Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4608 tentang Larangan berlebihan dalam beragama hingga binasa

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya sikap tanaththu' yaitu sikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam beragama. Beliau mengulanginya tiga kali untuk menekankan betapa seriusnya ancaman ini. Intinya, kita diperintahkan untuk beragama dengan sederhana, mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah, serta menjauhi sikap memberat-beratkan diri sendiri yang tidak dicontohkan oleh beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim:

Hadits yang semakna diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

<p>هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ</p>

Artinya: "Binasa orang-orang yang melampaui batas, binasa orang-orang yang melampaui batas, binasa orang-orang yang melampaui batas." (HR. Muslim no. 2670)

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

<p>يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ</p>

"Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar." (QS. An-Nisa' [4]: 171)

Ayat ini, meskipun ditujukan kepada Ahli Kitab, namun prinsip larangan ghuluw (melampaui batas) dalam agama adalah pelajaran bagi seluruh umat.

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-mutanaththi'un adalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam perkataan dan perbuatan, serta memaksakan diri dalam ibadah di luar batas yang disyariatkan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa tanaththu' adalah sikap terlalu mendalam dan keras dalam beragama, hingga keluar dari batas kesederhanaan yang diajarkan Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan hadits ini. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa larangan tanaththu' ini mencakup beberapa hal:

  1. Berlebih-lebihan dalam ibadah seperti memaksakan diri berpuasa terus-menerus tanpa henti, shalat malam sepanjang malam hingga mengabaikan hak tubuh dan keluarga. Ini persis seperti yang dilakukan oleh tiga orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi ﷺ, lalu salah seorang berkata, "Aku akan shalat malam terus-menerus dan tidak akan tidur," yang lain berkata, "Aku akan berpuasa terus-menerus dan tidak berbuka," dan yang lain berkata, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah." Ketika kabar ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat malam dan tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Terlalu keras dan mendalam dalam bertanya tentang hal-hal yang tidak wajib atau tidak terjadi, hingga akhirnya memberatkan diri sendiri. Ini seperti yang terjadi pada Bani Israil ketika mereka diperintahkan menyembelih seekor sapi, namun mereka bertanya-tanya secara berlebihan sehingga Allah mempersempit dan mempersulit mereka.
  3. Bersikap keras dan kaku dalam beragama, tidak toleran terhadap hal-hal yang memang diberi kelonggaran (rukhsah) oleh syariat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa sikap tanaththu' ini adalah lawan dari sikap i'tidal (pertengahan) yang merupakan inti dari ajaran Islam.

Imam Asy-Syafi'i dan para ulama lainnya memahami bahwa hadits ini adalah prinsip besar dalam beragama, yaitu tawassuth (pertengahan) dan iqtishad (sederhana). Agama Islam datang dengan kemudahan, dan tidak ada satu pun ajaran yang menyuruh umatnya untuk mempersulit diri.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam berbagai ceramahnya menegaskan bahwa sikap tanaththu' ini bisa muncul dalam bentuk:

  • Berlebihan dalam ibadah hingga keluar dari sunnah.
  • Berlebihan dalam menjauhi perkara yang mubah (boleh) hingga menganggapnya haram.
  • Berlebihan dalam bertanya dan mempersempit apa yang Allah lapangkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri berkata, "Janganlah engkau memberat-beratkan agama ini, karena agama ini adalah agama yang mudah. Sesungguhnya yang binasa hanyalah orang yang melampaui batas." Beliau memahami bahwa sikap tanaththu' adalah penyakit yang telah membinasakan umat-umat terdahulu.

Kisah yang paling gamblang adalah kisah tiga sahabat yang disebutkan di atas. Mereka ingin beribadah secara ekstrem, namun Nabi ﷺ meluruskan niat mereka dengan menunjukkan bahwa jalan terbaik adalah jalan beliau yang seimbang. Beliau tidak mencela semangat mereka, tetapi beliau mengajarkan adab dan batasan yang benar dalam beribadah. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan fitrah manusia dan tidak menghendaki kesulitan.

Kesimpulan Praktis

  1. Beribadahlah secara konsisten dan sederhana, karena amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.
  2. Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam beragama, baik dalam ibadah, perkataan, maupun sikap.
  3. Ikutilah sunnah Nabi ﷺ dalam setiap ibadah, jangan menambah-nambah cara yang tidak dicontohkan.
  4. Hormati kelonggaran (rukhsah) yang diberikan syariat, seperti mengqashar shalat saat safar atau berbuka saat sakit.
  5. Jadilah pribadi yang pertengahan dalam segala urusan, tidak ekstrem kanan maupun kiri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.