Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4303 tentang Perang melawan Turki menjelang kiamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini termasuk tanda-tanda besar hari kiamat yang disebutkan Nabi ﷺ: akan terjadi peperangan antara kaum Muslimin dengan bangsa Turki yang ciri-cirinya dijelaskan secara rinci. Tugas kita bukan menebak-nebak kapan dan siapa persisnya, melainkan mengambil pelajaran bahwa hari kiamat pasti datang, dan kita diperintahkan bersiap dengan iman, ilmu, serta amal saleh. Para ulama Ahlus Sunnah memahami hadits ini sebagai kabar gaib yang wajib diimani, bukan bahan spekulasi politik.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Malahim (Peperangan Besar), dari jalur Abu Hurairah رضي الله عنه. Sanadnya: Qutaibah → Ya'qub Al-Iskandari → Suhail bin Abi Shalih → ayahnya (Abu Shalih) → Abu Hurairah.

Teks hadits:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ، قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمَجَانِّ الْمُطْرَقَةِ، يَلْبَسُونَ الشَّعْرَ

Terjemahan: "Tidak akan datang hari kiamat hingga kaum Muslimin memerangi orang-orang Turki, suatu kaum yang wajah mereka seperti perisai yang dilapisi (kulit), dan mereka memakai (pakaian/sandal dari) rambut."

Hadits senada juga diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dengan lafaz yang menyebut ciri serupa: wajah seperti perisai berlapis, dan sandal dari rambut. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini termasuk tanda kiamat yang sudah dikenal dalam kitab-kitab hadits.

Dalil umum tentang kepastian kiamat:

وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

QS. Al-Anbiya' [21]: 38 — "Dan mereka berkata: 'Kapankah (datangnya) janji itu, jika kamu orang-orang yang benar?'"

Penjelasan Rinci

1. Kedudukan hadits ini dalam bab tanda-tanda kiamat.

Imam Abu Dawud menempatkannya dalam Kitab Al-Malahim, yaitu bab tentang peperangan besar di akhir zaman. Ini menunjukkan bahwa hadits ini bukan perintah untuk memerangi bangsa tertentu sekarang, melainkan kabar tentang peristiwa yang akan terjadi menjelang kiamat.

2. Makna "wajah seperti perisai yang dilapisi".

Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa al-majan al-muthraqah adalah perisai yang dilapisi kulit atau besi secara bertumpuk. Para ulama memahaminya sebagai gambaran wajah yang lebar, tebal, dan bulat — ciri fisik bangsa yang disebut dalam hadits. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini adalah sifat lahiriah yang dikenal pada bangsa Turki (bangsa-bangsa Asia Tengah dan sekitarnya) pada masa itu.

3. Makna "memakai rambut".

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mereka memakai pakaian atau alas kaki yang terbuat dari rambut (bulu), sebagaimana kebiasaan sebagian bangsa di wilayah dingin. Ini menunjukkan ciri khas pakaian mereka, bukan larangan memakai sesuatu dari rambut.

4. Apakah peperangan ini sudah terjadi atau belum?

Di sini ada perbedaan penafsiran di kalangan ulama:

  • Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa sebagian tanda ini telah muncul pada peperangan kaum Muslimin melawan bangsa-bangsa Turki di masa lalu (misalnya di masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah), namun penggenapan akhirnya tetap akan terjadi menjelang kiamat.
  • Imam An-Nawawi menegaskan bahwa hadits-hadits tanda kiamat semacam ini wajib diimani sebagai kabar gaib; kita tidak boleh memastikan waktunya, karena hanya Allah yang tahu.

5. Sikap yang benar menurut Ahlus Sunnah.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam berbagai fatwanya menegaskan bahwa tanda-tanda kiamat diimani sebagaimana datangnya, tanpa takwil yang berlebihan dan tanpa spekulasi politik. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah juga menekankan bahwa tugas hamba adalah bersiap dengan amal saleh, bukan sibuk menebak-nebak kapan kiamat terjadi.

6. Catatan penting tentang penyebutan "Turki".

Para ulama seperti Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fi al-Fitan wa al-Malahim menjelaskan bahwa penyebutan "Turki" dalam hadits merujuk pada bangsa dengan ciri fisik dan budaya tertentu yang dikenal pada masa Nabi ﷺ, bukan semata-mata negara Turki modern. Yang wajib kita yakini adalah isi kabar-nya, bukan menetapkan identitas politik tertentu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah رضي الله عنه — sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — sangat tekun menjaga hafalan sabda Nabi ﷺ. Beliau pernah membagi waktunya menjadi tiga bagian: untuk ibadah, untuk keluarga, dan untuk majelis ilmu bersama Nabi ﷺ. Dari ketekunan inilah kaum Muslimin mendapatkan banyak hadits tentang tanda-tanda kiamat, termasuk hadits ini.

Suatu ketika, sebagian sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kapan kiamat, lalu beliau menjawab dengan mengajarkan agar mereka tidak menunggu-nunggu, tetapi beramal. Inilah hikmah yang diwarisi para ulama: kabar tanda kiamat bukan untuk ditakuti secara berlebihan, melainkan untuk menyadarkan hati agar bersiap.

Kesimpulan Praktis

  1. Imani kabar ini sebagai tanda kiamat yang benar, tanpa menebak waktu atau menetapkan identitas politik tertentu.
  2. Fokus pada persiapan diri: perbanyak istighfar, jaga shalat, dan perbaiki akhlak.
  3. Jauhi spekulasi dan ghuluw dalam membahas tanda kiamat; cukupkan dengan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.
  4. Jangan jadikan hadits ini alat permusuhan terhadap bangsa atau suku mana pun; Islam mengajarkan keadilan dan kasih sayang.
  5. Perbanyak doa agar Allah menetapkan kita dalam iman hingga akhir hayat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?