Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4609 tentang Pahala mengajak kebaikan dan dosa mengajak kesesatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil agung tentang keutamaan berdakwah dan mengajak kepada kebaikan, serta bahaya besar mengajak kepada keburukan. Setiap orang yang menjadi sebab seseorang mendapat petunjuk akan memperoleh pahala yang sempurna tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya. Sebaliknya, siapa yang menjadi sebab kesesatan orang lain, ia akan memikul dosa yang setara tanpa mengurangi dosa orang yang mengikutinya. Ini menunjukkan betapa besarnya tanggung jawab seorang pendakwah dan betapa besarnya peluang meraih kebaikan bagi siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, juga oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, dan Imam At-Tirmidzi dalam Jami'-nya. Berikut teks haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala yang setara dengan pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun; dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa yang setara dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim no. 2674, Abu Dawud no. 4609, At-Tirmidzi no. 2674)

Hadits ini juga memiliki penguat dari sahabat lain. Imam Muslim meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: "Barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu sunnah (cara) yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memulai dalam Islam suatu sunnah (cara) yang buruk, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun." (HR. Muslim no. 1017)

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua pesan besar:

Pertama, keutamaan mengajak kepada kebaikan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang menunjukkan kebaikan, baik dengan cara mengajarkannya, berdakwah kepadanya, atau menjadi teladan yang baik. Pahala yang diperolehnya tidak mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikit pun, karena ini adalah karunia Allah yang Maha Luas.

Kedua, bahaya mengajak kepada keburukan. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa orang yang mengajak kepada kesesatan akan memikul dosa orang-orang yang mengikutinya. Ini menunjukkan bahwa dosa yang ditanggungnya tidak hanya dosa perbuatannya sendiri, tetapi juga dosa orang yang ia sesatkan. Hal ini karena ia menjadi sebab kesesatan mereka.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa makna "mengajak kepada petunjuk" mencakup semua bentuk dakwah dan pengajaran, baik dengan lisan, tulisan, maupun perbuatan. Demikian pula "mengajak kepada kesesatan" mencakup semua bentuk ajakan kepada kebatilan, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun teladan yang buruk.

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya secara mu'allaq (dengan redaksi tegas) bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari no. 5027). Ini menunjukkan bahwa mengajarkan kebaikan adalah amal yang paling utama.

Hadits ini juga selaras dengan firman Allah Ta'ala:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, 'Sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri?'" (QS. Fushshilat [41]: 33)

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang keutamaan menunjukkan kebaikan. Diriwayatkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Islam yang terbaik. Maka beliau bersabda: "Engkau memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal." (HR. Al-Bukhari no. 28, Muslim no. 39)

Kisah ini menunjukkan bahwa kebaikan yang paling sederhana sekalipun, seperti memberi makan dan menyebarkan salam, adalah bagian dari petunjuk yang bisa kita ajarkan dan sebarkan kepada orang lain. Ketika kita mengajarkan hal ini kepada orang lain, maka kita pun mendapatkan pahala yang setara dengan amal mereka.

Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Barangsiapa yang mengajarkan suatu ilmu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya selama amal itu masih dilakukan, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." Ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memahami dan mengamalkan hadits ini dalam kehidupan mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyaklah mengajak kepada kebaikan, baik dengan lisan, tulisan, maupun teladan yang baik. Setiap orang yang mengikuti ajakanmu, engkau akan mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi pahala mereka.
  2. Hati-hatilah dari menjadi sebab kesesatan orang lain, baik dengan perkataan, perbuatan, maupun sikap yang buruk. Jangan sampai kita menjadi perintis keburukan yang dosanya terus mengalir kepada kita.
  3. Mulailah dari hal yang kecil, seperti mengajarkan satu ayat, satu hadits, atau satu adab kepada keluarga, tetangga, atau teman. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun.
  4. Jadilah teladan yang baik, karena setiap orang yang meniru kebaikanmu akan menjadi tabungan pahala bagimu di akhirat kelak.
  5. Perbanyak doa agar Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengajak kepada petunjuk, bukan kepada kesesatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.