Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4247 tentang Perintah lari dari fitnah saat tak ada khalifah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah bagian dari hadits panjang tentang fitnah yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu. Intinya, Nabi ﷺ mengajarkan bahwa ketika terjadi fitnah besar dan tidak ada khalifah (pemimpin) yang jelas, seorang muslim diperintahkan untuk menjauhkan diri dari manusia dan memilih menyendiri, bahkan sampai mati dalam keadaan "menggigit akar pohon" — artinya tetap berpegang teguh pada keselamatan agama, tidak ikut campur dalam peperangan dan perselisihan yang tidak jelas. Setelah fitnah itu, keadaan akan semakin buruk hingga hari kiamat, digambarkan dengan kuda yang tidak sempat melahirkan anaknya sebelum kiamat tiba — menunjukkan waktu yang sangat panjang dan kondisi yang semakin rusak.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab al-Fitan, Bab Dzikr al-Fitan wa 'Alamatiha, no. 4247. Juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Fitan, Bab Wujub al-Mulazamah 'ala al-Jama'ah 'inda al-Fitan, no. 2887, dari jalur lain dengan lafaz yang lebih lengkap.

Teks Arab hadits (potongan yang relevan):

فَإِنْ لَمْ تَجِدْ يَوْمَئِذٍ خَلِيفَةً فَاهْرَبْ حَتَّى تَمُوتَ فَإِنْ تَمُتْ وَأَنْتَ عَاضٌّ

"Jika pada hari itu kamu tidak menemukan seorang khalifah, maka larilah hingga kamu mati, bahkan jika kamu mati sambil menggigit (akar pohon)."

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Ma'idah [5]: 32

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

"Oleh karena itu Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang tanpa alasan yang benar, atau berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seseorang, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia."

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (kitab al-Fitan) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran untuk mengasingkan diri ('uzlah) ketika terjadi fitnah yang memecah belah kaum muslimin, dan larangan ikut campur dalam peperangan yang tidak jelas kebenarannya. Beliau menukil penjelasan ulama sebelumnya bahwa yang dimaksud "menggigit akar pohon" adalah permisalan untuk tetap bertahan dalam keadaan menyendiri, sekalipun harus mati dalam keadaan demikian.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:

1. Konteks hadits

Hadits ini adalah bagian dari dialog panjang antara Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu dengan Nabi ﷺ tentang fitnah-fitnah yang akan terjadi. Hudzaifah bertanya tentang kebaikan, lalu Nabi ﷺ mengabarkan akan datangnya fitnah, kemudian Hudzaifah bertanya lagi tentang jalan keluar dari fitnah tersebut.

2. Makna "tidak menemukan khalifah"

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ketika tidak ada pemimpin yang jelas dan sah yang bisa ditaati dalam kebaikan, atau ketika pemimpin yang ada justru mengajak kepada kebatilan dan perselisihan. Dalam kondisi seperti ini, seorang muslim diperintahkan untuk menjauh.

3. Makna "larilah hingga kamu mati"

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa perintah "lari" di sini bukan berarti lari dari medan jihad atau meninggalkan kewajiban, tetapi lari dari fitnah — yaitu menjauhkan diri dari tempat-tempat yang terjadi perselisihan dan peperangan antar sesama muslim yang tidak jelas kebenarannya. Ini sejalan dengan kaidah syariat: menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat yang belum pasti.

4. Makna "menggigit akar pohon"

Imam al-Qurthubi (dalam al-Mufhim sebagaimana dinukil ulama setelahnya) menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah permisalan untuk bertahan hidup dalam keadaan paling sulit sekalipun, asalkan tidak terlibat dalam pertumpahan darah sesama muslim. Artinya: lebih baik mati dalam keadaan menyendiri dan selamat agamanya, daripada mati dalam keadaan ikut membunuh atau terbunuh dalam fitnah yang tidak jelas.

5. Makna akhir hadits tentang kuda

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam penjelasannya tentang fitnah akhir zaman menjelaskan bahwa ungkapan "kuda betina tidak sempat melahirkan hingga kiamat" menunjukkan bahwa setelah fitnah tersebut, keadaan akan berlangsung sangat lama dan semakin buruk. Ini adalah kabar tentang panjangnya masa fitnah dan bahwa kebaikan tidak akan kembali seperti semula hingga kiamat.

6. Penerapan dalam kondisi sekarang

Para ulama kontemporer dari kalangan yang kami rujuk, seperti Syaikh Shalih al-Fauzan, menjelaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami secara tekstual semata — karena ada hadits-hadits lain yang memerintahkan tetap bersama jamaah dan pemimpin. Maka yang dimaksud adalah ketika tidak ada pemimpin yang sah sama sekali, atau ketika pemimpin yang ada mengajak kepada kekufuran yang nyata. Adapun jika masih ada pemimpin muslim, maka wajib taat dalam kebaikan dan tetap bersama jamaah.

Story Telling

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah — sebagaimana diriwayatkan oleh para muridnya — pernah ditanya tentang sikap seorang muslim ketika terjadi fitnah dan perselisihan. Beliau menjawab dengan menukil hadits ini dan berkata: "Jika engkau mampu untuk tidak mengangkat pedang, maka lakukanlah. Tahanlah tanganmu dan lisanmu, dan masuklah ke rumahmu." Ini adalah penerapan langsung dari sabda Nabi ﷺ tentang lari dari fitnah.

Kisah lain: ketika terjadi fitnah besar antara Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah radhiyallahu 'anhuma, banyak sahabat dan tabi'in yang memilih mengasingkan diri, seperti Sa'd bin Abi Waqqash, Muhammad bin Maslamah, dan Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhum. Mereka lebih memilih menyendiri dan tidak ikut berperang karena melihat fitnah tersebut tidak jelas kebenarannya. Ini menjadi teladan bagi umat dalam menghadapi perselisihan internal.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi fitnah — ketika terjadi perselisihan dan peperangan antar sesama muslim yang tidak jelas kebenarannya, seorang muslim diperintahkan menjauh dan tidak ikut campur.
  2. Utamakan keselamatan agama — lebih baik mati dalam keadaan menyendiri daripada mati dalam keadaan terlibat pertumpahan darah yang haram.
  3. Tetap taat kepada pemimpin yang sah — selama masih ada khalifah/pemimpin yang sah, wajib taat dalam kebaikan dan tidak boleh memberontak.
  4. Jaga lisan dan tangan — dalam masa fitnah, hal yang paling utama adalah menahan diri dari berkata dan berbuat yang menimbulkan kerusakan.
  5. Bersabar dan berdoa — mintalah kepada Allah agar dijauhkan dari fitnah, sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah..."

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.