Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4597 tentang Umat Islam terpecah 73 golongan, satu golongan selamat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil utama tentang perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa hanya satu golongan yang selamat, yaitu Al-Jama'ah (golongan yang bersatu di atas kebenaran). Ini bukan berarti kita boleh membenarkan perpecahan, tetapi justru menjadi peringatan agar kita berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, serta menjauhi hawa nafsu yang menyesatkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud No. 4597 dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (no. 2641), Ibnu Majah (no. 3991), dan Ahmad (no. 16942) dengan lafaz yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi bergolong-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat." (QS. Al-An'am [6]: 159)

Kaitan dengan ulama:

Imam At-Tirmidzi ketika meriwayatkan hadits ini dalam Sunan-nya (Kitab Al-Iman, Bab Ma Ja'a fi Iftiraq Hadzihil Ummah) menjelaskan bahwa makna "Al-Jama'ah" menurut para ulama adalah Ahlul Fiqh wal 'Ilmi (ahli ilmu dan pemahaman agama), dan beliau menukil perkataan Imam Al-Bukhari tentang hal ini.

Penjelasan Rinci

1. Makna Perpecahan Umat

Hadits ini mengabarkan bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ akan terpecah menjadi 73 golongan. Ini adalah kabar ghaib yang benar terjadi sepanjang sejarah. Namun perlu dipahami dengan baik:

  • Tujuh puluh dua golongan masuk neraka bukan berarti semua pengikutnya kekal di neraka. Yang dimaksud adalah mereka berada dalam kesesatan yang membawa kepada neraka, kecuali yang Allah ampunkan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa di antara mereka ada yang fasik dan ada yang kafir.
  • Satu golongan selamat adalah Al-Jama'ah, yaitu mereka yang berpegang teguh pada apa yang dipegang oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

2. Penjelasan "Al-Jama'ah" Menurut Ulama

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa Al-Jama'ah adalah para sahabat Nabi ﷺ dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam hal aqidah, perkataan, dan perbuatan. Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud Al-Jama'ah bukan sekadar berkumpulnya banyak orang, tetapi kebersamaan di atas kebenaran, meskipun jumlah mereka sedikit.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu mereka yang berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah serta pemahaman para sahabat dan tabi'in. Beliau menegaskan bahwa ciri utama mereka adalah mendahulukan dalil di atas hawa nafsu dan taqlid buta.

3. Bahaya Hawa Nafsu

Tambahan dalam riwayat ini sangat penting: "Akan muncul di antara umatku orang-orang yang dikuasai oleh hawa nafsu seperti anjing yang menggigit pemiliknya." Ini adalah perumpamaan yang sangat kuat dari Nabi ﷺ.

Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hawa nafsu yang dimaksud di sini adalah syubhat dan syahwat yang menyimpang dari kebenaran. Sebagaimana anjing yang menggigit pemiliknya tidak meninggalkan urat dan sendi kecuali dimasukinya, demikian pula hawa nafsu akan merasuk ke seluruh jiwa seseorang sehingga ia tidak lagi mengenal kebenaran.

4. Sikap Kita Terhadap Perpecahan

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata: "Aku tidak pernah melihat seseorang yang berdebat dengan hawa nafsu kecuali ia akan binasa." Maka sikap kita adalah:

  • Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih
  • Menjauhi perdebatan yang tidak bermanfaat dan perpecahan
  • Bersatu di atas kebenaran, bukan bersatu di atas kebatilan
  • Mengikuti ulama Ahlus Sunnah yang dikenal keilmuannya

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah ditanya tentang firman Allah:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

"Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula muka yang hitam muram." (QS. Ali 'Imran [3]: 106)

Beliau berkata: "Yaitu hari ketika Ahlus Sunnah menjadi putih wajahnya dan Ahlul Bid'ah menjadi hitam wajahnya."

Kemudian beliau ditanya: "Wahai Imam, apa itu Ahlus Sunnah?" Beliau menjawab: "Mereka adalah Ahlul Jama'ah, yaitu orang-orang yang tidak memiliki gelar khusus (selain Islam dan Sunnah), bukan orang yang menamakan diri dengan julukan-julukan bid'ah."

Kisah ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, para ulama sangat menjaga kemurnian Islam dari perpecahan dan julukan-julukan yang memecah belah umat.

Kesimpulan Praktis

  1. Berpegang teguhlah pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, tabi'in, dan ulama Ahlus Sunnah.
  2. Jauhilah perpecahan dan jangan mudah menuduh sesat tanpa ilmu.
  3. Waspadai hawa nafsu yang bisa merusak pemahaman agama kita.
  4. Bergabunglah dengan jama'ah yang benar yaitu mereka yang berpegang pada sunnah, meskipun jumlah mereka sedikit.
  5. Perbanyaklah belajar dari ulama yang benar dan jangan mengambil agama dari orang yang tidak dikenal keilmuannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.