Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan keadaan Nabi ﷺ di rumahnya yang sederhana, yaitu beliau bersandar pada bantal di sisi kirinya. Ini menunjukkan bahwa bersandar pada bantal atau alas yang nyaman adalah perkara yang dibolehkan dalam Islam, selama tidak berlebihan dan tidak menjerumuskan pada kemewahan yang melalaikan. Hadits ini juga mengajarkan kita tentang adab sederhana dalam kehidupan sehari-hari, bahwa menggunakan fasilitas duniawi yang halal adalah bagian dari kenikmatan yang Allah berikan, selama hati tetap terjaga.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، ح وَحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْجَرَّاحِ، عَنْ وَكِيعٍ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي بَيْتِهِ فَرَأَيْتُهُ مُتَّكِئًا عَلَى وِسَادَةٍ - زَادَ ابْنُ الْجَرَّاحِ - عَلَى يَسَارِهِ . قَالَ أَبُو دَاوُدَ رَوَاهُ إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ عَنْ إِسْرَائِيلَ أَيْضًا عَلَى يَسَارِهِ .
Terjemahan: Jabir bin Samurah berkata: "Aku masuk menemui Nabi ﷺ di rumahnya, lalu aku melihat beliau bersandar pada bantal." Perawi Ibnu al-Jarrah menambahkan: "di sisi kirinya." Abu Dawud berkata: "Ishaq bin Manshur meriwayatkannya dari Isra'il juga dengan lafaz 'di sisi kirinya'." (HR. Abu Dawud, no. 4143)
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 4143), menilai hadits ini shahih atau setidaknya hasan. Beliau menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bersandar pada bantal, dan ini bukan perbuatan yang tercela.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah bagian dari sirah Nabi ﷺ yang menggambarkan kehidupan beliau yang sederhana namun tetap menggunakan fasilitas yang halal. Berikut beberapa poin penting yang dijelaskan para ulama:
- Bolehnya Bersandar pada Bantal:
Imam Al-Khathabi (salah satu pensyarah Sunan Abi Dawud, dan termasuk ulama yang diakui dalam bidang hadits) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bersandar pada bantal. Ini adalah perkara yang mubah (boleh) selama tidak dilakukan dengan sombong atau berlebihan. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memakruhkan bersandar pada bantal karena dikhawatirkan menimbulkan sifat malas, namun pendapat yang kuat adalah boleh, karena Nabi ﷺ sendiri melakukannya.
- Kehidupan Sederhana Nabi ﷺ:
Meskipun beliau adalah pemimpin umat, rumah beliau sangat sederhana. Namun, beliau tetap menggunakan bantal untuk kenyamanan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk menikmati hal-hal yang baik dan nyaman, selama tidak melampaui batas dan tidak melalaikan ibadah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan bahwa Allah membolehkan perhiasan dan makanan yang baik, dan ini termasuk dalam firman Allah:
QS. Al-A'raf [7]: 32
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ ۚ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?' Katakanlah, 'Semuanya itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka saja) pada hari Kiamat.' Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui."
Ayat ini menegaskan bahwa kenikmatan dunia yang halal adalah untuk orang-orang beriman, dan mereka akan mendapatkannya secara penuh di akhirat. Maka, menggunakan bantal bukanlah hal yang dilarang.
- Adab Masuk Rumah Nabi ﷺ:
Hadits ini juga mengajarkan adab seorang sahabat yang masuk ke rumah Nabi ﷺ. Jabir bin Samurah masuk dan melihat keadaan beliau secara langsung. Ini menunjukkan bahwa para sahabat memiliki hubungan yang dekat dengan Nabi ﷺ, dan mereka belajar dari setiap gerak-gerik beliau, termasuk cara beliau bersandar.
- Peringatan dari Kemewahan yang Berlebihan:
Meskipun bersandar pada bantal itu boleh, para ulama seperti Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad mengingatkan bahwa kehidupan Nabi ﷺ secara umum adalah kehidupan yang jauh dari kemewahan. Beliau ﷺ sering tidur di atas tikar yang meninggalkan bekas di tubuhnya. Ini adalah pengajaran bahwa dunia ini hanyalah persinggahan, dan kita tidak boleh terlalu larut dalam kenyamanan duniawi hingga lupa akan akhirat. Namun, jika seseorang menggunakan bantal untuk kenyamanan tanpa berlebihan, itu tidaklah mengapa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khathab radhiyallahu 'anhu pernah masuk ke rumah Nabi ﷺ dan melihat bekas tikar di tubuh beliau. Umar pun menangis. Nabi ﷺ bertanya, "Mengapa engkau menangis, wahai Umar?" Umar menjawab, "Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan engkau adalah kekasih Allah dan utusan-Nya, tetapi engkau tidur di atas tikar yang meninggalkan bekas di tubuhmu, sementara raja-raja Persia dan Romawi hidup dalam kemewahan?" Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidakkah engkau rela wahai Umar, bahwa untuk mereka dunia, dan untuk kita akhirat?" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memilih kehidupan yang sederhana, bukan karena tidak mampu, tetapi karena beliau lebih mengutamakan kenikmatan akhirat. Namun, hadits Jabir bin Samurah di atas menunjukkan bahwa beliau tetap menggunakan bantal sebagai alas yang nyaman. Ini adalah keseimbangan yang diajarkan Islam: menggunakan dunia secukupnya, tetapi tidak menjadikannya tujuan utama.
Kesimpulan Praktis
- Boleh menggunakan fasilitas dunia yang halal, seperti bantal, kasur, dan lainnya, selama tidak berlebihan dan tidak melalaikan kewajiban.
- Jadikan kehidupan sederhana sebagai gaya hidup, karena itu lebih dekat kepada ketakwaan dan lebih menjaga hati dari cinta dunia.
- Teladani Nabi ﷺ dalam keseimbangan: beliau menggunakan yang nyaman, tetapi tidak pernah terikat pada kemewahan.
- Jangan menghakimi saudara kita yang menggunakan bantal atau fasilitas nyaman lainnya, karena itu adalah perkara yang mubah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.