Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan adalah bagian dari riwayat tentang fitnah dan peperangan di akhir zaman, khususnya berkaitan dengan perang melawan Romawi. Tambahan redaksi dalam riwayat ini menegaskan bahwa akan ada sekelompok kaum Muslimin yang bangkit mengambil senjata mereka, lalu berperang, dan Allah memuliakan mereka dengan mati syahid. Ini menunjukkan keutamaan besar bagi mereka yang berperang di jalan Allah dalam kondisi fitnah, serta dorongan untuk tetap teguh dan tidak lari dari kebenaran.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah riwayat dari Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Malahim, Bab Ma Jaa'a fil Malahim ar-Rum (no. 4293). Sanadnya berakhir kepada sahabat Dzu Mikhbar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ.
Teks hadits yang Anda sertakan adalah tambahan redaksi dari riwayat Al-Walid bin Muslim dari Hassan bin 'Athiyyah. Tambahan tersebut berbunyi:
وَيَثُورُ الْمُسْلِمُونَ إِلَى أَسْلِحَتِهِمْ فَيَقْتَتِلُونَ فَيُكْرِمُ اللَّهُ تِلْكَ الْعِصَابَةَ بِالشَّهَادَةِ
Artinya: "Dan kaum Muslimin akan bangkit menuju senjata-senjata mereka, lalu mereka saling berperang, maka Allah memuliakan kelompok itu dengan syahid."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya dengan redaksi yang serupa. Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam tanda-tanda besar hari kiamat dan kabar gembira bagi kaum Muslimin yang istiqamah di akhir zaman.
Dalil Al-Qur'an yang relevan dengan keutamaan syahid dan berperang di jalan Allah:
QS. Ali 'Imran [3]: 169-170
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
"Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka."
Kaitan dengan ulama dari daftar:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kemuliaan para syuhada di sisi Allah, dan bahwa mereka mendapatkan kenikmatan yang tiada tara. Ini sejalan dengan makna hadits di atas bahwa Allah memuliakan kelompok yang berperang di jalan-Nya dengan syahid.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini berbicara tentang salah satu peristiwa besar di akhir zaman, yaitu peperangan kaum Muslimin melawan Romawi. Dalam riwayat lengkapnya, disebutkan bahwa akan terjadi perdamaian antara kaum Muslimin dan Romawi, kemudian mereka saling berkhianat, lalu terjadi peperangan besar. Pada saat itulah kaum Muslimin bangkit mengambil senjata mereka dan berperang dengan sungguh-sungguh.
Imam Al-Khathabi (dalam Ma'alim as-Sunan, syarah Sunan Abu Dawud) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "kelompok" (العصابة) dalam hadits ini adalah sekelompok kecil kaum Muslimin yang tetap teguh di atas kebenaran di tengah kekacauan besar. Mereka tidak gentar menghadapi musuh, dan Allah memuliakan mereka dengan syahid sebagai bentuk kehormatan tertinggi.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hadits-hadits fitnah akhir zaman. Beliau menjelaskan bahwa sikap seorang Muslim terhadap hadits-hadits semacam ini adalah beriman kepada kabar beritanya, mengambil pelajaran, dan mempersiapkan diri dengan keimanan serta amal shalih. Beliau juga menekankan bahwa keutamaan syahid adalah salah satu bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam penjelasannya tentang fitnah akhir zaman menegaskan bahwa seorang Muslim tidak boleh berputus asa atau merasa asing dalam menghadapi kondisi sulit. Justru, ia harus menjadi bagian dari kelompok yang disebut dalam hadits ini—kelompok yang bangkit membela kebenaran, meskipun jumlah mereka sedikit.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (saat menjelaskan hadits-hadits fitnah dalam Shahih Bukhari) menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya perang Romawi ini. Namun yang jelas, kabar ini adalah benar dan pasti terjadi. Yang terpenting bagi seorang Muslim adalah mempersiapkan diri secara iman dan amal.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa keutamaan syahid bukan hanya untuk mereka yang berperang di medan perang secara fisik, tetapi juga untuk mereka yang berjuang melawan hawa nafsu dan syubhat. Namun, syahid di medan perang adalah derajat yang paling tinggi dan paling mulia.
Perbedaan redaksi dalam riwayat:
Abu Dawud menyebutkan bahwa Al-Walid bin Muslim meriwayatkan hadits ini dari Jubair, dari Dzu Mikhbar, dari Nabi ﷺ. Sedangkan perawi lain (Rauh, Yahya bin Hamzah, dan Bisyr bin Bakr) meriwayatkan dari Al-Auza'i sebagaimana yang dikatakan oleh 'Isa. Ini menunjukkan bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling menguatkan, dan para ulama hadits menerimanya sebagai hadits yang shahih.
Story Telling
Dari sahabat Dzu Mikhbar radhiyallahu 'anhu, ia meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang peperangan dengan Romawi. Dalam riwayat lain yang shahih, Nabi ﷺ bersabda:
"Kalian akan berdamai dengan Romawi dengan perdamaian yang aman, lalu kalian dan mereka akan berperang melawan musuh dari belakang mereka. Maka kalian akan diberi kemenangan dan ghanimah (harta rampasan), kemudian kalian akan kembali dan berhenti di padang rumput yang berbukit-bukit. Lalu sebagian Romawi mengangkat salib dan berkata: 'Romawi menang!' Maka sebagian kaum Muslimin marah dan menyerang mereka..."
Dalam riwayat ini, Nabi ﷺ menggambarkan bagaimana sebagian kaum Muslimin akan terpancing emosi dan bertindak tanpa perintah pemimpin. Namun, di tengah kekacauan itu, ada sekelompok kecil yang tetap tenang, mengambil senjata mereka, dan berperang dengan niat yang ikhlas karena Allah. Merekalah yang disebut dalam hadits ini sebagai kelompok yang dimuliakan dengan syahid.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa di tengah fitnah dan kekacauan, yang paling penting adalah niat yang ikhlas dan ketaatan kepada Allah serta pemimpin yang sah. Bukan emosi sesaat, tetapi keteguhan di atas kebenaran.
Kesimpulan Praktis
- Beriman kepada kabar akhir zaman — Hadits ini adalah kabar benar dari Nabi ﷺ, dan kita wajib mengimaninya tanpa menanyakan kapan terjadinya secara detail.
- Mempersiapkan diri dengan iman dan amal shalih — Menghadapi fitnah besar tidak cukup dengan fisik saja, tetapi yang terpenting adalah kekuatan iman dan ilmu.
- Menjaga niat dalam beramal — Kelompok yang dimuliakan dengan syahid adalah mereka yang berperang dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena emosi atau kepentingan dunia.
- Tetap teguh di atas kebenaran meskipun sendirian — Jangan takut menjadi minoritas jika berada di atas kebenaran.
- Menghindari sikap ghuluw (berlebihan) — Dalam menghadapi fitnah, seorang Muslim harus mengikuti bimbingan ulama dan pemimpin yang sah, bukan bertindak sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.