Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4183 tentang Keindahan rambut dan penampilan Rasulullah ﷺ

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan keindahan fisik Rasulullah ﷺ, khususnya rambut beliau yang terurai dan panjangnya mencapai bahu. Ini adalah bagian dari sifat-sifat fisik beliau yang agung, yang diriwayatkan para sahabat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada beliau. Hadits ini juga menunjukkan bahwa memiliki rambut yang terurai dan terawat adalah hal yang baik, selama tidak berlebihan dan tidak menyerupai larangan syariat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Berhias, Bab Tentang Rambut, nomor 4183. Teks haditsnya adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الأَنْبَارِيُّ، قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنِ الْبَرَاءِ، قَالَ مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ أَحْسَنَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ زَادَ مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ لَهُ شَعْرٌ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ . قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَكَذَا رَوَاهُ إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ وَقَالَ شُعْبَةُ يَبْلُغُ شَحْمَةَ أُذُنَيْهِ .

Terjemahan: Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang memiliki rambut terurai indah dalam jubah merah lebih cantik daripada Rasulullah ﷺ." Muhammad bin Sulaiman menambahkan: "Rambutnya menyentuh bahunya." Abu Dawud berkata: "Isra'il juga meriwayatkannya dengan cara yang sama dari Abu Ishaq, mengatakan: '(rambutnya) menyentuh bahunya'." Shu'bah menambahkan: '(Rambutnya) mencapai lobus telinganya.'

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa, dari sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu. Ini menunjukkan keshahihan hadits ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah bagian dari dalil-dalil yang menggambarkan sifat fisik Nabi ﷺ yang agung. Sahabat Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu adalah seorang yang jujur dan dekat dengan Rasulullah ﷺ. Perkataannya ini muncul dari kekaguman dan kecintaannya kepada beliau.

Makna "ذِي لِمَّةٍ" (dzi limmah): Imam Ibnul Atsir dalam An-Nihayah menjelaskan bahwa limmah adalah rambut yang terurai hingga mencapai bahu atau lebih. Ini adalah model rambut yang disukai dan dianjurkan bagi laki-laki, karena itu adalah kebiasaan Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Makna "حُلَّةٍ حَمْرَاءَ" (hullah hamra'): Hullah adalah pakaian yang terdiri dari dua helai kain (atas dan bawah) yang bagus. Warna merah di sini adalah warna yang indah dan tidak dilarang untuk dipakai laki-laki selama bukan merah yang mencolok seperti mu'ashfar (kuning kemerahan dari za'faran) yang dilarang. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa memakai pakaian merah yang tidak dicelup dengan za'faran adalah boleh, dan ini adalah pendapat jumhur ulama.

Perbedaan riwayat tentang panjang rambut: Ada beberapa riwayat yang menyebutkan panjang rambut Nabi ﷺ:

  1. Menyentuh bahu (sebagaimana riwayat Abu Dawud ini).
  2. Mencapai lobus telinga (riwayat Shu'bah).
  3. Antara telinga dan bahu (riwayat lain dari Al-Bara').

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan ini bukanlah pertentangan, melainkan karena kondisi rambut beliau yang terkadang diurai dan terkadang disisir. Jika disisir, rambutnya bisa mencapai bahu; jika tidak, bisa lebih pendek. Ini menunjukkan bahwa panjang rambut beliau adalah antara telinga dan bahu, dan ini adalah kebiasaan yang paling utama.

Hikmah dari hadits ini:

  1. Kecintaan kepada Nabi ﷺ: Menggambarkan fisik beliau adalah bagian dari kecintaan dan kerinduan kepada beliau. Para sahabat sangat memperhatikan detail-detail ini karena cinta mereka yang mendalam.
  2. Adab berpakaian dan berpenampilan: Nabi ﷺ adalah teladan dalam segala hal, termasuk dalam hal penampilan. Beliau tidak pernah terlihat buruk atau tidak terawat. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan kebersihan dan kerapian dirinya.
  3. Tidak berlebihan: Meskipun rambut beliau indah, beliau tidak pernah berlebihan dalam berdandan. Beliau tetap sederhana dan tidak sombong dengan penampilannya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memakai pakaian merah bagi laki-laki, selama tidak terbuat dari sutra dan tidak mencolok. Beliau juga menegaskan bahwa menggambarkan keindahan fisik Nabi ﷺ adalah bagian dari mengikuti sunnah dalam hal kecintaan, bukan dalam hal ibadah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang masih muda ketika masuk Islam. Ia ikut serta dalam banyak peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Kecintaannya kepada Nabi ﷺ membuatnya sangat memperhatikan detail-detail kecil tentang diri beliau. Suatu hari, ia melihat Rasulullah ﷺ mengenakan pakaian merah yang indah, dengan rambut terurai menyentuh bahu. Pemandangan itu begitu membekas di hatinya sehingga ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang memiliki rambut terurai indah dalam jubah merah lebih cantik daripada Rasulullah ﷺ."

Kisah ini mengajarkan kita bahwa kecintaan sejati kepada Nabi ﷺ tidak hanya dengan lisan, tetapi juga dengan hati yang mengagumi dan menghormati beliau. Para sahabat adalah generasi terbaik karena mereka melihat langsung keindahan akhlak dan fisik beliau, dan mereka menyampaikannya kepada kita agar kita juga mencintai beliau meskipun tidak pernah bertemu.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintailah Nabi ﷺ dengan mempelajari sifat-sifatnya, baik fisik maupun akhlaknya, karena itu akan menambah kecintaan kita kepadanya.
  2. Perhatikan penampilan dan kebersihan diri, karena Nabi ﷺ adalah teladan dalam hal ini. Rambut yang terawat dan pakaian yang bersih adalah bagian dari fitrah dan sunnah.
  3. Boleh memakai pakaian merah bagi laki-laki selama tidak terbuat dari sutra dan tidak mencolok, sebagaimana dijelaskan para ulama.
  4. Jangan berlebihan dalam berdandan, karena Nabi ﷺ tetap sederhana meskipun penampilannya indah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.