Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4281 tentang Kekacauan setelah kedatangan Al-Mahdi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah tambahan (ziyadah) dari Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu tentang tanda-tanda akhir zaman: setelah munculnya sosok pemimpin (dalam konteks hadits ini adalah Al-Mahdi), akan terjadi al-harj, yaitu kekacauan dan pertumpahan darah. Hadits ini mengajarkan kita agar tidak sibuk menebak-nebak kapan terjadinya, tetapi mempersiapkan diri dengan iman, amal shalih, dan ilmu.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, Kitab Al-Mahdi, no. 4281, dari sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu. Redaksi aslinya:

«ثُمَّ يَكُونُ الْهَرْجُ»

"Kemudian akan terjadi al-harj (kekacauan/pertumpahan darah)."

Makna "al-harj" dijelaskan dalam hadits lain yang shahih. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«وَالْهَرْجُ الْقَتْلُ»

"Al-harj adalah pembunuhan."

Adapun ayat yang relevan tentang fitnah dan kekacauan di akhir zaman, Allah berfirman:

وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لَا يَنْطِقُونَ

QS. An-Naml [27]: 85

"Dan berlakulah perkataan (azab) atas mereka karena kezaliman mereka, maka mereka tidak dapat berkata."

Ayat ini menunjukkan bahwa kekacauan dan azab terjadi karena kezaliman manusia — sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dalam tafsirnya bahwa kaum yang zalim akan ditimpa keputusan Allah dan tidak mampu membela diri.

Penjelasan Rinci

Hadits ini merupakan kelanjutan dari hadits Jabir bin Samurah yang masyhur tentang tanda-tanda akhir zaman. Dalam riwayat lengkapnya (yang juga ada dalam Sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lain), Nabi ﷺ menyebutkan bahwa akan ada para pemimpin, lalu muncul Al-Mahdi, kemudian setelah itu terjadi al-harj.

Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah — keduanya dari kalangan Tabi'in — ketika menafsirkan ayat-ayat tentang fitnah dan kekacauan, menjelaskan bahwa kekacauan sosial dan pertumpahan darah adalah akibat dari dosa dan kezaliman umat. Ibn Katsir dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim dan tafsirnya menegaskan bahwa hadits-hadits tentang Al-Mahdi dan tanda-tanda akhir zaman adalah mutawatir makna, dan wajib diimani tanpa menetapkan waktu atau menebak-nebak.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits fitnah akhir zaman hendaknya dipahami sebagai peringatan agar umat berhati-hati, bukan sebagai bahan spekulasi politik. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa penyebutan tanda-tanda akhir zaman bertujuan mendorong umat untuk beramal shalih dan menjauhi fitnah.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam syarah-syarahnya tentang aqidah akhir zaman menekankan: kita wajib mengimani tanda-tanda kiamat yang shahih, namun tidak boleh menetapkan waktunya dan tidak boleh sibuk menebak-nebak identitas orang tertentu. Yang penting adalah mempersiapkan diri.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menasihatkan agar umat fokus pada tauhid, ilmu, dan amal, serta menjauhi perpecahan dan pertumpahan darah di antara kaum muslimin.

Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang rincian tanda-tanda akhir zaman, mereka sepakat bahwa:

  1. Hadits-haditsnya shahih dan wajib diimani.
  2. Waktunya hanya Allah yang tahu.
  3. Tugas kita adalah beramal dan berhati-hati dari fitnah.

Yang paling kuat adalah pendekatan Ahlus Sunnah sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir, an-Nawawi, dan Ibn Hajar: imani, jangan menebak waktu, dan sibuklah dengan taat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang keburukan yang akan datang setelah kebaikan. Nabi ﷺ menjawab dengan rinci tentang fitnah-fitnah yang akan terjadi, dan Hudzaifah bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati hal itu?" Nabi ﷺ menjawab: "Berpeganglah pada jama'ah kaum muslimin dan imam mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hikmahnya: Ketika kekacauan (al-harj) terjadi, seorang muslim tidak boleh ikut arus pertumpahan darah, tetapi berpegang pada jama'ah, ilmu, dan imam yang lurus. Al-Hasan al-Bashri berkata: "Demi Allah, tidaklah suatu kaum meninggalkan urusan agama mereka kecuali Allah akan menimpakan kepada mereka kekacauan." (makna umum dari nasihat beliau).

Kesimpulan Praktis

  1. Imani hadits ini sebagai bagian dari tanda-tanda akhir zaman yang shahih; jangan menolak atau meremehkannya.
  2. Jangan menebak waktu atau identitas tertentu; cukup imani dan persiapkan diri.
  3. Jauhi pertumpahan darah dan fitnah; berpegang pada jama'ah, ilmu, dan ulama yang lurus.
  4. Perbanyak amal shalih, taubat, dan doa agar dilindungi dari fitnah.
  5. Belajar aqidah dan ilmu dari sumber yang shahih agar tidak terbawa arus kekacauan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?