Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4279 tentang Dua belas khalifah dari Quraisy

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memberitakan bahwa agama Islam akan terus tegak dan terjaga sampai datangnya dua belas khalifah yang umat bersepakat atas mereka, dan semuanya dari suku Quraisy. Para ulama Ahlus Sunnah memahami ini sebagai kabar tentang keberlangsungan kepemimpinan umat dan kekuatan agama, bukan penentuan nama atau jumlah tokoh tertentu yang harus dihitung satu per satu. Yang wajib bagi kita adalah berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah, taat kepada pemimpin dalam kebaikan, dan tidak sibuk dengan takwil yang berlebihan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Mahdi, dari sahabat Jabir bin Samurah رضي الله عنه.

Teks hadits:

لَا يَزَالُ هَذَا الدِّينُ قَائِمًا حَتَّى يَكُونَ عَلَيْكُمُ اثْنَا عَشَرَ خَلِيفَةً كُلُّهُمْ تَجْتَمِعُ عَلَيْهِ الْأُمَّةُ

"Agama ini akan terus tegak hingga ada dua belas khalifah di atas kalian, semuanya disepakati oleh umat."

Lalu Nabi ﷺ menyebutkan kalimat yang tidak dipahami Jabir, dan ayahnya menjelaskan:

كُلُّهُمْ مِنْ قُرَيْشٍ

"Semuanya dari Quraisy."

Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Jabir bin Samurah dengan lafaz yang berdekatan, dan Imam An-Nawawi menyebutkannya dalam Syarh Shahih Muslim. Ibnu Hajar al-Asqalani membahasnya dalam Fathul Bari, dan Ibn Katsir menyinggungnya dalam kitab sejarah dan tafsirnya.

Ayat yang berkaitan dengan kepemimpinan dan ketaatan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

QS. An-Nisa' [4]: 59

"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri (pemimpin) di antara kalian."

Penjelasan Rinci

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk kabar ghaib yang benar, dan para ulama berbeda pendapat dalam memaknai "dua belas khalifah". Sebagian memahami sebagai jumlah pemimpin yang berkuasa secara berurutan, sebagian memahami sebagai isyarat bahwa kepemimpinan umat akan tetap ada dan terjaga sampai jumlah tertentu, dan sebagian lagi menyerahkan makna pastinya kepada Allah.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa yang penting dari hadits ini adalah:

  1. Agama ini akan tetap tegak dan tidak akan lenyap, meskipun terjadi gejolak politik.
  2. Kepemimpinan umat akan terus berlangsung, dan umat diperintahkan untuk bersatu di belakang pemimpin selama ia menegakkan syariat.
  3. Sifat "dari Quraisy" adalah kabar, bukan syarat mutlak yang harus diperdebatkan oleh orang awam.

Ibn Katsir menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keberkahan dan keberlangsungan kepemimpinan dalam Islam, dan bahwa Allah menjaga agama ini melalui para pemimpin yang adil maupun yang kurang adil, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain bahwa Allah menguatkan agama ini bahkan melalui orang yang fajir.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam prinsip-prinsipnya menekankan bahwa umat Islam wajib bersatu, taat kepada pemimpin dalam hal yang bukan maksiat, dan tidak memberontak selama pemimpin masih menegakkan shalat dan syariat secara umum.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini bukan untuk dijadikan bahan spekulasi politik atau penghitungan tokoh, melainkan untuk menenangkan umat bahwa agama ini akan terus ada sampai akhir zaman.

Adapun perbedaan pendapat tentang siapa saja dua belas khalifah tersebut, Ibnu Hajar menyebutkan banyak pendapat dan akhirnya menyimpulkan bahwa yang paling kuat adalah pendapat yang menyerahkan maknanya kepada Allah dan tidak memaksakan takwil tertentu, karena hadits ini bersifat kabar, bukan perintah untuk menghitung.

Story Telling

Diceritakan bahwa Jabir bin Samurah رضي الله عنه, seorang sahabat yang masih muda, mendengar langsung sabda Nabi ﷺ ini. Ia tidak memahami sebagian kalimat karena suara Nabi ﷺ saat itu mungkin pelan atau ia belum menangkap maknanya. Ia pun bertanya kepada ayahnya, Samurah bin Jundub رضي الله عنه, dan ayahnya menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyebut "semuanya dari Quraisy".

Dari kisah ini kita belajar adab seorang sahabat: ketika tidak memahami sabda Nabi ﷺ, ia bertanya kepada orang yang lebih tahu, bukan menafsirkan sendiri. Ini pelajaran bagi kita agar bertanya kepada ulama dan tidak berani menakwil hadits dengan hawa nafsu.

Al-Hasan al-Bashri pernah menasihatkan bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan orang yang mengambilnya tanpa adab akan tersesat. Kisah Jabir ini menunjukkan bagaimana adab bertanya menjaga seseorang dari kesalahan memahami nash.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa agama Islam akan terus tegak sampai akhir zaman, meskipun keadaan umat berubah.
  2. Taatlah kepada pemimpin selama dalam kebaikan, dan jangan memberontak selama mereka menegakkan shalat dan syariat secara umum.
  3. Jangan sibuk menghitung atau menetapkan nama dua belas khalifah secara pasti, karena itu termasuk takwil yang tidak diperlukan.
  4. Bersatulah di atas Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  5. Bertanyalah kepada ulama ketika tidak memahami dalil, sebagaimana Jabir bertanya kepada ayahnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?