Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil penting dalam penetapan urutan keutamaan para Khulafaur Rasyidin, yaitu Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Hadits ini juga menunjukkan adab dan kehati-hatian seorang anak (Muhammad bin al-Hanafiyyah) dalam bertanya kepada ayahnya (Ali bin Abi Thalib) tentang masalah keutamaan, serta ketawadhu'an Ali yang tidak mau menempatkan dirinya di atas kaum muslimin lainnya dalam masalah ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Muhammad bin al-Hanafiyyah (putra Ali bin Abi Thalib) yang bertanya kepada ayahnya tentang manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ. Ali menjawab: "Abu Bakar", kemudian "Umar". Ketika Muhammad hendak bertanya lagi, ia khawatir ayahnya akan menyebut Utsman, maka ia bertanya: "Lalu engkau, wahai ayah?" Ali menjawab: "Aku hanyalah seorang laki-laki dari kaum muslimin."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3671) dengan lafaz yang semakna, dari jalan yang sama. Ini menunjukkan bahwa hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh ulama besar.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah [9]: 100)
Ayat ini menunjukkan keutamaan para sahabat secara umum, dan keutamaan orang-orang yang terdahulu (as-sabiqun al-awwalun) secara khusus, yang di antaranya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (7/34) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan penetapan keutamaan Abu Bakar dan Umar, dan bahwa Ali tidak menyebutkan dirinya dalam urutan tersebut karena sikap wara' dan kehati-hatiannya. Beliau juga menukil ijma' Ahlus Sunnah bahwa urutan keutamaan para khalifah adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil terpenting dalam masalah penetapan urutan keutamaan para sahabat, khususnya Khulafaur Rasyidin. Mari kita bedah beberapa poin penting:
1. Keutamaan Abu Bakar dan Umar
Dalam hadits ini, Ali bin Abi Thalib dengan tegas menyebutkan bahwa manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar. Ini adalah pengakuan langsung dari salah satu sahabat yang paling utama, yang menunjukkan bahwa keutamaan Abu Bakar dan Umar adalah perkara yang telah disepakati di kalangan sahabat.
Imam Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah (7/245) menukil bahwa para ulama Ahlus Sunnah telah berijma' (sepakat) bahwa Abu Bakar adalah manusia terbaik setelah para Nabi, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi'i, dan para ulama lainnya.
2. Sikap Wara' dan Kehati-hatian Ali
Ketika Muhammad bin al-Hanafiyyah bertanya, "Lalu siapa lagi?" Ali khawatir jika ia menyebut Utsman, maka akan timbul perselisihan atau kesalahpahaman. Maka ia bertanya kepada ayahnya, "Lalu engkau, wahai ayah?" Ali menjawab dengan sangat tawadhu': "Aku hanyalah seorang laki-laki dari kaum muslimin."
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (1/214) menjelaskan bahwa sikap Ali ini menunjukkan adab yang sangat tinggi. Ali tidak mau menempatkan dirinya di atas kaum muslimin dalam masalah keutamaan, meskipun beliau adalah salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya tawadhu' dan tidak berbangga diri.
3. Urutan Keutamaan Khulafaur Rasyidin
Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa urutan keutamaan Khulafaur Rasyidin adalah:
- Abu Bakar ash-Shiddiq
- Umar bin al-Khaththab
- Utsman bin 'Affan
- Ali bin Abi Thalib
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Muhammad bin al-Hanafiyyah bahwa ia bertanya kepada ayahnya (Ali), "Wahai ayahku, siapakah manusia terbaik setelah Rasulullah ﷺ?" Ali menjawab: "Abu Bakar." Ia bertanya lagi: "Lalu siapa?" Ali menjawab: "Umar." Kemudian Muhammad berkata: "Aku khawatir ia akan menyebut Utsman, maka aku berkata: 'Lalu engkau?' Ali menjawab: 'Aku hanyalah seorang laki-laki dari kaum muslimin.'" (HR. at-Tirmidzi no. 3708, dan ia berkata: "Hadits ini hasan shahih")
4. Pelajaran tentang Adab Bertanya
Hadits ini juga mengajarkan adab dalam bertanya, terutama kepada orang tua atau guru. Muhammad bin al-Hanafiyyah tidak memaksakan pertanyaan yang bisa menimbulkan kegelisahan, tetapi ia mengganti pertanyaannya dengan cara yang lebih halus. Ini menunjukkan kecerdasan dan adab yang baik.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, beliau sering ditanya tentang keutamaan para sahabat. Suatu hari, beliau naik mimbar dan berkata: "Sebaik-baik manusia setelah Nabi ﷺ adalah Abu Bakar, kemudian Umar." Kemudian beliau berkata: "Dan jika aku tidak khawatir kalian akan berkata tentang aku seperti perkataan orang-orang yang berlebihan, niscaya aku akan menyebutkan diriku." (HR. al-Bukhari secara mu'allaq, dan Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah)
Kisah ini menunjukkan bahwa Ali sangat menjaga lisan dan sikapnya agar tidak menimbulkan fitnah atau kesalahpahaman. Beliau lebih memilih untuk tidak menyebutkan dirinya dalam urutan keutamaan, meskipun beliau adalah salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya menjaga keharmonisan umat dan tidak memicu perpecahan.
Kesimpulan Praktis
- Yakinilah urutan keutamaan para Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali. Ini adalah keyakinan Ahlus Sunnah yang berlandaskan dalil-dalil shahih dan ijma' ulama.
- Jangan mencela atau merendahkan para sahabat: Mereka adalah generasi terbaik umat ini, dan mencela mereka adalah tanda kebid'ahan dan kesesatan.
- Teladani sikap tawadhu' Ali bin Abi Thalib: Beliau tidak berbangga diri meskipun memiliki kedudukan yang tinggi. Kita harus belajar untuk rendah hati dan tidak menonjolkan diri.
- Jaga adab dalam bertanya: Gunakan bahasa yang halus dan bijaksana ketika bertanya, terutama kepada orang tua atau guru, agar tidak menimbulkan kegelisahan atau kesalahpahaman.
- Jauhi perdebatan yang tidak bermanfaat: Masalah keutamaan sahabat adalah masalah yang telah jelas dalilnya. Jangan menghabiskan waktu untuk berdebat tentang hal-hal yang sudah disepakati oleh para ulama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.