Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah bagian dari hadits yang lebih panjang tentang fitnah (ujian dan kekacauan) yang akan terjadi di akhir zaman. Intinya, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa setelah masa peperangan dan kekacauan yang dahsyat, akan ada masa "sisa" yang tidak bersih, seperti mata yang masih ada kotorannya, dan masa "gencatan senjata" yang tidak tulus, karena di dalam hati masih ada dendam. Ini adalah kabar tentang kondisi umat yang tidak akan kembali kepada kemurnian iman seperti masa awal Islam. Qatadah, seorang ulama tabi'in, menafsirkan bahwa masa "sisa yang kotor" ini adalah masa setelah perang Riddah (murtad) di zaman Abu Bakar, di mana masih ada sisa-sisa kemunafikan dan dendam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Al-Fitan wa Al-Malahim, Bab Dzikr Al-Fitan wa Dalailiha, no. 4245. Sanadnya: Muhammad bin Yahya bin Faris, dari Abdurrazzaq, dari Ma'mar, dari Qatadah, dari Nashr bin 'Ashim, dari Khalid bin Khalid Al-Yasykuri.
Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung membahas hadits ini, tetapi maknanya sejalan dengan firman Allah tentang keadaan manusia setelah ujian, sebagaimana dalam QS. Al-An'am [6]: 122 tentang perumpamaan orang yang mati hatinya lalu dihidupkan oleh Allah, dan QS. Al-Hadid [57]: 16 tentang hati yang keras karena jauh dari dzikir.
Teks Arab QS. Al-Hadid [57]: 16:
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Terjemahan: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diberi kitab, lalu berlalu masa yang panjang atas mereka, maka hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik."
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah bagian dari hadits panjang yang diriwayatkan oleh Khalid bin Khalid Al-Yasykuri. Dalam riwayat yang sampai kepada kita, perawi Muhammad bin Yahya bin Faris bertanya tentang kondisi setelah masa "pedang" (peperangan). Maka jawabannya adalah: "بَقِيَّةٌ عَلَى أَقْذَاءٍ وَهُدْنَةٌ عَلَى دَخَنٍ" — "Sisa (umat) yang di dalamnya ada kotoran, dan gencatan senjata yang di atasnya ada asap (kebencian)."
Para ulama menjelaskan makna lafazh-lafazh ini:
- "بَقِيَّةٌ" (sisa): Yaitu sisa umat yang masih hidup setelah fitnah besar. Mereka tidak mati semua, tetapi kondisi mereka tidak murni.
- "عَلَى أَقْذَاءٍ" (di atas kotoran mata): Kata aqdza' adalah jamak dari qadza (قَذَى), yaitu kotoran atau debu yang masuk ke mata. Ini adalah perumpamaan bahwa iman mereka tidak bersih, ada noda-noda kemunafikan, maksiat, atau kekurangan dalam ketaatan.
- "هُدْنَةٌ" (gencatan senjata): Yaitu perdamaian atau perjanjian damai, tetapi bukan perdamaian yang tulus dan langgeng.
- "عَلَى دَخَنٍ" (di atas asap): Dakhan adalah asap. Ini adalah perumpamaan untuk kebencian, dendam, dan kemunafikan yang tersembunyi di dalam hati. Seperti asap yang keluar dari api yang tidak menyala terang, demikian pula hati mereka menyimpan api kebencian meskipun secara lahiriah berdamai.
Penafsiran Qatadah:
Qatadah bin Di'amah As-Sadusi, seorang ulama tabi'in yang terkenal, menafsirkan bahwa "sisa yang kotor" ini adalah masa setelah perang Riddah (perang melawan orang-orang murtad) di zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau berkata: "Qatadah menempatkan hadits ini pada peristiwa Riddah di zaman Abu Bakar, bahwa 'ala aqdza' (ada kotoran), beliau berkata: qadza (kotoran mata), dan hudnah (gencatan senjata), beliau berkata: shulh (perdamaian), 'ala dakhan (di atas asap), yaitu di atas kedengkian (daghain)."
Ini menunjukkan bahwa setelah perang Riddah yang berhasil mempersatukan kembali Jazirah Arab di bawah kekhalifahan Abu Bakar, tetap ada sisa-sisa kemunafikan dan dendam di hati sebagian orang. Perdamaian yang terjadi bukanlah perdamaian yang murni, karena masih ada api kebencian yang tersembunyi.
Pandangan Ulama Lain:
Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan hadits-hadits fitnah, beliau menegaskan bahwa makna dakhan adalah kebencian yang tersembunyi, dan ini adalah kondisi yang sering terjadi dalam sejarah umat. Beliau juga menjelaskan bahwa hadits ini adalah bagian dari tanda-tanda kenabian, karena apa yang dikabarkan Nabi ﷺ benar-benar terjadi.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa fitnah adalah ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang tidak. Kondisi "sisa yang kotor" ini adalah peringatan agar kita tidak merasa aman dari fitnah, dan agar kita senantiasa memohon keteguhan hati kepada Allah.
Story Telling
Ada kisah yang sangat terkenal tentang keteguhan hati para sahabat dalam menghadapi fitnah. Ketika terjadi perang Riddah di zaman Abu Bakar, banyak kaum muslimin yang guncang imannya. Namun ada seorang sahabat muda yang sangat teguh, yaitu Khalid bin Al-Walid. Beliau diutus oleh Abu Bakar untuk memerangi para murtad. Dalam peperangan melawan Musailamah Al-Kadzdzab di Yamamah, banyak sahabat yang gugur, tetapi iman mereka tidak goyah. Mereka lebih memilih mati syahid daripada hidup dalam kemunafikan.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa fitnah akan selalu ada, tetapi orang yang beriman akan tetap teguh di atas kebenaran. Mereka tidak akan menukar iman mereka dengan dunia, dan mereka tidak akan berdamai dengan kebatilan meskipun harus mengorbankan jiwa.
Kesimpulan Praktis
- Waspada terhadap fitnah: Hadits ini mengingatkan kita bahwa fitnah akan terus terjadi, dan kondisi umat tidak akan selalu murni. Kita harus selalu waspada dan memohon perlindungan Allah dari fitnah.
- Jangan mudah puas dengan perdamaian lahiriah: Perdamaian yang tidak didasari keikhlasan dan kebenaran hanyalah gencatan senjata sementara. Hati yang menyimpan dendam akan meledak suatu saat.
- Perbanyak doa memohon keteguhan hati: Karena hati manusia bisa berbolak-balik, kita harus senantiasa berdoa sebagaimana doa Nabi ﷺ: "Ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
- Belajar dari sejarah: Kisah Riddah di zaman Abu Bakar mengajarkan kita bahwa setelah kekacauan, akan ada masa pembersihan. Kita harus berada di pihak yang benar, bukan di pihak yang hanya mencari keuntungan duniawi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.