya, tidak bisa menahan diri. Ia mengayunkan gagang pedangnya ke tangan 'Urwah dan berkata dengan tegas: "Akhkhir yadaka 'an lihyatihi!" — "Jauhkan tanganmu dari jenggotnya!"

'Urwah terkejut, mengangkat kepalanya, dan bertanya: "Siapa ini?"

Para sahabat menjawab: "Al-Mughirah bin Syu'bah."

'Urwah kemudian berkata: "Wahai pengkhianat! Bukankah aku telah berjasa kepadamu?" — karena Al-Mughirah pernah berada di bawah perlindungan 'Urwah sebelum masuk Islam. Namun Al-Mughirah tidak peduli; ia hanya ingin menjaga kehormatan Nabi ﷺ.

Hikmah: Cinta kepada Nabi ﷺ dan pembelaan terhadap kehormatan beliau harus di atas segala kepentingan pribadi, bahkan di atas rasa terima kasih kepada manusia. Inilah yang dicontohkan oleh Al-Mughirah bin Syu'bah dan dipuji oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dan An-Nawawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga adab terhadap Nabi ﷺ — baik dalam ucapan, tulisan, maupun sikap. Jangan merendahkan beliau dengan cara apa pun.
  2. Bela kehormatan Nabi ﷺ dan para ulama — sebagaimana Al-Mughirah membela Nabi ﷺ, kita pun harus membela agama dan kehormatan para ulama Ahlus Sunnah.
  3. Berani menegur kemungkaran — dengan cara yang tepat dan penuh hikmah, sesuai kemampuan.
  4. Jangan campur aduk antara kepentingan pribadi dan pembelaan agama — Al-Mughirah tidak peduli pada jasa 'Urwah kepadanya; yang benar tetap benar.
  5. Pelajari sirah Nabi ﷺ — karena di dalamnya terdapat banyak pelajaran adab dan akhlak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?