Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (yang samar maknanya) dan meninggalkan ayat-ayat muhkamat (yang jelas maknanya). Ini adalah ciri orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan. Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk waspada dan menjauhi mereka. Hadits ini juga menegaskan bahwa cara selamat dalam beragama adalah dengan mengembalikan ayat yang samar kepada yang jelas, dan menyerahkan makna hakiki ayat-ayat mutasyabihat hanya kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ:
QS. Ali 'Imran [3]: 7
لَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Terjemahan: "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas maknanya), itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat (samar). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepadanya; semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal."
2. Hadits yang sedang dijelaskan:
Hadits riwayat Abu Dawud no. 4598, dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 4547) dan Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2665) dengan lafaz yang semakna.
3. Kaitan dengan Ulama:
- Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan ayat ini secara panjang lebar, bahwa orang-orang yang hatinya menyimpang akan mengikuti ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan menakwilkannya sesuai keinginan mereka.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir as-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman) menjelaskan bahwa sikap orang beriman terhadap ayat mutasyabihat adalah mengimani semuanya, menyerahkan makna hakiki kepada Allah, dan mengembalikan pemahaman ayat mutasyabihat kepada ayat muhkamat.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hadits ini saat mensyarah Shahih al-Bukhari, bahwa perintah untuk menjauhi mereka adalah agar tidak terpengaruh oleh kesesatan mereka.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini adalah salah satu ayat yang sangat agung dan menjadi pedoman dalam memahami Al-Qur'an. Berikut poin-poin pentingnya:
1. Makna Muhkamat dan Mutasyabihat
- Muhkamat adalah ayat-ayat yang jelas maknanya, tidak samar, seperti ayat tentang halal-haram, ibadah, dan akhlak. Ini adalah "induk" Al-Qur'an (ummul kitab) karena menjadi rujukan dan dasar hukum.
- Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang maknanya samar bagi sebagian orang, seperti ayat tentang sifat-sifat Allah, huruf-huruf muqatha'ah (seperti alif lam mim), dan hal-hal ghaib lainnya.
2. Bahaya Mengikuti Mutasyabihat
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan (zaygh) akan sengaja mencari ayat-ayat mutasyabihat untuk dijadikan alat memecah belah umat (fitnah) dan menakwilkannya secara menyimpang. Mereka tidak mau berpegang pada ayat muhkamat yang jelas, tetapi justru memutarbalikkan ayat yang samar.
3. Sikap Orang Beriman
Syaikh as-Sa'di menjelaskan bahwa orang yang beriman dan mendalam ilmunya (ar-rasikhun fil 'ilm) akan berkata, "Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami." Mereka tidak memaksakan diri untuk mengetahui makna hakiki yang hanya Allah yang mengetahuinya. Mereka mengimani bahwa semua ayat Al-Qur'an adalah benar, baik yang jelas maupun yang samar.
4. Perintah Menjauhi Mereka
Nabi ﷺ bersabda, "Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyabihat, maka mereka adalah orang-orang yang disebut Allah, maka jauhilah mereka." Ini adalah perintah untuk tidak duduk bersama mereka, tidak mendengarkan perdebatan mereka, dan tidak mengikuti pemahaman mereka. Imam Ibnu Hajar menjelaskan bahwa menjauhi mereka adalah bentuk penjagaan diri dari fitnah.
5. Perbedaan Pendapat tentang "Ar-Rasikhun"
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang makna "ar-rasikhuna fil 'ilm" dalam ayat ini:
- Pendapat pertama (diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya): Mereka berhenti pada "wa ma ya'lamu ta'wilahu illallah" (tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah), sehingga "ar-rasikhun" adalah mereka yang mengakui tidak mengetahuinya.
- Pendapat kedua (diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan lainnya): "Ar-rasikhun" mengetahui takwilnya, sehingga ayat dibaca dengan waqaf (berhenti) setelah "ar-rasikhuna fil 'ilmi".
Imam Ibnu Katsir cenderung kepada pendapat yang menggabungkan keduanya: bahwa makna yang benar adalah orang-orang yang mendalam ilmunya tidak mengetahui hakikat takwil yang hanya Allah yang mengetahuinya, tetapi mereka mengetahui makna yang sesuai dengan konteks dan kaidah bahasa. Namun yang terpenting, mereka tidak memaksakan takwil yang menyimpang.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa ia berkata: "Rasulullah ﷺ membaca ayat ini: 'Dialah yang menurunkan Kitab kepadamu...' hingga '...ulul albab.' Kemudian beliau bersabda: 'Apabila kalian melihat orang-orang yang mengikuti yang mutasyabihat di antara ayat-ayatnya, maka mereka adalah orang-orang yang disebut Allah, maka jauhilah mereka.'" (HR. Abu Dawud, al-Bukhari, dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu 'anha juga menceritakan bahwa Nabi ﷺ melarang berdebat tentang takdir dan hal-hal yang samar, karena hal itu bisa menjerumuskan seseorang kepada kesesatan.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa keselamatan dalam beragama adalah dengan mengikuti yang jelas (muhkamat) dan tidak memperdebatkan yang samar (mutasyabihat). Orang-orang yang suka memperdebatkan hal-hal yang tidak jelas justru akan terjerumus dalam fitnah.
Kesimpulan Praktis
- Berpeganglah pada ayat-ayat muhkamat yang jelas maknanya sebagai dasar agama kita.
- Imanilah ayat-ayat mutasyabihat tanpa memaksakan takwil yang menyimpang.
- Jauhi orang-orang yang suka memperdebatkan ayat mutasyabihat untuk mencari fitnah, karena Nabi ﷺ memerintahkan kita untuk menjauh dari mereka.
- Jangan jadikan perbedaan kecil sebagai ajang perpecahan, karena itu adalah ciri orang yang hatinya condong kepada kesesatan.
- Perbanyak doa agar Allah menjaga hati kita dari penyimpangan, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.