Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan al-badzadzah, yaitu sikap sederhana, tidak berlebih-lebihan, dan tidak mencolok dalam berpakaian serta penampilan. Ini adalah bagian dari iman, karena menunjukkan sikap tawadhu (rendah hati) di hadapan Allah dan tidak silau dengan gemerlap dunia. Bukan berarti kita harus kumuh atau tidak merawat diri, tetapi intinya adalah menjauhi kesombongan dan pemborosan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Perawatan Diri (Bab Larangan Mengenakan Pakaian yang Berlebihan), nomor 4161, dari sahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu. Lafaz haditsnya adalah:
> "أَلَا تَسْمَعُونَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الْإِيمَانِ"
> "Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya al-badzadzah (penampilan sederhana) adalah bagian dari iman."
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Firman Allah Ta'ala:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
"Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, agar Kami menguji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
(QS. Thaha [20]: 131)
Penjelasan Ulama tentang Makna Al-Badzadzah:
Imam Al-Khattabi (walaupun tidak dalam daftar, penjelasannya dinukil oleh ulama lain) menjelaskan bahwa al-badzadzah adalah sikap tidak berlebih-lebihan dalam berpakaian dan tidak mencolok. Namun, yang lebih penting, para ulama dalam daftar kita menjelaskan makna ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa al-badzadzah yang terpuji adalah sikap sederhana yang tidak membuat seseorang menjadi bahan ejekan karena keanehan penampilannya, dan juga tidak membuatnya sombong karena kemewahannya. Beliau menekankan bahwa yang terbaik adalah mengambil jalan tengah, sebagaimana firman Allah tentang hamba-hamba-Nya yang tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dorongan untuk bersikap tawadhu' (rendah hati) dalam hal penampilan. Sahabat Abu Umamah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa saat para sahabat berbincang tentang dunia dan kemewahannya di dekat Nabi ﷺ, beliau mengingatkan mereka dengan sabda ini. Ini adalah teguran halus agar hati tidak tertambat pada kemewahan dunia.
Pemahaman Ulama dari Daftar:
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (dalam Majmu' al-Fatawa) menjelaskan bahwa al-badzadzah yang dimaksud dalam hadits ini bukanlah pakaian yang kotor atau lusuh tanpa perawatan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah pakaian yang sederhana, tidak berlebihan, dan tidak bertujuan untuk berbangga-bangga (tabarruj) atau sombong. Beliau menegaskan bahwa seorang mukmin hendaknya menjauhkan diri dari pakaian yang membuatnya terkenal karena kemewahannya (syuhrah) atau yang membuatnya rendah karena kekumuhannya.
- Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (syarah hadits-hadits jawami' al-kalim) membahas makna al-badzadzah ini. Beliau mengaitkannya dengan sikap zuhud terhadap dunia. Pakaian sederhana adalah cerminan hati yang tidak terlalu mementingkan dunia. Namun, beliau juga mengingatkan bahwa jika seseorang memakai pakaian bagus dengan niat syukur atas nikmat Allah dan untuk menutup aurat dengan baik, itu juga baik. Yang tercela adalah berlebihan hingga melampaui batas kewajaran dan menimbulkan kesombongan.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya dan kitab-kitabnya sering menjelaskan bahwa sifat tawadhu' adalah inti dari keimanan. Beliau menekankan bahwa seorang mukmin tidak silau dengan perhiasan dunia dan tidak menjadikan pakaian sebagai alat untuk merendahkan orang lain atau meninggikan diri sendiri.
Perbedaan Pendapat yang Perlu Diluruskan:
Ada sebagian orang yang salah paham dengan hadits ini, lalu sengaja memakai pakaian yang kotor, lusuh, atau tidak pantas dengan dalih badzadzah. Ini adalah pemahaman yang keliru. Para ulama meluruskan bahwa al-badzadzah yang terpuji adalah kesederhanaan, bukan kekumuhan. Islam sangat menganjurkan kebersihan dan kerapian. Bahkan, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan (HR. Muslim). Jadi, intinya adalah menjaga keseimbangan: tidak berlebihan dalam kemewahan, dan tidak meremehkan kebersihan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (yang dikenal sebagai ulama dan pemimpin yang zuhud) suatu hari memakai pakaian yang sederhana dan sudah tidak baru. Ada yang menegurnya, "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau tidak memakai pakaian yang lebih baik?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya al-badzadzah (kesederhanaan) adalah bagian dari iman." Kisah ini menunjukkan bagaimana para salaf memahami dan mengamalkan hadits ini dalam kehidupan mereka, terutama bagi seorang pemimpin yang seharusnya menjadi teladan dalam kesederhanaan, bukan dalam kemewahan.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan kesederhanaan sebagai ibadah. Saat memilih pakaian yang tidak berlebihan, niatkan untuk meneladani sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi kesombongan.
- Jaga kebersihan dan kerapian. Kesederhanaan bukan berarti kumuh. Pakaian yang bersih, rapi, dan sopan adalah bagian dari keindahan yang disukai Allah.
- Hindari berlebihan dalam berpakaian. Jangan membeli pakaian hanya untuk gengsi atau pamer. Cukupkan diri dengan yang halal dan secukupnya.
- Jadikan penampilan sebagai cermin hati. Jika hati kita tawadhu', maka penampilan kita akan sederhana. Jika hati sombong, maka penampilan akan cenderung berlebihan.
- Jangan menghina orang yang berpakaian sederhana. Bisa jadi kesederhanaannya adalah karena keimanannya yang kuat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.