Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa di akhir zaman akan ada satu pasukan yang ditenggelamkan ke dalam bumi (khasf) ketika mereka hendak menyerang Ka'bah. Namun, tidak semua orang dalam pasukan itu sama kedudukannya di sisi Allah. Mereka yang ikut karena terpaksa atau tidak merelakan perbuatan tersebut, tetap akan ditenggelamkan secara lahiriah bersama pasukan itu, tetapi pada Hari Kiamat mereka dibangkitkan sesuai dengan niatnya. Jika niatnya baik dan hatinya tidak setuju, maka Allah akan membalasnya sesuai niat tersebut. Ini menunjukkan besarnya perhatian syariat terhadap niat dan isi hati, serta keadilan Allah yang Maha Teliti.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Mahdi, dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ابْنِ الْقِبْطِيَّةِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ بِقِصَّةِ جَيْشِ الْخَسْفِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَكَيْفَ بِمَنْ كَانَ كَارِهًا قَالَ " يُخْسَفُ بِهِمْ وَلَكِنْ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى نِيَّتِهِ " .
Terjemahan: Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, dari Nabi ﷺ tentang kisah pasukan yang ditenggelamkan (ke dalam bumi). Ummu Salamah bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana dengan orang yang terpaksa (ikut)?" Beliau menjawab, "Mereka tetap ditenggelamkan, tetapi pada Hari Kiamat mereka dibangkitkan sesuai dengan niatnya." (HR. Abu Dawud no. 4289 dan Muslim no. 2882)
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain yang menjelaskan bahwa di antara pasukan tersebut ada yang lari, ada yang dipaksa, dan ada yang tidak menyetujui, namun semuanya tetap ditenggelamkan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa khasf (pembenaman ke bumi) ini adalah salah satu tanda besar hari kiamat. Pasukan yang dimaksud adalah pasukan yang hendak menghancurkan Ka'bah, dan Allah menenggelamkan mereka semua di sebuah tempat bernama Al-Baida' (padang pasir antara Makkah dan Madinah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan prinsip penting dalam Islam: hukum akhirat berdasarkan niat, sedangkan hukum dunia berdasarkan amal lahiriah. Orang yang hatinya tidak setuju dengan kejahatan pasukan tersebut, secara lahiriah ia tetap tertimpa musibah yang sama di dunia, tetapi di akhirat ia akan diperlakukan sesuai dengan niat dan keyakinan hatinya. Ini adalah bentuk keadilan Allah yang sempurna.
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin juga menegaskan bahwa amal perbuatan itu dinilai berdasarkan niatnya, dan manusia akan dibangkitkan sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Beliau menyebutkan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun, meskipun orang tersebut berada di tengah-tengah orang-orang yang zalim.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan hadits-hadits tanda kiamat menyebutkan bahwa pelajaran penting dari hadits ini adalah agar seorang mukmin tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan apa yang tampak. Bisa jadi seseorang berada di tengah-tengah orang-orang yang bermaksiat, tetapi hatinya tidak meridhai perbuatan mereka. Allah Maha Mengetahui isi hati, dan Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan niatnya.
Adapun makna "dibangkitkan sesuai niatnya" adalah bahwa balasan akhirat seseorang sangat terkait dengan apa yang ia yakini dan ia inginkan di dalam hatinya. Jika ia terpaksa ikut karena takut dibunuh, tetapi hatinya benci terhadap kejahatan tersebut, maka ia termasuk orang yang selamat dari adzab akhirat, meskipun ia tertimpa musibah duniawi bersama mereka.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal dari kalangan salaf tentang pentingnya niat. Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf sangat menjaga niat mereka dalam setiap amal, bahkan sampai-sampai mereka menganggap menjaga niat lebih berat daripada menjaga amal itu sendiri.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata, "Tidak ada sesuatu yang paling berat bagiku untuk kuperbaiki selain niatku, karena niat itu selalu berbolak-balik." Ini menunjukkan bahwa para ulama sangat memahami bahwa Allah melihat hati, bukan sekadar amal lahiriah. Sebagaimana dalam hadits ini, orang yang terpaksa ikut pasukan yang zalim tetap ditenggelamkan di dunia, tetapi keselamatan akhiratnya ditentukan oleh niat hatinya. Maka seorang mukmin hendaknya selalu memperbaiki niatnya dalam setiap keadaan, karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang hatinya bersih.
Kesimpulan Praktis
- Niat adalah tolok ukur balasan akhirat. Sebagaimana hadits ini, meskipun seseorang tertimpa musibah di dunia bersama orang-orang zalim, keselamatan akhiratnya ditentukan oleh niat hatinya.
- Jangan mudah menghakimi orang lain. Kita tidak tahu isi hati seseorang. Bisa jadi orang yang tampak berada di barisan orang-orang bermaksiat, hatinya justru tidak meridhai perbuatan tersebut.
- Perbaiki niat dalam setiap keadaan. Seorang mukmin harus selalu menjaga hatinya tetap lurus, karena Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam dada.
- Hukum dunia berbeda dengan hukum akhirat. Di dunia, musibah bisa menimpa siapa saja, tetapi di akhirat, Allah akan berlaku adil sesuai dengan niat dan amal setiap hamba.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.