Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat menyukai memulai dengan sisi kanan (tayamun) dalam segala perkara yang baik, seperti bersuci, menyisir rambut, memakai sandal, dan bersiwak. Ini adalah adab mulia yang menunjukkan keindahan Islam dalam hal kebersihan dan kerapian. Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya memulai dari kanan dalam perkara-perkara yang termasuk kategori baik dan mulia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, Kitab Pakaian, Bab Tentang Memakai Sandal, no. 4140. Perawi jalurnya: Hafsh bin Umar dan Muslim bin Ibrahim → Syu'bah → Al-Asy'ats bin Sulaim → dari ayahnya (Sulaim bin Aswad) → dari Masruq → dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan sisi kanan, di antaranya firman Allah:
QS. Al-Waqi'ah [56]: 27
وَأَصْحَابُ الْيَمِينِ مَا أَصْحَابُ الْيَمِينِ
"Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu."
QS. Al-Insan [76]: 5 (tentang orang-orang baik meminum dari gelas yang campurannya kafur) — menunjukkan sisi kanan sebagai lambang kebaikan dan kemuliaan.
Hadits-hadits pendukung dari kitab shahih:
- Shahih Al-Bukhari, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha: "Nabi ﷺ menyukai memulai dari kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam segala urusannya." (HR. Al-Bukhari no. 168)
- Shahih Muslim, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan tambahan siwak. (HR. Muslim no. 268)
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum:
Kata "التَّيَمُّن" (at-tayamun) berarti memulai atau mendahulukan sisi kanan. Rasulullah ﷺ menjadikan ini sebagai kebiasaan dalam perkara-perkara yang mengandung kebaikan dan kemuliaan. 'Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi yang paling mengetahui kebiasaan beliau di rumah — menyaksikan sendiri bahwa Nabi ﷺ "yuhibbu at-tayamun ma istatha'a fi sya'nihi kullihi" (menyukai memulai dari kanan sebisa mungkin dalam segala keadaannya).
Penjelasan para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini merupakan kaidah umum (qaidah) dalam adab Islam: disunnahkan memulai dari kanan dalam setiap perkara yang termasuk tahsin (memperindah) dan tathayyub (menjadikan baik), seperti bersuci, memakai pakaian, memakai sandal, menyisir rambut, bersiwak, memotong kuku, dan semisalnya. Sebaliknya, untuk perkara yang mengandung keburukan atau kotoran — seperti membersihkan hidung, istinja', melepas sandal — disunnahkan memulai dari kiri.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hikmah tayamun adalah karena sisi kanan memiliki keutamaan dan kemuliaan, sebagaimana Allah mengkhususkan golongan kanan dengan keselamatan dan keberuntungan. Beliau juga menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang sunnahnya tayamun dalam perkara-perkara yang disebutkan dalam hadits.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ konsisten dalam tayamun, dan ini termasuk kesempurnaan syariat yang memperhatikan setiap detail kehidupan, bahkan sampai cara memakai sandal. Beliau menegaskan bahwa tayamun bukan sekadar kebiasaan, tetapi ibadah yang berpahala jika diniatkan mengikuti sunnah.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa tayamun termasuk adab yang menunjukkan pengagungan terhadap sisi kanan, dan ini merupakan bagian dari kesempurnaan tauhid karena mengikuti petunjuk Nabi ﷺ dalam hal-hal kecil sekalipun.
Perbedaan riwayat:
Hadits ini memiliki beberapa jalur. Dalam riwayat Muslim bin Ibrahim (salah satu perawi dalam sanad Abu Dawud), ada tambahan "wa siwakihi" (dan bersiwaknya), sedangkan dalam riwayat lain tidak disebutkan. Imam Abu Dawud sendiri menyebutkan bahwa Mu'adh meriwayatkan dari Syu'bah tanpa menyebutkan siwak. Perbedaan ini tidak mengurangi keabsahan hadits, karena keduanya saling menguatkan dan menunjukkan bahwa tayamun berlaku juga dalam bersiwak.
Kaitan dengan bab "Memakai Sandal":
Imam Abu Dawud meletakkan hadits ini dalam bab memakai sandal untuk menunjukkan bahwa memakai sandal pun dimulai dari kanan. Ini dikuatkan oleh hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Jika salah seorang dari kalian memakai sandal, hendaklah memulai dari yang kanan, dan jika melepas, hendaklah memulai dari yang kiri. Hendaklah yang kanan dipakai lebih dahulu dan yang kiri dilepas lebih dahulu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Story Telling
Dikisahkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha — yang dikenal sangat teliti dalam memperhatikan kebiasaan Nabi ﷺ di rumah — memperhatikan bahwa Rasulullah ﷺ selalu memulai dari kanan dalam segala hal. Bahkan ketika beliau berwudhu, beliau membasuh anggota wudhu yang kanan terlebih dahulu. Ketika memakai sandal, kaki kanan lebih dahulu. Ketika menyisir rambut, beliau mulai dari sisi kanan. 'Aisyah menyampaikan ini bukan sekadar sebagai informasi, tetapi sebagai pelajaran bagi umat Islam agar meneladani adab-adab mulia Nabi ﷺ.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa para salaf sangat memperhatikan sunnah-sunnah kecil seperti ini, karena mereka memahami bahwa kesempurnaan ibadah terletak pada mengikuti Nabi ﷺ dalam setiap detail kehidupan.
Kesimpulan Praktis
- Mulailah dari kanan dalam perkara yang baik: wudhu, mandi, memakai pakaian, memakai sandal, menyisir rambut, bersiwak, memotong kuku, dan semisalnya.
- Mulailah dari kiri dalam perkara yang mengandung kotoran: istinja', membersihkan hidung, melepas sandal (mulai dari kiri).
- Niatkan sebagai ibadah — mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam hal kecil sekalipun akan bernilai pahala.
- Ajarkan kepada keluarga — sebagaimana 'Aisyah memperhatikan dan menyampaikan kebiasaan Nabi ﷺ, kita pun hendaknya mengajarkan adab ini kepada anak dan keluarga.
- Jangan meremehkan sunnah kecil — para ulama salaf sangat menjaga sunnah-sunnah seperti ini karena kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.