Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4622 tentang Larangan berbohong dan memutarbalikkan perkataan ulama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini sebenarnya bukan sabda Nabi ﷺ, melainkan atsar (perkataan) dari Imam Ayyub as-Sikhtiyani, seorang ulama tabi'in, yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Kitab Sunnah. Isinya adalah peringatan keras tentang dua kelompok manusia yang berdusta atas nama al-Hasan al-Bashri: pertama, para pengikut hawa nafsu (ahlul bid'ah) yang menisbatkan perkataan bathil kepadanya demi mendukung keyakinan mereka; kedua, orang-orang yang membenci al-Hasan karena kebenaran yang beliau sampaikan, lalu mereka memutarbalikkan perkataannya. Pelajaran utamanya: kita wajib berhati-hati dalam menukil perkataan ulama, tidak boleh berdusta atas nama mereka, dan tidak boleh memutarbalikkan ucapan mereka untuk kepentingan hawa nafsu.

Rujukan Ulama & Dalil

Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab as-Sunnah, Bab Luzum as-Sunnah (Bab Kewajiban Mengikuti Sunnah), no. 4622. Sanadnya: Sulaiman bin Harb → Hammad bin Zaid → Ayyub as-Sikhtiyani.

Meskipun ini bukan hadits marfu' (bukan sabda Nabi ﷺ), para ulama Ahlus Sunnah menjadikannya sebagai dalil tentang bahaya dusta dan pentingnya menjaga lisan dari menukil perkataan ulama secara tidak amanah.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-An'am [6]: 112

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin; sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia. Dan jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan."

QS. Az-Zumar [39]: 3

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

"Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), 'Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.' Sungguh, Allah akan memutuskan perkara yang mereka perselisihkan itu. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar."

Hadits terkait:

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Al-Bukhari no. 110, Muslim no. 3, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Syarh 'Ilal at-Tirmidzi dan Fadhl 'Ilm as-Salaf 'ala al-Khalaf menjelaskan bahwa dusta atas nama ulama terbagi dua: dusta dalam lafazh (menambah/mengurangi) dan dusta dalam makna (memutarbalikkan maksud). Ini sejalan dengan atsar Ayyub di atas.

Penjelasan Rinci

Imam Ayyub as-Sikhtiyani — seorang ulama besar tabi'in yang sangat teliti dalam periwayatan — menyatakan bahwa ada dua kelompok manusia yang berdusta atas nama al-Hasan al-Bashri:

Pertama: Ahlul Qadar (pengikut paham kehendak bebas tanpa takdir)

Mereka adalah kelompok yang meyakini bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri sepenuhnya di luar takdir Allah. Untuk menguatkan paham bathil ini, mereka menukil perkataan-perkataan yang mereka klaim berasal dari al-Hasan al-Bashri, padahal itu adalah kebohongan. Mereka sengaja menyebarkan keyakinan mereka dengan mengatasnamakan ulama agar lebih mudah diterima masyarakat.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Miftah Dar as-Sa'adah menjelaskan bahwa ahlul bid'ah selalu mencari "sandal" dari perkataan ulama untuk melegitimasi kesesatan mereka. Mereka mengambil sebagian perkataan yang benar lalu memelintirnya, atau menambah dan mengurangi, sehingga maknanya berubah total.

Kedua: Orang-orang yang membenci al-Hasan karena kebenarannya

Kelompok ini tidak menyebarkan kebohongan untuk mendukung paham mereka, tetapi karena dengki dan benci kepada al-Hasan al-Bashri. Mereka bertanya-tanya dengan nada mengejek: "Bukankah dia berkata begini? Bukankah dia berkata begitu?" — lalu mereka menukil perkataan al-Hasan secara keliru, keluar dari konteksnya, atau menambah-nambahi, agar orang-orang membenci al-Hasan dan meninggalkan ilmunya.

Imam Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa salah satu cara ahlul bid'ah dan orang-orang yang hasad adalah memutarbalikkan perkataan ulama — mereka mengambil sebagian kalimat yang benar, lalu memisahkannya dari konteks, kemudian menafsirkannya dengan makna yang bathil. Ini adalah bentuk kedustaan yang lebih halus dan lebih berbahaya daripada dusta yang terang-terangan.

Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata — sebagaimana dinukil oleh al-Bayhaqi dalam Manaqib asy-Syafi'i — bahwa seseorang tidak boleh dinisbatkan kepadanya suatu perkataan kecuali jika ia sendiri yang mengucapkannya, dan tidak boleh dipelintir maknanya. Ini prinsip penting dalam menukil ilmu.

Imam al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah juga menegaskan bahwa ahlul bid'ah itu banyak berdusta atas nama para ulama, dan kaum muslimin wajib berhati-hati serta tidak mudah menerima setiap perkataan yang dinisbatkan kepada ulama tanpa memeriksa kebenarannya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa al-Hasan al-Bashri rahimahullah adalah seorang ulama yang sangat dihormati dan ilmunya menjadi rujukan umat. Karena kedudukannya yang tinggi, banyak orang ingin "menunggangi" namanya.

Suatu hari, ada seorang lelaki datang kepada al-Hasan dan berkata, "Wahai Abu Sa'id, sesungguhnya fulan menceritakan darimu bahwa engkau berkata begini dan begitu" — menyebutkan suatu perkataan yang bathil.

Al-Hasan menjawab dengan tenang namun tegas: "Engkau telah berdusta atas namaku, dan fulan itu juga telah berdusta. Kami tidak pernah mengatakan demikian."

Kemudian al-Hasan berkata: "Dahulu ada orang-orang yang menukil perkataan kami, lalu mereka menambah dan mengurangi, sehingga jadilah perkataan itu bathil. Maka hati-hatilah kalian, karena dusta atas nama ulama itu lebih berat daripada dusta atas nama orang biasa."

Kisah ini menggambarkan betapa para ulama salaf sangat menjaga kehormatan ilmu dan tidak rela nama mereka dipakai untuk menyebarkan kebathilan. Mereka lebih memilih dituduh keras daripada membiarkan kebohongan tersebar atas nama mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah berdusta atas nama ulama — baik dengan mengada-ada perkataan, menambah, mengurangi, maupun memutarbalikkan makna.
  2. Hati-hati dalam menukil perkataan ulama — pastikan sumbernya jelas, sanadnya shahih, dan maknanya sesuai dengan konteks aslinya.
  3. Jauhi ahlul bid'ah yang sering memakai nama ulama untuk melegitimasi kesesatan mereka.
  4. Jangan membenci ulama karena kebenaran yang mereka sampaikan — kebencian seperti ini bisa menjerumuskan seseorang pada kedustaan.
  5. Jika ragu tentang suatu perkataan yang dinisbatkan kepada ulama, tanyakan kepada ahlinya atau rujuk langsung ke kitab-kitab mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.